Sebuah reruntuhan batu tua di Tepi Barat bukan sekadar tumpukan bebatuan — ia adalah bukti hidup bahwa Palestina ada, jauh sebelum ‘Israel’ yang dikenal dunia hari ini terbentuk. Namun kini, bahkan bukti sejarah itu pun sedang direbut.
Pada 11 Juli 2026, Palestina meluncurkan sebuah inisiatif di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk melindungi situs-situs arkeologi dari upaya perampasan oleh Israel. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Sebelumnya. pada bulan Mei, Knesset Israel mengesahkan rancangan undang-undang yang membentuk Otoritas Warisan Budaya yang akan memberikan tanggung jawab langsung kepada Israel atas barang-barang antik, situs warisan budaya, dan arkeologi di Tepi Barat, sebuah langkah yang sama artinya dengan aneksasi de facto.
Adel Attieh, delegasi tetap Palestina untuk UNESCO, mengatakan bahwa inisiatif tersebut meminta UNESCO untuk mengambil tindakan terhadap upaya Israel untuk menghapus warisan budaya Palestina di sejumlah situs arkeologi. Attieh selanjutnya menyoroti upaya Israel untuk mengubah narasi sejarah dengan mengklaim hak atas situs arkeologi Palestina.
Dengan melakukan Yahudisasi terhadap situs bersejarah Palestina, Israel telah mengabaikan fakta bahwa penduduk asli Palestina adalah keturunan bangsa Kanaan dan bangsa-bangsa lain yang keberadaannya di Palestina bersejarah jauh mendahului berdirinya “Israel” yang mereka kenal. Dengan kata lain, klaim Israel untuk mengambil alih situs arkeologi Palestina merupakan dalih mereka untuk memperluas permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) dan melancarkan pembersihan etnis terhadap penduduk Palestina.
Proyek “Taman Raja” dan “Kota Daud” Mengancam Keluarga Palestina di Silwan

Fakhri Abu Diab berdiri di tengah reruntuhan rumahnya yang telah Israel hancurkan. Dengan penuh kesedihan, ia menatap ke sudut tempat ia biasa minum teh bersama ibunya. Terletak di lingkungan al-Bustan di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) yang diduduki, rumah keluarganya telah Israel hancurkan pada tahun 2024. Rumah miliknya hanyalah satu dari puluhan rumah Palestina yang Israel hancurkan di daerah selatan Masjid Al-Aqsa. “Mereka menghancurkan masa kecilku, kenangan-kenanganku, dan bahkan aroma ibuku,” kata Abu Diab.
Al-Bustan adalah salah satu dari tiga bagian utama Silwan. Kawasan Silwan, yang terletak di selatan Kota Tua Yerusalem dan dianeksasi ke dalam batas-batas kota, adalah rumah bagi sekitar 20.000 penduduk Palestina. Lokasinya yang unik di sebelah Kota Tua dan dekat dengan Masjid al-Aqsa (yang diklaim sebagai Bukit Bait Suci oleh Israel), menempatkannya di garis depan kampanye penggusuran dan pemindahan paksa Selama beberapa dekade, Silwan dan lingkungan Palestina lainnya di sekitar Kota Tua telah menjadi pusat kampanye penghancuran dan upaya penggusuran oleh Israel.
Ketika genosida di Gaza pecah pada Oktober 2023, situasinya semakin parah. Israel mempercepat pembongkaran rumah dan pengusiran di seluruh Al-Quds bagian timur. Al-Bustan termasuk daerah paling terdampak. Menurut Ziad Ibhais, seorang peneliti yang mengkhususkan diri dalam urusan Al-Quds, Israel menghancurkan tidak lebih dari 25 rumah di Silwan antara tahun 2006 dan 2023–kira-kira satu atau dua rumah per tahun. Angka tersebut telah meningkat tajam sejak Oktober 2023.

Warga Palestina di Silwan telah menghadapi upaya penggusuran sejak daerah tersebut menjadi target perluasan permukiman setelah pendudukan Israel atas Al-Quds bagian timur pada 1967. Tak lama setelah itu, Israel memperkenalkan Undang-Undang Properti Absen yang memungkinkan pengalihan kepemilikan properti Palestina kepada pihak Yahudi di kota tersebut, sekaligus meluncurkan penggalian arkeologi di lingkungan Wadi Hilweh. Pada saat yang sama, organisasi pemukim yang didukung pemerintah Israel mulai mendorong rencana untuk mengusir warga Palestina dari Silwan guna memperluas situs wisata bertema Alkitab.
Pada 2010, Pemerintah Kota Al-Quds di bawah kepemimpinan Walikota Nir Barkat mengusulkan pembangunan taman wisata bernama Taman Raja (King’s Garden) di lahan al-Bustan, sebagai perluasan langsung dari Taman Nasional Tembok Yerusalem dan situs arkeologi Kota Daud. Situs arkeologi Kota Daud sendiri telah dikelola sejak 1990-an oleh Elad, sebuah organisasi pemukim yang secara terbuka berupaya melakukan yahudisasi di Silwan.
Sebagai rumah bagi puluhan ribu warga Palestina, Silwan terletak strategis di selatan Kota Tua Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa. Distrik ini terdiri dari 12 lingkungan yang tersebar di sekitar 6.000 dunam di lereng curam Lembah Kidron dan punggung bukit selatan Gunung Zaitun. Di antara wilayah-wilayah tersebut, Wadi Hilweh, al-Bustan, dan Batn al-Hawa selama beberapa dekade telah menjadi fokus utama penggusuran paksa yang Israel lakukan.
Di lingkungan al-Bustan, 48 rumah dihancurkan dari Oktober 2023 hingga April 2026 menyusul perintah pembongkaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Yerusalem-Israel. Empat belas di antaranya dihancurkan pada Maret-April 2026. Sebanyak 56 penduduk diusir, 20 di antaranya anak-anak. Di sepanjang jalan-jalan sempit di lingkungan itu, tumpukan puing dan rumah-rumah yang rata dengan tanah muncul setiap beberapa meter.
Menurut Tatarsky, keputusan untuk mengintensifkan pembongkaran di al-Bustan sama sekali bukan keputusan sembarangan. Lingkungan tersebut – tempat tinggal sekitar 1.500 warga Palestina – terletak strategis di antara Wadi Hilweh di utara dan barat serta Batn al-Hawa di timur, tempat sekitar 2.500 pemukim Israel tinggal di kompleks yang dijaga ketat. Tatarsky menjelaskan bahwa memindahkan warga Palestina dari al-Bustan akan membantu menciptakan kesinambungan teritorial antara kantong-kantong pemukim Israel dan menghubungkannya secara lebih lancar dengan bagian kota lainnya.
Al-Bustan juga terletak dekat dengan Garis Hijau, batas gencatan senjata tahun 1949 yang secara efektif membagi Al-Quds (Yerusalem) menjadi dua, yakni bagian barat yang menjadi wilayah Israel, dan bagian timur yang diduduki Israel. Jika al-Bustan dikosongkan dari penduduk Palestina, wilayah Al-Quds bagian barat dapat terhubung lebih langsung dengan permukiman yang didirikan di dalam Silwan.

Di Batn al-Hawa, dari Oktober 2015 hingga April 2026, 33 keluarga digusur – total 77 orang, 37 di antaranya anak-anak. Lima belas di antaranya digusur pada Maret 2026. Sekarang, 53 keluarga lainnya menghadapi penggusuran. Dari total 237 penduduk yang terdampak, 130 di antaranya adalah anak-anak. Aviv Tatarsky, seorang peneliti di organisasi hak asasi manusia Israel Ir Amim, menggambarkan situasi tersebut sebagai eskalasi yang “menghancurkan” warga Palestina.
“Dulu saya tinggal di sini bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucu saya. Kami bersepuluh tinggal di rumah ini,” kata Abu Diab. “Penderitaan bukan hanya terletak pada penghancuran rumah, tetapi juga pada penghancuran kenangan masa lalu kami, kehidupan kami, dan masa depan kami.”
