Kesalehan sering kali dipahami sebagai hubungan seseorang dengan Allah melalui salat, zikir, tilawah, atau puasa. Padahal, dalam ajaran Islam, kesalehan tidak berhenti pada kesalehan individual. Iman yang hidup akan melahirkan kepedulian kepada manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mendorong terjalinnya persaudaraan, kasih sayang, dan kepedulian di antara orang-orang beriman.
Persaudaraan itu tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa sesama muslim adalah saudara. Ia harus melahirkan perhatian dan pertolongan ketika saudara yang lain berada dalam kesulitan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم ، وتَرَاحُمِهِم ، وتعاطُفِهِمْ . مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kepedulian mereka adalah seperti satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan mengalami demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan tiga kata yang digunakan Rasulullah ﷺ dalam hadis tersebut: تَرَاحُمِهِمْ، تَوَادِّهِمْ، تَعَاطُفِهِمْ yakni saling menyayangi, saling mencintai, dan saling menunjukkan kepedulian.
Dalam syarah hadis tersebut, tawādd dijelaskan sebagai hubungan yang menumbuhkan kecintaan, seperti saling mengunjungi dan memberi hadiah. Adapun ta’āṭuf mengandung makna saling membantu dan menguatkan. Dengan demikian, ukhuwah yang dikehendaki Islam bukanlah ikatan yang hanya dirasakan di dalam hati, tetapi kepedulian yang diterjemahkan menjadi pertolongan nyata.
Perumpamaan tubuh juga mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. Ketika satu anggota tubuh mengalami sakit, bagian tubuh yang lain tidak bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Rasa sakit pada satu bagian memengaruhi keseluruhan tubuh.
Karena itu, ketika keluarga-keluarga di Palestina menghadapi penderitaan dan kesulitan, kepedulian terhadap mereka dapat menjadi salah satu wujud dari ukhuwah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Membantu memenuhi kebutuhan mereka, memberikan makanan, menyisihkan sebagian harta melalui lembaga kemanusiaan yang amanah, atau bentuk pertolongan lain yang memungkinkan, merupakan cara untuk menerjemahkan rasa persaudaraan menjadi tindakan.
Hal ini sebab jika seorang mukmin adalah bagian dari tubuh yang satu, maka penderitaan yang dialami saudaranya semestinya tidak membuat hatinya tenang.
Di sinilah kita menemukan salah satu wajah kesalehan sosial Rasulullah ﷺ: semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Allah, semestinya semakin hidup pula kepeduliannya kepada sesama.
Kualitas Iman Menjadi Cermin Karakter Sosial Seseorang

Allah bahkan mengaitkan keimanan kepada hari pembalasan dengan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang lemah. Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِين
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)
Ayat ini menarik karena Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan pendusta agama dari sisi keyakinannya, tetapi juga dari perilaku sosialnya, yaitu melalui sikap menghardik anak yatim dan tidak peduli terhadap pemenuhan kebutuhan orang miskin.
Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa penggunaan kata kerja يُكَذِّبُ (mendustakan), يَدُعُّ (menghardik dengan kasar), dan يَحُضُّ (mendorong atau menganjurkan dengan kuat) dalam bentuk mudhari’ menunjukkan adanya perbuatan yang terus berulang dan menjadi kebiasaan. Dari sini tampak bahwa keimanan yang benar semestinya tidak hanya berada di dalam hati, tetapi lebih jauh lagi, iman membentuk karakter dan mendorong seseorang untuk terus melakukan kebaikan.
Keyakinan kita terhadap hari kebangkitan dan hari pembalasan seharusnya mampu menjadi dorongan yang menanamkan kecenderungan untuk melakukan amal-amal saleh. Pada akhirnya, kebaikan itu menjadi karakter yang mengalir tanpa harus selalu dipaksa.
Kesalehan dalam Islam bukanlah kesalehan yang berhenti pada kesibukan memperbaiki diri sendiri. Iman yang hidup seharusnya membuat seseorang peka terhadap penderitaan di sekitarnya. Ia tidak nyaman ketika melihat anak yatim diabaikan, orang miskin dibiarkan dalam kesulitan, atau sesama manusia menghadapi penderitaan tanpa pertolongan.
Di sinilah kesalehan memiliki wajah sosialnya. Dan barangkali, ketika kita berbicara tentang saudara-saudara kita di Palestina, pertanyaannya bukan sekadar apakah kita merasa sedih melihat penderitaan mereka. Pertanyaan yang lebih jauh adalah: apakah iman kita menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu?
Jangan Tunda Sedekah yang Hari Ini Bisa Kita Lakukan

Ada sedekah yang sering kita tunda karena merasa masih memiliki banyak waktu. Kita berkata, “Nanti saja,” atau menunggu sampai memiliki lebih banyak harta. Padahal, Al-Qur’an menggambarkan bahwa ketika kesempatan itu benar-benar berakhir, yang tersisa hanyalah penyesalan.
Allah berfirman:
﴿وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ﴾
“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Perhatikan, ketika kematian datang, yang diminta bukan kesempatan untuk mengumpulkan lebih banyak harta, melainkan kesempatan untuk bersedekah dan menjadi bagian dari orang-orang saleh. Oleh karena itu, ketika hari ini kita masih diberi waktu, masih memiliki rezeki, dan di hadapan kita ada saudara-saudara di Palestina yang membutuhkan bantuan, jangan sampai kesempatan untuk bersedekah kembali kita tunda.
Mungkin kita tidak mampu mengubah seluruh keadaan di Palestina. Namun, kita dapat mengambil bagian sesuai kemampuan dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu kebutuhan pangan, kesehatan, tempat tinggal, atau kebutuhan kemanusiaan lainnya melalui lembaga yang amanah. Bagi kita mungkin jumlahnya tidak seberapa, tetapi bagi keluarga yang sedang berada dalam kesulitan, pertolongan itu dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Maka, jangan tunda sedekah. Jika hari ini Allah memperlihatkan kepada kita penderitaan saudara-saudara di Palestina, semoga kita tidak hanya tersentuh oleh beritanya, tetapi juga tergerak untuk mengambil bagian dalam meringankan beban mereka. Kesempatan untuk bersedekah adalah kesempatan yang Allah berikan pada hari ini, sebab belum tentu Allah takdirkan kita untuk berjumpa dengan hari esok.
Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M.Pd.
Penulis merupakan dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor








