Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kata healing kerap menjadi tempat perlindungan bagi siapa saja yang sedang merasa bosan, lelah, terluka, atau kecewa. Kita sering diajarkan untuk mencari ketenangan lewat berbagai cara, mulai dari melipir sejenak dari rutinitas, berjalan-jalan, hingga memanjakan diri.
Namun, pernahkah terlintas ke mana sebenarnya jiwa yang terluka harus bermuara ketika luka itu terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian? Islam tidak pernah melarang kita merasa sedih; justru melalui kisah para nabi, kita diajarkan bagaimana mengalirkan rasa sakit itu dengan cara yang paling indah, yaitu membawanya langsung kepada Sang Pemilik Jiwa.
Ya, para nabi pernah bersedih. Bahkan, ada seorang nabi yang kesedihannya begitu mendalam hingga matanya memutih karena terlalu banyak menangis. Beliau adalah Nabi Ya‘qub as. Al-Qur’an mengabadikan kesedihan beliau ketika kehilangan putranya, yaitu Nabi Yusuf as.:
(وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ)
“Dan dia berpaling dari mereka seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)
Al-Qur`an Tidak Meninggalkan Sisi Emosional Seorang Nabi
Tafsir tersebut menjelaskan bahwa الأسف (al-asaf) adalah أَشَدُّ الْحُزْنِ kesedihan yang sangat mendalam. Ayat ini tidak sedang menggambarkan kesedihan yang ringan. Nabi Ya‘qub عليه السلام mengalami kesedihan yang sangat dalam karena kehilangan Nabi Yusuf.
يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ secara bahasa merupakan ungkapan seolah-olah beliau “memanggil” rasa dukanya: “Wahai dukacitaku atas Yusuf!” Jika kita perhatikan ayat ini, Allah menggambarkan beberapa keadaan yang dialami Nabi Ya‘qub as., yakni:
﴾وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ ﴿ beliau berpaling dari anak-anaknya;﴾ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ﴿ beliau mengungkapkan kembali kesedihannya terhadap Yusuf; kemudian ﴾وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ﴿ kedua matanya memutih karena kesedihan.
Para mufasir menjelaskan bahwa ketiga keadaan tersebut terjadi pada waktu yang berbeda. Artinya, kesedihan Nabi Ya‘qub bukanlah kesedihan sesaat yang segera berlalu. Ada proses yang beliau lalui, hingga kesedihan yang panjang itu bahkan berpengaruh pada penglihatannya.
Ternyata, seorang nabi pun pernah mengalami kesedihan luar biasa. Maka ketika kita sedang bersedih, kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena hati kita belum juga kembali seperti sediakala. Tidak semua kesedihan harus selesai dalam sehari. Ada luka yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih.
Menariknya, ketika anak-anak Nabi Ya‘qub melihat kesedihan ayahnya yang begitu mendalam, mereka berkata:
(تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ)
“Demi Allah, engkau akan terus mengingat Yusuf sampai engkau jatuh sakit atau termasuk orang yang binasa.” (QS. Yusuf: 85)
Mereka melihat Nabi Ya‘qub sebagai seseorang yang masih terus tenggelam dalam kesedihan. Seolah-olah, bagi mereka, mengingat Nabi Yusuf adalah sesuatu yang tidak akan membawa apa-apa lagi karena mereka mengira Nabi Yusuf telah tiada.
Namun Nabi Ya‘qub tidak menjawab bahwa dirinya tidak sedih. Beliau justru menjelaskan ke mana kesedihan itu beliau bawa.
Mengadukan Kesedihannya Hanya Kepada Allah
(إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ)
“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)
Perhatikan kata إِنَّمَا dalam bahasa Arab, kata ini menunjukkan pembatasan. Seakan Nabi Ya‘qub berkata, “Aku memang sedang memiliki kesusahan dan kesedihan yang berat, tetapi aku tidak membawanya ke sembarang tempat. Aku mengadukannya kepada Allah.”
Para mufasir menjelaskan bahwa البَثّ adalah kegelisahan dan kesusahan yang sangat berat, sedangkan الحُزْن adalah kesedihan atas sesuatu yang telah hilang. Keduanya berkumpul dalam diri Nabi Ya‘qub: beliau bersedih karena berpisah dengan Nabi Yusuf, sekaligus terus memikirkan bagaimana keadaan dan nasib Nabi Yusuf di tempat yang tidak ia ketahui.
Beliau bersedih, beliau menangis, beliau merasakan kehilangan, tetapi beliau tahu kepada siapa kesedihan itu harus disampaikan.
Pengaduan Kepada Allah Sebagai Bentuk Ibadah
Para mufasir menjelaskan bahwa pengaduan Nabi Ya‘qub kepada Allah tersebut bukanlah sekadar keluhan, melainkan ضَراعَةٌ atau sebuah bentuk merendahkan diri dan memohon kepada Allah. Selain itu, berdoa adalah bentuk dari ibadah.
Dengan demikian, bisa jadi inilah salah satu pelajaran penting tentang healing dalam Islam: kita tidak selalu harus memendam kesedihan, tetapi kita perlu belajar membawa kesedihan itu kepada Allah.Hal ini sebab ada perbedaan antara mengeluh kepada manusia karena merasa tidak sanggup, dengan mengadu kepada Allah karena yakin hanya Dia yang mampu mengubah keadaan.
Perlu digarisbawahi pula bahwa kesedihan Nabi Ya’qub as. tidak membuat beliau berhenti berharap. Setelah mengadukan kesedihan kepada Allah, beliau justru berkata kepada anak-anaknya:
(يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ)
“Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87)
Sebab bagi orang yang mengenal Allah, panjangnya ujian tidak berarti pertolongan-Nya menjadi mustahil.
(إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ)
“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari pertolongan Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Maka, mari belajar dari “healing”-nya Nabi Ya‘qub yang didera kesedihan luar biasa. Beliau menangis hingga matanya menjadi putih, tetapi beliau tahu ke mana harus mengadu. Kesedihan, keluh kesah, dan segala pengaduannya tidak menjauhkan beliau dari Allah. Justru semuanya beliau arahkan kepada Allah, hingga pengaduan itu menjelma menjadi doa dan ibadah.
Begitulah Al-Qur’an mengajarkan kita tentang healing. Al-Qur’an tidak pernah melarang kita untuk bersedih atau berharap agar semua luka segera hilang, tetapi memberi arah ke mana kita seharusnya membawa kesedihan itu ketika hati sedang berada di titik paling berat. Boleh jadi, kesedihan yang kita bawa kepada Allah bukan hanya menjadi sesuatu yang harus kita lewati, tetapi juga menjadi jalan yang membuat kita semakin dekat kepada-Nya.
Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M.Pd.
Penulis merupakan dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor







