• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, September 15, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

by Adara Relief International
September 9, 2026
in Artikel, Sorotan, Syariah
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim
924
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Kehilangan sosok seorang ayah di usia yang sangat belia seringkali dianggap sebagai sebuah awal dari kerapuhan. Namun, dalam narasi Ilahi, status sebagai seorang anak yatim justru diletakkan dalam kemuliaan yang agung. Al-Qur’an merajut sebuah cara pandang yang penuh dengan kelembutan kasih sayang Allah. Dari predikat sebagai “yatim” inilah perjalanan agung Rasulullah ﷺ bermula—sebuah perjalanan yang menjadi ruang pertama bagi turunnya pelukan perlindungan dan pemeliharaan langsung dari Sang Pencipta.

Ibn ‘Asyur menjelaskan:

واليَتِيمُ: الصَّبِيُّ الَّذِي ماتَ أبُوهُ

Yatim adalah anak yang ayahnya telah meninggal. Beliau kemudian menjelaskan bahwa ayah Rasulullah ﷺ  wafat ketika beliau masih dalam kandungan atau pada masa awal kelahirannya.

Akan tetapi yang menarik bukanlah sekadar fakta bahwa Rasulullah ﷺ adalah yatim, melainkan bagaimana dalam Quran Surah adh-Dhuha ayat 6 Allah memberikan jaminan perlindungan; 

(أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ)

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Kata فَآوَىٰ artinya adalah “lalu Dia melindungi”. Secara bahasa آوى berarti menuju, kembali, atau berlindung kepada sesuatu. Al-Raghib al-Ashfahani menjelaskan bahwa أَوَى إِلَى كَذَا berarti seseorang menuju atau berlindung kepada sesuatu. Oleh kaarena itu, ketika Allah berfirman ﴾فَآوَىٰ﴿, ayat ini tidak sekadar menggambarkan bahwa Rasulullah ﷺ  “diberi tempat”, tetapi menunjukkan adanya perlindungan dan pemeliharaan Allah terhadap beliau sejak berada dalam keadaan yatim. 

Jadi, ketika Al-Qur’an menyebut Rasulullah ﷺ sebagai yatim, narasinya tidak berhenti pada “beliau kehilangan ayah” tapi kata فَآوَىٰ (fa āwā) menunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan Rasulullah ﷺ  dalam keadaan yatim tanpa perlindungan.

Jika kita membaca perjalanan Rasulullah ﷺ  sejak kelahirannya, kita dapat merasakan rangkaian pertolongan Allah: beliau terlahir yatim, lalu dilindungi, diasuh, dipenuhi kebutuhannya, dan dipersiapkan untuk mengemban risalah. Dengan demikian, status yatim tidak menjadi akhir dari perjalanan hidupnya, tetapi menjadi bagian dari perjalanan yang berada dalam pemeliharaan Allah. 

Namun, perlu diperhatikan bahwa ketika Al-Qur’an mengingatkan Rasulullah ﷺ tentang masa kecilnya sebagai seorang yatim, pengingat itu tidak berhenti pada kisah pribadi beliau. Beberapa ayat setelahnya, Allah memberikan arahan yang bersifat sosial:

(فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ)

“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9)

 

Rasulullah ﷺ juga memberikan perhatian yang sangat besar terhadap anak yatim. Beliau mengingatkan umatnya agar menjaga hak-hak mereka, sekaligus juga memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada orang yang bersedia mengasuh dan merawat mereka.

Beliau ﷺ bersabda:

«أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ، يَعْنِي السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى»

“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti dua jari ini.”
(HR. Tirmidzi, no. 1918; al-Bukhari, no. 6005)

Rasulullah ﷺ kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya untuk menggambarkan kedekatan tersebut.

Hadis ini menunjukkan bahwa perhatian Islam kepada anak yatim tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat. Kata كَافِلُ الْيَتِيمِ (kāfil al-yatīm) menunjuk kepada orang yang mengambil tanggung jawab untuk merawat, mendidik, dan memenuhi kebutuhan anak yatim. Ia hadir dalam kehidupan mereka, menjaga mereka, dan membantu mereka tumbuh hingga mampu berdiri sendiri.

Balasan yang disebutkan Rasulullah ﷺ pun bukan “pahala yang besar”. Rasulullah ﷺ menyebutkannya dengan sangat spesifik, yakni kedekatan dengan beliau di surga. Hal ini menyiratkan bahwa dalam Islam kemuliaan itu salah satunya dapat diraih dengan menjadi seseorang yang menghadirkan perlindungan dan pengasuhan bagi anak yang kehilangan salah satu sosok penting dalam hidupnya.

Jika dalam surah Ad-Dhuha ayat 6 Allah mengingatkan Rasulullah akan perlindungan Allah terhadap beliau sebagai yatim, maka melalui hadis tersebut Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk menghadirkan semangat “فَآوَىٰ” dalam kehidupan anak-anak yatim, yaitu melindungi, merawat, dan memastikan mereka tidak tumbuh sendirian.

Dengan demikian, sosok Rasulullah ﷺ sebagai seorang yatim tidak berhenti sebagai kisah masa kecil beliau. Ia menjadi bagian dari pesan Islam yang lebih luas: ketika seorang anak kehilangan perlindungan, masyarakat tidak boleh membiarkannya kehilangan kasih sayang, pengasuhan, pendidikan, dan kesempatan untuk mereka tumbuh dengan baik.

