Empat tahun lalu, warga Palestina di Jalur Gaza menyambut Piala Dunia yang diselenggarakan di Qatar dengan sukacita. Saat itu, menonton sepak bola menjadi momen bagi keluarga, teman, serta kerabat untuk berkumpul. Semua orang di Gaza masih memiliki rumah, anggota keluarga yang masih lengkap, juga fasilitas-fasilitas umum seperti kafe dan lapangan untuk menonton Piala Dunia bersama.
Empat tahun lalu, meski kondisi Gaza sudah mengalami kesulitan, namun penduduknya masih bisa menemukan cara untuk menikmati hidup. Kondisinya sangat berbeda dengan tahun ini, ketika genosida yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun telah merenggut segalanya. Semua orang di Gaza kini telah kehilangan rumah mereka akibat pengeboman dan pengungsian. Setiap keluarga juga telah kehilangan orang-orang tercinta mereka. Bahkan, banyak keluarga terhapus sepenuhnya dari catatan sipil karena tak ada lagi anggota keluarga yang tersisa. Kafe-kafe yang dulunya ramai telah hancur, sedangkan lapangan telah berubah menjadi lautan tenda-tenda pengungsian. Kini, yang tersisa di Gaza hanyalah kehancuran, kehilangan, dan penderitaan.
Baca juga: “Ujian Tawjihi Gaza 2026: 35.000 Siswa Palestina Berjuang di Tengah Kelaparan dan Pengungsian”
Pada momen ketika seluruh dunia antusias menonton dan membahas Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, penduduk Gaza justru kehilangan gairah. Krisis makanan, air bersih, dan obat-obatan telah membuat semua orang tidak memiliki waktu untuk memikirkan pertandingan yang berlangsung. Meski beberapa orang masih memiliki minat untuk mendukung tim favorit mereka, namun pemadaman listrik dan koneksi internet yang tidak stabil telah memudarkan semangat tersebut.
Hari ini, di tengah gegap gempita dunia yang merayakan Piala Dunia 2026, penderitaan rakyat Gaza teralihkan oleh berita-berita sepak bola dan jadwal pertandingan terkini. Di antara euforia pendukung sepak bola, penduduk Gaza hanya bisa membayangkan, apabila Gaza dan Palestina mendapatkan sorotan dunia sebagaimana Piala Dunia saat ini, akankah mereka mendapat banyak dukungan sehingga penjajahan berakhir selamanya?
Pemadaman Listrik dan Internet Memadamkan Semangat Piala Dunia di Gaza

Sameeh Totah (43) menatap layar ponselnya di luar tenda daruratnya di Stadion Yarmouk. Ia menonton siaran ulang pertandingan Piala Dunia yang berlangsung malam sebelumnya. Meski ia antusias untuk menyaksikan pertandingan secara real time, namun pemadaman listrik dan internet yang terus menerus di Gaza membuatnya tidak memiliki pilihan lain.
Ia mengingat momen empat tahun lalu, ketika Piala Dunia 2022 diselenggarakan di Qatar. Saat itu, ia masih memiliki rumah di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza. Menurutnya, momen Piala Dunia kala itu menjadi waktu untuk berkumpul dan menonton bersama. Meski kondisi Gaza saat itu sudah sulit, namun ia mengaku bahwa Piala Dunia masih bisa menjadi pelarian bagi penduduk Gaza untuk melupakan sejenak kondisi mereka.
Namun pada saat ini, pemadaman listrik yang terus terjadi di Gaza, menyebabkan listrik–termasuk yang berasal dari sumber energi alternatif–menjadi sangat sulit. Selain itu harganya pun tidak terjangkau bagi sebagian besar penduduk, karena telah meningkat sepuluh kali lipat menjadi sekitar 300 shekel ($95) selama genosida.
Baca juga: “Sidang DK PBB: Israel Catat Pelanggaran Anak Tertinggi di Dunia”
Adapun sistem energi surya, harganya bahkan lebih mahal, yakni mencapai $420 per panel, serta dengan biaya tambahan baterai – sekitar $1.200 – dan inverter. Semua barang ini juga langka karena pembatasan ketat Israel terhadap masuknya barang-barang tersebut ke Jalur Gaza sejak awal genosida. Karena pilihan-pilihan alternatif tersebut membutuhkan biaya, warga Gaza yang terjebak dalam krisis ekonomi seringkali tidak mampu membeli fasilitas tersebut, membuat mereka terpaksa bertahan tanpa aliran listrik dan internet.
Kembali ke masa kini, Sameeh menyaksikan dirinya telah kehilangan rumahnya di lingkungan Zeitoun. Genosida telah membuat lingkungan rumahnya sebagai zona pengungsian paksa yang Israel tetapkan. Saat ini, ia tinggal di sebuah tenda di sekitar Stadion Yarmouk di Kota Gaza.
Bagi Sameeh, genosida tidak hanya mempersulit aktivitas menonton pertandingan, tetapi juga menghilangkan sebagian besar kegembiraan yang dulu menyertai turnamen tersebut. “Sangat sulit untuk mengikuti pertandingan seperti dulu,” katanya. “Terkadang saya menonton cuplikan setelah mengetahui hasilnya. Begitu Anda tahu skornya, kegembiraan dan antusiasme itu hilang.”

Yousef al-Nuaizi (21) juga kurang lebih merasakan hal yang sama. Pemuda Gaza ini merupakan pendukung tim nasional Portugal, dan Piala Dunia masih menjadi momen yang istimewa baginya. Namun, seperti Sameeh, ia mengakui bahwa menonton Piala Dunia dengan kondisi Gaza seperti saat ini lebih banyak membuatnya lelah dibanding bahagia.
Piala Dunia tahun ini, ia pergi bersama teman-temannya untuk mencari tempat yang menayangkan pertandingan. “Kami berjalan cukup jauh ke sebuah kafe untuk menonton pertandingan,” katanya. “Kami tiba sekitar subuh, tetapi ketika kami sampai di sana, kafe itu sudah tutup karena tidak ada listrik.” Meskipun mereka menemukan tempat untuk menonton pertandingan, mereka hanya mampu bertahan selama 40 menit sebelum kelelahan mengalahkan mereka.
Ia melanjutkan bahwa ia sangat merindukan momen Piala Dunia Qatar 2022, ketika Piala Dunia penuh dengan perayaan, bukan tantangan. “Kami punya layar besar, bendera nasional, kopi, teh, camilan, dan permen,” kenangnya. “Kami akan berkumpul bersama, menonton pertandingan, dan menikmati suasananya.”
Baca juga: “Krisis Insulin Ancam Nyawa Pasien Diabetes Gaza”
Ironisnya, Stadion Yarmouk, tempat Yousef sekarang tinggal sebagai pengungsi setelah dipaksa meninggalkan rumahnya di lingkungan Shujayea, dulunya merupakan bagian dari kenangan indah itu. Akibat genosida, banyak fasilitas olahraga dan stadion di seluruh Jalur Gaza telah beralih fungsi menjadi tempat penampungan bagi keluarga pengungsi.
Menurut laporan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), 265 fasilitas olahraga telah rusak atau hancur total akibat serangan Israel, termasuk lapangan sepak bola, pusat kebugaran, gedung klub, kolam renang, dan infrastruktur olahraga lainnya. Banyak stadion utama di Gaza terkena dampak serangan, sementara beberapa fasilitas telah diubah menjadi tempat penampungan bagi keluarga pengungsi.
“Sejujurnya, saya sudah tidak terlalu antusias lagi dengan pertandingan-pertandingan itu,” kata Yousef. “Saya kebanyakan menontonnya hanya untuk mengisi waktu. Gairah yang sesungguhnya telah hilang. Hampir semua gairah di Gaza telah lenyap setelah semua yang telah kami saksikan.”
Di Tengah Kehilangan, Warga Gaza Menemukan Cara untuk Bangkit dan Bertahan

Empat tahun lalu, Ali Tafesh (24) menonton Piala Dunia Qatar 2022 bersama teman-temannya di sebuah kafe di Gaza. Ia masih mengingat suasana meriah saat itu, sangat berbeda dengan kondisi yang sekarang ia alami. Saat ini, di tengah genosida Gaza yang masih berlangsung, Ali berada di antara ribuan penyintas genosida yang telah kehilangan anggota tubuh, termasuk para atlet.
Pada Februari 2024, beberapa bulan setelah genosida Israel dimulai, rumah keluarga Ali di lingkungan Zeitoun di timur Kota Gaza dihantam. Serangan Israel itu merenggut nyawa ibu dan saudara laki-lakinya, sementara dokter terpaksa mengamputasi salah satu kaki Ali. “Setelah kaki saya diamputasi, saya kehilangan harapan dalam hidup,” ia mengatakan.
Namun, dalam kondisi itulah ia menemukan Gaza al-Irada. Gaza Al-Irada didirikan pada Mei 2018 sebagai tim sepak bola amputasi untuk memberi kesempatan kepada orang-orang yang kehilangan anggota tubuh untuk kembali berolahraga dan berpartisipasi dalam kompetisi lokal dan internasional. Tim tersebut mencakup pemain yang cedera dalam serangan beruntun di Gaza, bersama dengan pemain lain yang kehilangan anggota tubuh dalam berbagai keadaan.