Situs Bersejarah Sebastia Terancam Tergantikan menjadi “Taman Nasional Shomron”

Gereja peninggalan era Bizantium tersembunyi sebagian di bawah naungan pepohonan. Pilar-pilar Romawi menjulang di antara pohon-pohon zaitun, bahkan reruntuhan yang lebih tua pun ditumbuhi tanaman. Di sebelah barat, Laut Mediterania tampak samar-samar terlihat. Sementara itu, sebelah utara dan selatan terdapat perbukitan Tepi Barat yang diduduki.
Di kota kecil Sebastia, yang berjarak seratus meter atau kurang di sebelah timur reruntuhan, semua orang merasa sangat khawatir. Pada November 2025, Mahmud Azem, Wali Kota Sebastia, menerima pemberitahuan dari pihak berwenang Israel yang mengumumkan penyitaan seluruh situs arkeologi luas di puncak bukit di sebelah kota tersebut.
Meskipun telah ada laporan tentang proyek pemerintah Israel untuk mengembangkan lokasi tersebut selama beberapa tahun, pemberitahuan itu tetap mengejutkan. Sebagian besar dari 3.500 penduduk Palestina bergantung pada pariwisata di lokasi tersebut dan juga kebun zaitun mereka yang menjadi sandaran mata pencaharian. Rencana pengembangan situs saat ini mencakup pusat pengunjung, tempat parkir, dan pagar yang akan memisahkan reruntuhan dari bagian kota lainnya, sehingga penduduk tidak dapat mengakses reruntuhan dan kebun zaitun mereka.

Pengambilalihan lahan seluas 182 hektar (450 acre) di Sebastia merupakan pengambilalihan lahan terbesar yang pernah terjadi untuk proyek arkeologi sejak Israel menduduki Tepi Barat setelah Perang Enam Hari melawan Suriah, Mesir, dan sekutu Arab mereka pada 1967.
Para kritikus mengatakan proyek “pelestarian warisan budaya” ini adalah bagian dari gelombang perluasan permukiman Yahudi di seluruh Tepi Barat yang telah dipromosikan secara agresif dalam beberapa tahun terakhir oleh pemerintah Israel yang berkuasa. Sebagian besar area yang ditandai untuk pengambilalihan oleh Israel adalah milik pribadi, yang menurut para aktivis, merupakan tindakan berbahaya.
Proyek bernilai jutaan dolar untuk membangun kembali Sebastia didorong oleh anggota partai ultranasionalis sayap kanan Otzma Yehudit. Partai tersebut merupakan bagian dari pemerintahan Israel, yang merupakan pemerintahan ekstrem paling kanan yang pernah dimiliki Israel.
Akses baru menuju lokasi tersebut akan sepenuhnya melewati Sebastia, memungkinkan wisatawan untuk datang langsung dari Israel. Perluasan pemukiman Yahudi besar-besaran yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari lokasi tersebut juga Israel rencanakan akan segera terjadi.
Para pemimpin gerakan pemukiman di Israel menuduh Otoritas Palestina, yang menjalankan otoritas parsial atas sebagian wilayah Tepi Barat, dan perwakilan lokal di Sebastia berupaya menghapus signifikansi alkitabiah situs tersebut, dan hubungannya dengan sejarah Yahudi. Israel sekarang menyebut Tepi Barat yang diduduki dengan nama dua kerajaan zaman besi yang memerintah wilayah yang kurang lebih sama: Yudea di selatan dan Samaria, atau Shomron dalam bahasa Ibrani, di utara. Lokasi baru di Sebastia tersebut akan dikenal sebagai taman nasional Shomron, sesuai rencana Israel.
Sebuah laporan Uni Eropa pada tahun 2018 menyatakan bahwa proyek-proyek Elad di beberapa bagian Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) digunakan “sebagai alat politik untuk memodifikasi narasi sejarah sekaligus untuk mendukung, melegitimasi, serta memperluas permukiman”. Bagaimanapun, hukum internasional melarang pasukan pendudukan untuk mengembangkan atau mengganggu lokasi arkeologi. Sebastia telah terdaftar sejak tahun 2012 dalam daftar sementara situs warisan dunia UNESCO untuk Negara Palestina.
