• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Minggu, Oktober 4, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?

by Adara Relief International
September 29, 2026
in Artikel, Sorotan, Syariah
Reading Time: 3 mins read
0 0
0
Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?
27
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kata healing kerap menjadi tempat perlindungan bagi siapa saja yang sedang merasa bosan, lelah, terluka, atau kecewa. Kita sering diajarkan untuk mencari ketenangan lewat berbagai cara, mulai dari melipir sejenak dari rutinitas, berjalan-jalan, hingga memanjakan diri.

Namun, pernahkah terlintas ke mana sebenarnya jiwa yang terluka harus bermuara ketika luka itu terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian? Islam tidak pernah melarang kita merasa sedih; justru melalui kisah para nabi, kita diajarkan bagaimana mengalirkan rasa sakit itu dengan cara yang paling indah, yaitu membawanya langsung kepada Sang Pemilik Jiwa.

Ya, para nabi pernah bersedih. Bahkan, ada seorang nabi yang kesedihannya begitu mendalam hingga matanya memutih karena terlalu banyak menangis. Beliau adalah Nabi Ya‘qub as. Al-Qur’an mengabadikan kesedihan beliau ketika kehilangan putranya, yaitu Nabi Yusuf as.:

(وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ)

“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)

Al-Qur`an Tidak Meninggalkan Sisi Emosional Seorang Nabi

Tafsir tersebut menjelaskan bahwa الأسف (al-asaf) adalah أَشَدُّ الْحُزْنِ kesedihan yang sangat mendalam. Ayat ini tidak sedang menggambarkan kesedihan yang ringan. Nabi Ya‘qub عليه السلام mengalami kesedihan yang sangat dalam karena kehilangan Nabi Yusuf.

يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ secara bahasa merupakan ungkapan seolah-olah beliau “memanggil” rasa dukanya: “Wahai dukacitaku atas Yusuf!” Jika kita perhatikan ayat ini, Allah menggambarkan beberapa keadaan yang dialami Nabi Ya‘qub as., yakni:

﴾وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ ﴿ beliau berpaling dari anak-anaknya;﴾ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ﴿ beliau mengungkapkan kembali kesedihannya terhadap Yusuf; kemudian ﴾وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ﴿ kedua matanya memutih karena kesedihan.
Para mufasir menjelaskan bahwa ketiga keadaan tersebut terjadi pada waktu yang berbeda. Artinya, kesedihan Nabi Ya‘qub bukanlah kesedihan sesaat yang segera berlalu. Ada proses yang beliau lalui, hingga kesedihan yang panjang itu bahkan berpengaruh pada penglihatannya.

Ternyata, seorang nabi pun pernah mengalami kesedihan luar biasa. Maka ketika kita sedang bersedih, kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena hati kita belum juga kembali seperti sediakala. Tidak semua kesedihan harus selesai dalam sehari. Ada luka yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih.

Menariknya, ketika anak-anak Nabi Ya‘qub melihat kesedihan ayahnya yang begitu mendalam, mereka berkata:

(تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ)

“Demi Allah, engkau akan terus mengingat Yusuf sampai engkau jatuh sakit atau termasuk orang yang binasa.” (QS. Yusuf: 85)

Mereka melihat Nabi Ya‘qub sebagai seseorang yang masih terus tenggelam dalam kesedihan. Seolah-olah, bagi mereka, mengingat Nabi Yusuf adalah sesuatu yang tidak akan membawa apa-apa lagi karena mereka mengira Nabi Yusuf telah tiada.

Namun Nabi Ya‘qub tidak menjawab bahwa dirinya tidak sedih. Beliau justru menjelaskan ke mana kesedihan itu beliau bawa.

Mengadukan Kesedihannya Hanya Kepada Allah

(إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ)

Baca Juga

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)

Perhatikan kata إِنَّمَا dalam bahasa Arab, kata ini menunjukkan pembatasan. Seakan Nabi Ya‘qub berkata, “Aku memang sedang memiliki kesusahan dan kesedihan yang berat, tetapi aku tidak membawanya ke sembarang tempat. Aku mengadukannya kepada Allah.”

Para mufasir menjelaskan bahwa البَثّ adalah kegelisahan dan kesusahan yang sangat berat, sedangkan الحُزْن adalah kesedihan atas sesuatu yang telah hilang. Keduanya berkumpul dalam diri Nabi Ya‘qub: beliau bersedih karena berpisah dengan Nabi Yusuf, sekaligus terus memikirkan bagaimana keadaan dan nasib Nabi Yusuf di tempat yang tidak ia ketahui.

Beliau bersedih, beliau menangis, beliau merasakan kehilangan, tetapi beliau tahu kepada siapa kesedihan itu harus disampaikan.

Pengaduan Kepada Allah Sebagai Bentuk Ibadah

Para mufasir menjelaskan bahwa pengaduan Nabi Ya‘qub kepada Allah tersebut bukanlah sekadar keluhan, melainkan ضَراعَةٌ atau sebuah bentuk merendahkan diri dan memohon kepada Allah. Selain itu, berdoa adalah bentuk dari ibadah.

Dengan demikian, bisa jadi inilah salah satu pelajaran penting tentang healing dalam Islam: kita tidak selalu harus memendam kesedihan, tetapi kita perlu belajar membawa kesedihan itu kepada Allah.Hal ini sebab ada perbedaan antara mengeluh kepada manusia karena merasa tidak sanggup, dengan mengadu kepada Allah karena yakin hanya Dia yang mampu mengubah keadaan.

Perlu digarisbawahi pula bahwa kesedihan Nabi Ya’qub as. tidak membuat beliau berhenti berharap. Setelah mengadukan kesedihan kepada Allah, beliau justru berkata kepada anak-anaknya:

(يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ)

“Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87)

Sebab bagi orang yang mengenal Allah, panjangnya ujian tidak berarti pertolongan-Nya menjadi mustahil.

(إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ)

“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari pertolongan Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Maka, mari belajar dari “healing”-nya Nabi Ya‘qub yang didera kesedihan luar biasa. Beliau menangis hingga matanya menjadi putih, tetapi beliau tahu ke mana harus mengadu. Kesedihan, keluh kesah, dan segala pengaduannya tidak menjauhkan beliau dari Allah. Justru semuanya beliau arahkan kepada Allah, hingga pengaduan itu menjelma menjadi doa dan ibadah.

Begitulah Al-Qur’an mengajarkan kita tentang healing. Al-Qur’an tidak pernah melarang kita untuk bersedih atau berharap agar semua luka segera hilang, tetapi memberi arah ke mana kita seharusnya membawa kesedihan itu ketika hati sedang berada di titik paling berat. Boleh jadi, kesedihan yang kita bawa kepada Allah bukan hanya menjadi sesuatu yang harus kita lewati, tetapi juga menjadi jalan yang membuat kita semakin dekat kepada-Nya.

 

Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M.Pd.
Penulis merupakan dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor

ShareTweetSendShare
Previous Post

Kesehatan Mental Anak Gaza Terancam Trauma Jangka Panjang

Next Post

Adara Palestine Situation Report 110

Adara Relief International

Related Posts

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel
Artikel

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

by Adara Relief International
September 4, 2026
0
45

Sejak mulainya genosida Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat terus meningkat. Meski lebih...

Read moreDetails
Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

September 2, 2026
492
Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

September 9, 2026
1.6k
Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Agustus 21, 2026
43
Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Agustus 12, 2026
44
Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Juli 30, 2026
66
Next Post

Adara Palestine Situation Report 110

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Kemanusiaan Batch Dua Sahabat Adara Tiba di Nusa Tenggara Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630