Baca juga: “Israel Sita 46.5 Hektar Lahan Palestina untuk Permukiman Ilegal”
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa antara 5.000 hingga 6.000 warga Palestina di Gaza telah kehilangan anggota tubuhnya sejak genosida Israel dimulai pada Oktober 2023. Ribuan lainnya telah kehilangan anggota tubuh dalam serangan-serangan Israel sebelumnya. Namun sejatinya apa yang mereka rasakan bukan hanya sekedar kehilangan anggota tubuh, tetapi juga kehilangan diri sendiri,
Setelah bergabung dengan Gaza al-Irada, Ali menemukan semangatnya kembali saat menyaksikan banyak atlet yang memiliki kondisi yang sama dengannya. Dengan menggunakan tongkatnya, Ali kembali ke Stadion Palestina di Kota Gaza. Meskipun serangan Israel telah mengubah stadion itu menjadi reruntuhan, bagi Ali dan rekan-rekan timnya, stadion tersebut adalah satu-satunya fasilitas olahraga yang masih dapat digunakan setelah banyak stadion hancur akibat serangan pasukan Israel.
Selain hancurnya sebagian besar fasilitas olahraga, genosida yang sedang berlangsung telah memberikan pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi olahraga Palestina di Gaza. Menurut laporan Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) pada bulan Maret 2026, 1.007 anggota komunitas olahraga di Gaza telah dibunuh oleh Israel sejak Oktober 2023, termasuk pemain, pelatih, wasit, administrator, dan pekerja dalam bidang olahraga.
Baca juga: “Biaya Perang Israel sejak 7 Oktober Capai Rp205 Miliar Dolar”
Hatem al-Mughrebi, pelatih Gaza Al-Irada, mengatakan bahwa ia melihat Piala Dunia tahun ini sebagai perayaan sepak bola global sekaligus pengingat yang menyakitkan tentang isolasi yang dialami oleh para atlet Gaza. “Realitas perang dan pengepungan telah memberikan dampak yang menghancurkan pada kondisi psikologis pemain, terutama mereka yang berada di Gaza Al-Irada, yang telah kehilangan kaki atau lengan.” “Mereka ingin merasakan turnamen seperti atlet lain di seluruh dunia, tetapi hari ini kami tidak memiliki layar, tidak ada acara, sementara pengeboman dan korban jiwa terus berlanjut setiap hari.”
Hatem mengenang Piala Dunia terakhir di Qatar, ketika delegasi olahraga dari Gaza dapat menghadiri pertandingan dan merasakan atmosfernya secara langsung. Hari ini, katanya, Gaza sama sekali tidak hadir. “Ini adalah pukulan yang menyakitkan dari komunitas internasional kepada Gaza dan para atletnya,” katanya. “Kita perlu memecah keheningan dan memberikan hak kepada atlet Palestina untuk eksis dan berpartisipasi.” “Yang kita butuhkan adalah dukungan nyata, seperti membangun kembali stadion dan fasilitas olahraga serta memberi para pemain ini kesempatan untuk melanjutkan karier mereka.”
Euforia Piala Dunia Akan Berlalu, Namun Genosida Masih Terus Berlangsung

Pada momen Piala Dunia tahun ini, dunia olahraga internasional terkesan masih memarjinalkan Palestina dari pertandingan. Pada tahun ini, Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, termasuk di antara beberapa orang yang terakreditasi untuk menghadiri Piala Dunia, namun visanya ditolak atau belum diterima dari Amerika Serikat. Rajoub mengatakan bahwa dia juga gagal mendapatkan visa untuk Kanada, yang merupakan negara tuan rumah bersama Piala Dunia. Departemen Luar Negeri AS tidak memberikan komentar langsung mengenai visa Rajoub. Akan tetapi, tahun lalu mereka menerapkan pembatasan baru terhadap pemegang paspor Palestina.
Kampanye Palestina untuk Boikot Akademik dan Budaya terhadap Israel (PACBI) juga mengkritik kebungkaman badan pengatur sepak bola internasional, FIFA, atas pembunuhan atlet Palestina dan penargetan fasilitas olahraga selama genosida di Gaza. PACBI menyatakan bahwa sebanyak 1.007 atlet Palestina telah terbunuh, termasuk 566 pemain sepak bola — setara dengan 25 tim penuh. Mereka juga melaporkan penghancuran 265 fasilitas olahraga. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan bahwa antara 5.000 hingga 6.000 warga Palestina di Gaza telah kehilangan anggota tubuhnya, termasuk para atlet.
Di tengah genosida, kehancuran, dan penjajahan yang setiap harinya terjadi di Gaza dan Palestina, Piala Dunia 2026 telah mencuri seluruh perhatian yang seharusnya penduduk Palestina dapatkan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa olahraga tetap tidak akan bisa terpisahkan dari politik. Tanpa adanya atmosfer politik yang sehat, nyaris mustahil untuk mewujudkan pertandingan olahraga yang adil bagi semua pihak yang berpartisipasi.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/gaza-watches-2026-world-cup-despite-israels-genocide
https://www.aljazeera.com/features/2026/6/23/gaza-world-cup-football-offers-escape
https://www.aljazeera.com/features/2026/3/29/living-in-the-dark-gazas-struggle-for-electricity
https://www.jpost.com/diaspora/antisemitism/article-899752
https://www.reuters.com/sports/gazans-displaced-by-war-watch-world-cup-ruins-2026-06-16/