Hanya sedikit wisatawan yang mengunjungi Sebastia sejak genosida di Gaza pecah pada Oktober 2023, tetapi penduduk setempat berharap situasi akan segera pulih dan pesona Sebastia dapat kembali menyedot ratusan wisatawan setiap harinya.
Battir, Lembah Zaitun dan Anggur yang Nyaris Hilang

Di Barat Daya Al-Quds, terdapat sebuah daerah yang sangat indah dan subur yang diberi julukan oleh UNESCO sebagai “Lembah Zaitun dan Anggur”. Wilayah ini memiliki luas sekitar 7.165 dunam dengan jumlah populasi sekitar 7000 jiwa. Di tempat ini, penduduknya menanami lahan pertanian mereka dengan terong, paprika, anggur, dan pohon khas Palestina yaitu zaitun. Pertanian tersebut diairi menggunakan sistem irigasi tradisional yang usianya sudah lebih dari 3000 tahun. Battir, demikian nama wilayah tersebut.
Dahulu, pada masa Utsmani, Battir merupakan salah satu dari rangkaian panjang desa-desa kecil yang terikat erat dengan Kota Suci Al-Quds. Sekian dekade yang lalu, kereta api dari Al-Quds biasa berhenti di Battir, melewati pasar-pasar sayuran yang selalu sibuk. Akan tetapi, hubungan Battir dengan Al-Quds sengaja “diputuskan” pada 1949 akibat pembangunan “Tembok Pemisah” oleh Israel, menyebabkan Battir terisolasi dari Al-Quds dan wilayah lain di sekitarnya.
Setelah berakhirnya Perang Enam Hari pada 1967, Battir yang saat itu jumlah populasinya sekitar 1.445 jiwa, berada di bawah pendudukan Israel. Pada 1995, ditandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa Battir secara resmi akan dikelola oleh Otoritas Palestina (PA) melalui sembilan orang yang ditunjuk sebagai dewan desa. Sejak saat itu, sebanyak 23,7% dari tanah Battir diklasifikasikan sebagai Area B, sedangkan sisanya 76,3% diklasifikasikan sebagai Area C.
Hari ini, Battir terus menjadi sasaran yahudisasi Israel. Pada 2022, pemukim Israel mendirikan pos terdepan baru di Desa Battir. Hal ini memicu kekhawatiran penduduk setempat yang mencemaskan penyitaan lebih banyak lahan di desa tempat tinggal mereka. Berdasarkan pernyataan dari aktivis lokal, Hasan Muamer, pemukim Israel pertama kali berusaha untuk mendirikan pos terdepan di Battir pada malam natal 2018.
Pada 2020 dan 2021 para pemukim melakukan upaya yang sama tetapi selalu dapat diatasi oleh penduduk Battir. Menyadari bahwa para pemukim tidak akan berhenti mengganggu desa mereka, penduduk Battir sepakat untuk membentuk patroli sukarelawan dengan tujuan untuk memantau area dan melindungi desa dari gangguan.
Setahun berlalu, patroli dinilai efektif karena pemukim tidak lagi menyerang desa mereka. Namun, para pemukim seperti sangat sengaja menunggu hingga tengah malam untuk menyerang. Ketika mereka mengetahui bahwa para petugas patroli telah pulang dan desa telah lepas dari pengawasan, para pemukim datang dengan perlindungan tentara ke puncak gunung di pinggiran Battir, membuat penduduk tidak bisa melakukan perlawanan.
Sejak pos terdepan didirikan, warga Palestina tidak diizinkan masuk dalam radius satu kilometer dari daerah tersebut. Ketika penduduk menyadari apa yang terjadi, pertempuran pecah di pos terdepan. Tentara Israel menembakkan gas air mata dan bom suara ke arah penduduk yang melakukan demonstrasi.
