• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Rabu, September 2, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

by Adara Relief International
September 2, 2026
in Artikel, Sorotan, Syariah
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian
11
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Kesalehan sering kali dipahami sebagai hubungan seseorang dengan Allah melalui salat, zikir, tilawah, atau puasa. Padahal, dalam ajaran Islam, kesalehan tidak berhenti pada kesalehan individual. Iman yang hidup akan melahirkan kepedulian kepada manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mendorong terjalinnya persaudaraan, kasih sayang, dan kepedulian di antara orang-orang beriman.

Persaudaraan itu tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa sesama muslim adalah saudara. Ia harus melahirkan perhatian dan pertolongan ketika saudara yang lain berada dalam kesulitan. Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

 مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم ، وتَرَاحُمِهِم ، وتعاطُفِهِمْ . مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kepedulian mereka adalah seperti satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan mengalami demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan tiga kata yang digunakan Rasulullah  ﷺ dalam hadis tersebut: تَرَاحُمِهِمْ، تَوَادِّهِمْ، تَعَاطُفِهِمْ yakni saling menyayangi, saling mencintai, dan saling menunjukkan kepedulian.

Dalam syarah hadis tersebut, tawādd dijelaskan sebagai hubungan yang menumbuhkan kecintaan, seperti saling mengunjungi dan memberi hadiah. Adapun ta’āṭuf mengandung makna saling membantu dan menguatkan. Dengan demikian, ukhuwah yang dikehendaki Islam bukanlah ikatan yang hanya dirasakan di dalam hati, tetapi kepedulian yang diterjemahkan menjadi pertolongan nyata.

Perumpamaan tubuh juga mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. Ketika satu anggota tubuh mengalami sakit, bagian tubuh yang lain tidak bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Rasa sakit pada satu bagian memengaruhi keseluruhan tubuh.

Karena itu, ketika keluarga-keluarga di Palestina menghadapi penderitaan dan kesulitan, kepedulian terhadap mereka dapat menjadi salah satu wujud dari ukhuwah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Membantu memenuhi kebutuhan mereka, memberikan makanan, menyisihkan sebagian harta melalui lembaga kemanusiaan yang amanah, atau bentuk pertolongan lain yang memungkinkan, merupakan cara untuk menerjemahkan rasa persaudaraan menjadi tindakan.

Hal ini sebab jika seorang mukmin adalah bagian dari tubuh yang satu, maka penderitaan yang dialami saudaranya semestinya tidak membuat hatinya tenang.

Di sinilah kita menemukan salah satu wajah kesalehan sosial Rasulullah ﷺ: semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Allah, semestinya semakin hidup pula kepeduliannya kepada sesama.

Kualitas Iman Menjadi Cermin Karakter Sosial Seseorang

Allah bahkan mengaitkan keimanan kepada hari pembalasan dengan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang lemah. Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِين

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Ayat ini menarik karena Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan pendusta agama dari sisi keyakinannya, tetapi juga dari perilaku sosialnya, yaitu melalui sikap menghardik anak yatim dan tidak peduli terhadap pemenuhan kebutuhan orang miskin.

Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa penggunaan kata kerja يُكَذِّبُ (mendustakan), يَدُعُّ (menghardik dengan kasar), dan يَحُضُّ (mendorong atau menganjurkan dengan kuat) dalam bentuk mudhari’ menunjukkan adanya perbuatan yang terus berulang dan menjadi kebiasaan. Dari sini tampak bahwa keimanan yang benar semestinya tidak hanya berada di dalam hati, tetapi lebih jauh lagi, iman membentuk karakter dan mendorong seseorang untuk terus melakukan kebaikan.

Keyakinan kita terhadap hari kebangkitan dan hari pembalasan seharusnya mampu menjadi dorongan yang menanamkan kecenderungan untuk melakukan amal-amal saleh. Pada akhirnya, kebaikan itu menjadi karakter yang mengalir tanpa harus selalu dipaksa.

Kesalehan dalam Islam bukanlah kesalehan yang berhenti pada kesibukan memperbaiki diri sendiri. Iman yang hidup seharusnya membuat seseorang peka terhadap penderitaan di sekitarnya. Ia tidak nyaman ketika melihat anak yatim diabaikan, orang miskin dibiarkan dalam kesulitan, atau sesama manusia menghadapi penderitaan tanpa pertolongan.

Di sinilah kesalehan memiliki wajah sosialnya. Dan barangkali, ketika kita berbicara tentang saudara-saudara kita di Palestina, pertanyaannya bukan sekadar apakah kita merasa sedih melihat penderitaan mereka. Pertanyaan yang lebih jauh adalah: apakah iman kita menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu?

Jangan Tunda Sedekah yang Hari Ini Bisa Kita Lakukan

Ada sedekah yang sering kita tunda karena merasa masih memiliki banyak waktu. Kita berkata, “Nanti saja,” atau menunggu sampai memiliki lebih banyak harta. Padahal, Al-Qur’an menggambarkan bahwa ketika kesempatan itu benar-benar berakhir, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Allah berfirman:

﴿وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ﴾

“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Perhatikan, ketika kematian datang, yang diminta bukan kesempatan untuk mengumpulkan lebih banyak harta, melainkan kesempatan untuk bersedekah dan menjadi bagian dari orang-orang saleh. Oleh karena itu, ketika hari ini kita masih diberi waktu, masih memiliki rezeki, dan di hadapan kita ada saudara-saudara di Palestina yang membutuhkan bantuan, jangan sampai kesempatan untuk bersedekah kembali kita tunda.

Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh keadaan di Palestina. Namun, kita dapat mengambil bagian sesuai kemampuan dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu kebutuhan pangan, kesehatan, tempat tinggal, atau kebutuhan kemanusiaan lainnya melalui lembaga yang amanah. Bagi kita mungkin jumlahnya tidak seberapa, tetapi bagi keluarga yang sedang berada dalam kesulitan, pertolongan itu dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Maka, jangan tunda sedekah. Jika hari ini Allah memperlihatkan kepada kita penderitaan saudara-saudara di Palestina, semoga kita tidak hanya tersentuh oleh beritanya, tetapi juga tergerak untuk mengambil bagian dalam meringankan beban mereka. Kesempatan untuk bersedekah adalah kesempatan yang Allah berikan pada hari ini, sebab belum tentu Allah takdirkan kita untuk berjumpa dengan hari esok.

 

Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M.Pd.
Penulis merupakan dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor

 

ShareTweetSendShare
Previous Post

WHO Peringatkan Ancaman Krisis Kesehatan Berlapis di Gaza Jelang Musim Hujan dan Dingin

Adara Relief International

Related Posts

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim
Artikel

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

by Adara Relief International
Agustus 27, 2026
0
354

Kehilangan sosok seorang ayah di usia yang sangat belia seringkali dianggap sebagai sebuah awal dari kerapuhan. Namun, dalam narasi Ilahi,...

Read moreDetails
Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Agustus 21, 2026
35
Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Agustus 12, 2026
38
Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Juli 30, 2026
62
Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Juli 28, 2026
66
Karakter Para Pejuang Hijrah

Karakter Para Pejuang Hijrah

Juli 15, 2026
1.8k

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Karakter Para Pejuang Hijrah

    Karakter Para Pejuang Hijrah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Gaza di Zaitun Nikmati Makanan Berbuka Puasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hati yang Tetap Memberi di Tengah Remuknya Kehilangan – Laporan Program Dekap Yatim Palestina Bulan Juli

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630