Status Yatim Seseorang

 

Dalam Islam, status yatim tidak berlangsung seumur hidup. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ»

“Tidak ada status yatim setelah ihtilam (baligh).” (HR. Abu Dawud, no. 2873)

Baca Juga

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang anak yang kehilangan ayahnya disebut yatim selama ia masih berada dalam masa kanak-kanak. Ketika ia telah mencapai baligh, status yatim secara syariat berakhir. Dalam hadis tersebut, ihtilam disebut sebagai salah satu tanda baligh.

Namun, berakhirnya status yatim bukan berarti berakhirnya kepedulian terhadap dirinya. Yang berakhir adalah status dan ketentuan khusus yang berkaitan dengan anak yatim. Adapun berbuat baik, menjaga hubungan, membantu ketika membutuhkan, dan menghormatinya tetap merupakan bagian dari akhlak Islam.

Hal ini juga menunjukkan bahwa tujuan perhatian Islam kepada anak yatim bukan untuk membuat mereka terus bergantung, melainkan menjaga dan mendampingi mereka hingga mencapai kedewasaan dan mampu menjalani kehidupan secara mandiri.

Dari Perlindungan Menuju Kemandirian

 

Berakhirnya status yatim ketika seseorang mencapai baligh tidak serta-merta menjadikan seluruh tanggung jawab terhadapnya selesai. Al-Qur’an justru memberikan gambaran bahwa selama masa pertumbuhan, anak yatim perlu didampingi hingga mampu mengelola kehidupannya sendiri.

Allah berfirman:

(وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ)

“Ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka mencapai usia menikah. Kemudian, jika kamu telah melihat adanya kecerdasan dan kematangan dalam diri mereka, maka serahkanlah kepada mereka harta mereka.”
(QS. An-Nisa: 6)

Ayat ini berbicara secara khusus tentang harta anak yatim, tetapi di dalamnya terdapat prinsip pendidikan yang lebih luas. Anak yatim tidak dibiarkan terus berada dalam posisi sebagai pihak yang hanya menerima. Mereka dilatih, diperhatikan perkembangannya, dan dipersiapkan untuk mampu mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Namun, Al-Qur’an menyebut dua hal yang perlu diperhatikan sebelum harta diserahkan, yaitu baligh dan rusyd. Baligh menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai kedewasaan biologis, sedangkan rusyd menunjukkan adanya kematangan dan kemampuan untuk mengelola harta dengan baik.

Dengan demikian, perlindungan terhadap anak yatim dalam Islam tidak berhenti pada menyediakan kebutuhan mereka selama kecil. Ada proses yang lebih panjang: melindungi, mengasuh, mendidik, melatih, kemudian memberikan kepercayaan.

Di sinilah kita dapat melihat bahwa tujuan pengasuhan dalam Islam bukan menciptakan ketergantungan, tetapi membangun kemandirian. Anak yatim diperlakukan sebagai pribadi yang memiliki masa depan dan harus dipersiapkan untuk menjalani kehidupannya dengan kemampuan yang dimilikinya.

Oleh karena itu, perhatian terhadap anak yatim tidak semestinya berhenti pada pertanyaan, “Apa yang bisa kita berikan kepada mereka hari ini?” Lebih jauh, Islam mengajarkan kita untuk bertanya, “Bagaimana kita mendampingi mereka agar kelak mampu berdiri dan mengelola kehidupannya sendiri?”

Inilah salah satu bentuk kasih sayang yang lebih utuh: bukan sekadar memberi, tetapi mempersiapkan.

Menjadi Bagian dari “فَآوَىٰ” 

Tidak semua manusia pernah merasakan menjadi yatim sebagaimana Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari “فَآوَىٰ” dalam kehidupan seorang anak: menjadi orang yang menghadirkan rasa aman ketika ia kehilangan, menjadi tempat bertumbuh ketika ia membutuhkan pendampingan, dan menjadi tangan yang membantunya hingga mampu berdiri sendiri.

Sebab pada akhirnya, pesan Al-Qur’an bukan hanya tentang bagaimana memperlakukan anak yatim, tetapi juga tentang siapa kita ketika berhadapan dengan mereka yang membutuhkan perlindungan.


Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M.Pd.
Penulis merupakan dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor

 

ShareTweetSendShare
Previous Post

Art and Craft for Palestine: Selebrasi 1000 Karya untuk Palestina di Blok M

Next Post

Adara Palestine Situation Report 104

Adara Relief International

Related Posts

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel
Artikel

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

by Adara Relief International
September 4, 2026
0
36

Sejak mulainya genosida Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat terus meningkat. Meski lebih...

Read moreDetails
Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

September 2, 2026
69
Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Agustus 21, 2026
41
Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Agustus 12, 2026
40
Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Juli 30, 2026
64
Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Juli 28, 2026
66
Next Post
Adara Palestine Situation Report 104

Adara Palestine Situation Report 104

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Gaza di Zaitun Nikmati Makanan Berbuka Puasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karakter Para Pejuang Hijrah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hafalan yang Terus Tumbuh: Kabar Para Penghafal Palestina dari Lebanon dan Suriah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630