Menurut Hasan Muamer, para pemukim yang mendirikan pos terdepan di Battir adalah pemukim yang pada 2019 juga mendirikan pos terdepan ilegal di Lembah al-Makhrour yang menghubungkan Battir dan Kota Beit Jala.
“Para pemukim ingin menghubungkan dua pos terdepan ini dan menyita ratusan hektar tanah Palestina. Para pemukim membuka jalan tanah yang menghubungkan pos terdepan baru dengan jalan beraspal yang ada di Lembah al-Makhrour, untuk memastikan akses antara dua pos terdepan. Ini semua adalah bagian dari rencana mereka, untuk memperpendek jarak antara dua pos terdepan, menyita lebih banyak tanah, dan akhirnya menghubungkan pos-pos ini ke permukiman ilegal Har Gilo, Gilo, dan Gush Etzion, menciptakan blok permukiman besar yang membentang dari Al-Quds, melalui Betlehem, sampai ke Al-Khalil (Hebron),” jelasnya.
Battir, sama seperti wilayah-wilayah lainnya di Palestina, sudah sejak lama menjadi sasaran yahudinisasi tanah yang dilakukan oleh Zionis Israel. Pertahanan dan perlawanan terus dilakukan oleh penduduknya tanpa kenal lelah. Hal ini sebab jika mereka lengah, mereka akan kehilangan tanah mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Muamer, “Kami tahu bahwa jika kami tidak segera menghentikannya (para pemukim), kami akan kehilangan tanah kami selamanya.”
Yahudisasi Membuka Luka Lama Penduduk Palestina Saat Peristiwa Nakba

Yahudisasi yang Israel lakukan baru-baru ini sebenarnya bukanlah tindakan baru. Sejak pembantaian dan penghancuran desa-desa Palestina pada 1948, hingga pendudukan dan pembangunan permukiman pada 1967, kemudian genosida saat ini di Gaza dan aneksasi Tepi Barat yang perlahan-lahan terjadi, semuanya merupakan upaya sistematis untuk melakukan pembersihan etnis di seluruh wilayah Palestina.
Proyek-proyek yang Israel lancarkan di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) mungkin memang tidak “berisik” dan terang-terangan sebagaimana yang terjadi di Gaza. Namun, bukan berarti tindakan yang Israel lakukan tidak berbahaya. Satu demi satu keluarga diusir dari desa yang menjadi rumah mereka selama bertahun-tahun. Situs demi situs kemudian diambil alih dan kehilangan identitas Palestinanya. Jika terus dibiarkan, bukan mustahil jika desa-desa Palestina yang bersejarah akan terhapus dari peta, dan sejarahnya dirombak ulang sesuai keinginan Israel.
Hingga hari ini, proyek yahudisasi Israel belum berhenti, bahkan semakin membesar. PBB dan dunia internasional belum bisa memberikan solusi nyata, namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Dalam proyek yang Israel lakukan secara senyap, justru kita yang dituntut untuk aktif. Kita dituntut untuk terus peduli, inisiatif mencari informasi, dan terus menyuarakan fakta yang sedang terjadi. Dampak dari usaha dan kepedulian kita mungkin tidak membuahkan hasil yang instan, namun masih lebih baik daripada diam. Sebab diamnya dunia atas Palestina, sama artinya dengan membiarkan yahudisasi merajalela tanpa adanya perlawanan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
https://thecradle.co/articles-id/38747
https://thecradle.co/articles-id/37770
https://www.jpost.com/israel-news/article-882118#google_vignette
https://www.btselem.org/jerusalem/202603_judaizing_jerusalem_11_palestinian_families_to_be_evicted_this_month_from_baten_al_hawa_in_silwan
Palestine between the Nakba of 1948 and the genocide, displacement, and Judaization of 2026
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-silwan-explained-history-religion-exploited-displaced
https://www.middleeasteye.net/news/new-nakba-jerusalem-israel-steps-up-silwan-demolitions-near-al-aqsa
https://english.palinfo.com/news/2026/03/11/359354/
https://www.theguardian.com/world/2026/feb/02/palestinian-uproar-israel-plan-seize-historic-site-sebastia-west-bank








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)