• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Oktober 5, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

by Adara Relief International
Agustus 21, 2026
in Artikel, Sorotan, Tema Populer
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Jenazah keluarga Abu Shari’a dan al-Hasayna saat akan dimakamkan di Kota Gaza (MEE)

43
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Pada 4 Agustus 2026, sebuah momen pemakaman massal terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya diselenggarakan di Gaza. Ratusan jenazah dijejerkan dan diselimuti bendera Palestina. Hari itu, warga Palestina memberikan penghormatan terakhir sebelum mengantarkan ratusan jenazah tersebut ke tempat peristirahatan terakhir di kawasan Zeitoun, Kota Gaza. Pemakaman massal tersebut berlangsung setelah hampir tiga tahun lamanya Tim Pertahanan Sipil Gaza berusaha mengevakuasi 112 jenazah dari keluarga Abu Shari’a dan al-Hasayna dari dalam reruntuhan.

Israel melancarkankan serangan udara pada 23 November 2023 ke lingkungan tempat tinggal keluarga Abu Shari’a dan al-Hasayna di kawasan Sabra. Serangan tersebut menghabisi nyawa lebih dari 300 orang, termasuk 44 anak-anak, 37 perempuan, dan lebih dari 10 penyandang disabilitas. Banyak di antara korban memiliki kewarganegaraan asing, seperti Rumania, Inggris, dan Amerika.  Setelah lebih dari 1.000 hari pencarian, Tim Pertahanan Sipil Gaza baru berhasil menemukan 112 jenazah dari 153 orang yang dinyatakan hilang.

Proses pemakaman tersebut di satu sisi memberikan kelegaan bagi orang-orang yang menanti kepastian kabar anggota keluarga mereka. Akan tetapi, di sisi lain, pemakaman ini membuka kembali luka lama sekaligus menggores luka baru bagi keluarga yang ditinggalkan. Luka tersebut tidak hanya dirasakan oleh keluarga Abu Shari’a dan al-Hasayna, sebab hingga kini, masih banyak keluarga di Gaza yang belum menemukan jawaban atas hilangnya orang-orang tercinta mereka.

Layaknya luka yang tak langsung diobati, warga Gaza yang menunggu kabar dari anggota keluarga mereka yang hilang hanya membiarkan luka itu terbuka, berharap luka tersebut menutup dan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Dan ketika datang kabar bahwa jenazah keluarga mereka telah ditemukan, luka tersebut terbuka kembali tanpa sempat sembuh dan mengering. Akibatnya, rasa perih kembali datang, air mata kembali mengalir deras, seolah luka itu baru mereka dapatkan kemarin, padahal luka tersebut telah melekat selama hampir tiga tahun lamanya bersama mereka.

“Keluarga Saya Menghilang dalam Sekejap”

Lara Abu Sharia yang kehilangan 14 anggota keluarganya (Aljazeera)

Sejak 3 Agustus 2026, Lara Abu Sharia (39) tidak bisa tidur. Ia mengatakan bahwa setiap ia memejamkan mata, wajah orang-orang yang ia cintai langsung muncul di hadapannya. Ia kemudian membuka ponselnya, menelusuri foto-foto kenangan bersama keluarganya. Seperti itulah ia mempersiapkan hati untuk melakukan penghormatan terakhir bagi jenazah keluarganya pada esok hari.

Ketika kantong-kantong putih berisi sisa-sisa jenazah tiba di lokasi pemakaman pada 4 Agustus 2026, Lara tidak kuasa menahan air matanya. Bagi Lara, pemakaman itu bukan hanya tentang mengucapkan selamat tinggal, melainkan juga tentang menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan hampir seluruh keluarganya.

Serangan Israel di kawasan Sabra pada November 2023 telah menghabisi nyawa 14 kerabat terdekat Lara. Di antara mereka adalah ibunya, Nawal; delapan saudara kandungnya–empat aki-laki dan empat perempuan; serta keponakan-keponakannya. Saat itu, Lara, suaminya, dan kelima anak mereka telah mengungsi ke Gaza selatan setelah Israel mengeluarkan ancaman evakuasi paksa. “Keluarga saya menghilang hampir dalam sekejap,” katanya. 

Di lokasi pemakaman, Lara masih berusaha tegar meski kerabatnya khawatir ia tidak kuat menghadapi situasi tersebut. “Saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin melihat. Sekalipun hanya tulang, saya ingin melihat apa yang tersisa dari mereka,” ujarnya sambil menatap foto orang-orang yang ia cintai. “Sampai sekarang, saya masih tidak percaya mereka semua telah tiada.” Bagi Lara, upacara tersebut mengakhiri penantian bertahun-tahun dengan menyakitkan. “Aku ingin memeluk kantong itu. Aku ingin memeluk apa pun yang tersisa dari mereka,” pungkasnya.

Ribuan Keluarga di Gaza Terhapus dari Catatan Sipil

Sami Abu Salem, satu-satunya yang selamat di antara keluarganya dari serangan Israel (QNN)

Pada awal Juni 2026, serangan Israel menargetkan apartemen-apartemen perumahan di Kota Gaza. Salah satu serangan paling mematikan menargetkan apartemen milik keluarga Labad yang terletak di barat laut Kota Gaza. Lima anggota keluarga meninggal seketika saat serangan Israel menghantam tempat tinggal mereka. Terbunuhnya Manar Ibrahim Labad, Hassan Rabah Labad, Muhammad Hassan Labad, Rahaf Hassan Labad dan Tamim Hassan Labad, serangan tersebut langsung menghapus keluarga Labad dari catatan sipil karena tak ada seorang pun anggota keluarga Labad yang tersisa.

Dalam laporan 1.000 hari genosida pada Juli 2026, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan bahwa lebih dari 2.700 keluarga Palestina telah musnah sepenuhnya. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 39.000 keluarga telah menjadi sasaran serangan langsung Israel, termasuk lebih dari 2.700 keluarga yang sepenuhnya harus dihapus dari catatan sipil setelah semua anggota keluarganya menjadi korban.

Selain itu, setidaknya 6.020 keluarga lainnya di Gaza mengalami pemusnahan hampir total, dengan hanya satu anggota yang selamat dalam setiap kasus. Ini seperti yang terjadi pada kasus Sami Abu Salem, seorang balita berusia tiga tahun yang menjadi satu-satunya penyintas setelah serangan Israel menghantam apartemen keluarganya. Serangan yang terjadi pada Agustus 2026 tersebut menghabisi nyawa ayahnya, Omar Sami Ahmed Abu Qassem; ibunya, Asmaa, dan saudara perempuannya yang berusia enam tahun, Habiba.

Saksi mata mengatakan bahwa mereka menemukan Sami merangkak di dekat pintu apartemen saat serangan terjadi. Saat itu ia berusaha melarikan diri dari kobaran api yang melahap bagian dalam apartemen keluarganya. Kini, anak yang baru berusia tiga tahun tersebut benar-benar sendirian menyandang nama keluarganya tanpa seorang pun keluarga yang tersisa.

Senjata Termal dan Termobarik Melenyapkan Jejak Korban di Gaza

Gambaran kehancuran yang diakibatkan oleh senjata Israel (Aljazeera)

Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, menggambarkan upacara pemakaman massal terbesar di Gaza sebagai momen yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Hari ini, 112 syuhada dimakamkan dalam satu upacara pemakaman untuk pertama kalinya dalam sejarah perjuangan Palestina,” katanya. 

Basal mengatakan bahwa ratusan jenazah yang dimakamkan saat itu belum seluruhnya, sebab dari 153 orang yang dinyatakan hilang, Tim Pertahanan Sipil Gaza baru berhasil mengevakuasi 112 jenazah. Selain korban pembantaian di Sabra, Basal juga mengatakan bahwa hingga saat ini diperkirakan masih ada 8.000 jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. 

Basal mengatakan operasi pemulihan masih sangat sulit karena skala kehancuran yang meluas dan kurangnya peralatan yang Tim Pertahanan Sipil butuhkan. Upaya untuk menemukan jenazah dari reruntuhan bahkan sempat terhenti pada bulan-bulan awal genosida karena tim pencarian dan penyelamatan kekurangan peralatan berat yang mereka butuhkan untuk operasi tersebut. Peralatan tersebut sebagian besar telah Israel hancurkan atau mereka blokir untuk bisa masuk ke Jalur Gaza. 

“Kami membutuhkan peralatan berat untuk memasuki Gaza agar Tim Pertahanan Sipil dapat melaksanakan misi kemanusiaan ini,” katanya. “Beberapa jenazah telah hilang. Beberapa telah lenyap. Beberapa telah hancur menjadi potongan-potongan yang sangat kecil, sehingga identifikasi menjadi sangat sulit,” tambahnya.

Selain keterbatasan alat, penggunaan senjata termal dan termobarik oleh Israel selama genosida Gaza juga mempersulit proses investigasi karena menyebabkan banyak jenazah ‘menghilang’. Menurut laporan investigasi Al Jazeera Arabic yang bertajuk “The Rest of the Story”, Tim Pertahanan Sipil di Gaza telah mencatat daftar nama 2.842 warga Palestina yang telah ‘lenyap’ sejak Oktober 2023. Mereka “pergi” tanpa meninggalkan jejak selain percikan darah atau serpihan kecil daging. 

Para ahli dan saksi mata mengaitkan fenomena ini dengan penggunaan sistematis senjata termal dan termobarik yang dilarang secara internasional. Senjata ini sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol, yang mampu menghasilkan suhu melebihi 3.500 derajat Celcius (6.332 derajat Fahrenheit). Vasily Fatigarov, seorang ahli militer Rusia, menjelaskan bahwa senjata termobarik tidak hanya membunuh, namun juga melenyapkan materi.

Dr. Munir al-Bursh, Dirjen Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, menjelaskan dampak biologis dari panas ekstrem tersebut pada tubuh manusia, yang 80 persennya adalah air. “Titik didih air adalah 100 derajat Celcius (212° F),” kata al-Bursh. “Ketika suatu tubuh terpapar energi yang melebihi 3.000 derajat yang dikombinasikan dengan tekanan dan oksidasi yang sangat besar, cairan akan mendidih seketika, jaringan akan menguap dan berubah menjadi abu. Secara kimiawi, ini tidak dapat dihindari.”

Genosida di Gaza adalah Genosida Global, Bukan Hanya Genosida Israel

Seorang perempuan Palestina menangis saat menemukan jenazah keluarganya di RS Nasser (MEE)

“Ini adalah genosida global, bukan hanya genosida Israel,” kata pengacara Diana Buttu, seorang dosen di Universitas Georgetown di Qatar. Berbicara di Forum Al Jazeera di Doha, Buttu menekankan bahwa berdasarkan hukum internasional, penggunaan senjata tanpa membedakan antara kombatan dan nonkombatan merupakan kejahatan perang. “Dunia tahu bahwa Israel memiliki dan menggunakan senjata-senjata terlarang ini,” kata Buttu. “Pertanyaannya adalah mengapa mereka dibiarkan tetap berada di luar sistem pertanggungjawaban?”

Baca Juga

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

Tragedi kemanusiaan ini meninggalkan luka mendalam yang tak berkesudahan. Sejak 7 Oktober 2023 hingga detik ini, lebih dari 8.000 jenazah masih dinyatakan hilang terkubur di bawah reruntuhan. Mereka bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan jiwa-jiwa berharga yang dirindukan oleh keluarga mereka. Hingga hari ini, orang-orang tercinta mereka masih menanti jawaban dan kepastian, merindukan kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir dan memakamkan kerabat mereka secara layak. 

Lebih dari 2.700 keluarga yang terhapus dari catatan sipil selama lebih dari 1.000 hari genosida juga bukanlah deretan angka biasa. Setiap keluarga mewariskan karakter, nilai, serta impian yang dalam sekejap dimusnahkan oleh serangan brutal Israel.Di tengah kenyataan pahit ini, kita diingatkan untuk tidak menutup mata. Setiap rupiah yang dibelanjakan pada produk-produk yang terafiliasi dengan penindas secara tidak langsung turut membiayai roda pembantaian tersebut. Oleh karena itu, jangan lengah dengan seruan boikot yang kian memudar, dan jangan lelah mengingatkan orang-orang di sekitar kita. Sebab setiap perjuangan itu berarti, dimulai dari diri kita sendiri.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

 

Sumber: 

https://www.middleeasteye.net/news/gaza-families-bury-112-people-recovered-nearly-three-years-after-israeli-strikes 

https://www.middleeasteye.net/news/israel-weapons-evaporate-palestinians-gaza-investigation 

https://www.aljazeera.com/news/2026/8/4/i-wanted-to-hug-whatever-remained-gaza-families-3-year-wait-for-funeral 

https://www.aljazeera.com/features/2026/8/3/tell-us-gaza-family-trapped-between-hope-and-pain-over-missing-brothers 

https://www.aljazeera.com/video/newsfeed/2026/1/26/israels-genocide-wiped-out-over-2700-families-in-gaza 

https://www.aljazeera.com/features/2026/2/10/israel-used-weapons-in-gaza-that-made-thousands-of-palestinians-evaporate 

https://www.aa.com.tr/en/middle-east/1-000-days-of-genocide-israel-wiped-out-over-2-700-families-destroyed-more-than-90-of-gaza/3984268 

https://www.palestinechronicle.com/new-massacre-in-gaza-city-whole-family-erased-from-civil-registry/ 

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/generation-wiped-out-gazas-children-crosshairs-genocide-enar

ShareTweetSendShare
Previous Post

Apa Itu Buffer Zone dan Mengapa Mengancam Warga Gaza?

Next Post

Adara Hadiri Peresmian Headquarters APCQP di Jakarta

Adara Relief International

Related Posts

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?
Artikel

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?

by Adara Relief International
September 29, 2026
0
32

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kata healing kerap menjadi tempat perlindungan bagi siapa saja yang sedang merasa bosan, lelah, terluka,...

Read moreDetails
Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

September 4, 2026
45
Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

September 2, 2026
579
Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

September 9, 2026
1.7k
Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Agustus 12, 2026
44
Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Juli 30, 2026
66
Next Post
Adara Hadiri Peresmian Headquarters APCQP di Jakarta

Adara Hadiri Peresmian Headquarters APCQP di Jakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Kemanusiaan Batch Dua Sahabat Adara Tiba di Nusa Tenggara Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630