• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Rabu, Agustus 12, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

by Adara Relief International
Agustus 12, 2026
in Artikel, Sorotan, Tema Populer
Reading Time: 10 mins read
0 0
0
Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Seorang ibu di Gaza memeluk jenazah bayinya yang meninggal karena kekurangan gizi (MEE)

11
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, seorang bayi biasanya mendapatkan asupan makanan pertama dari sang ibunda melalui Air Susu Ibu (ASI). Akan tetapi, bayi-bayi Palestina tidak seberuntung itu. Genosida, ledakan dan tembakan, penghancuran rumah, krisis kelaparan, dan situasi tidak kondusif lainnya telah membuat para ibu di Palestina tidak bisa menyusui bayi-bayi mereka. Banyak juga bayi yang harus bertahan hidup sendirian, sebab ibu mereka telah menjadi korban mesin pembunuh Zionis. Kondisi tersebut telah membuat bayi-bayi Palestina lebih dulu merasakan darah, air mata, dan residu senjata, bahkan sebelum mereka sempat merasakan air susu ibu mereka sendiri.

Setiap tahun, pekan pertama di bulan Agustus diperuntukkan khusus bagi perempuan, terutama yang telah menjadi seorang ibu. Pada 1–7 Agustus, dunia memperingati “Pekan Menyusui Sedunia” sebagai bentuk dukungan bagi para ibu di seluruh dunia. Tahun ini, WHO mengusung tema “Breastfeeding for a sustainable start in life: strengthen what works”. Slogan ini menyerukan kepada seluruh pihak mulai dari pemerintah, sistem kesehatan, tempat kerja, masyarakat sipil, dan keluarga untuk memperkuat “rantai dukungan hangat” untuk para ibu menyusui.

UNICEF dan WHO menyebutkan bahwa metode pemberian nutrisi yang paling alami dan penting bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). ASI menyimpan kandungan nutrisi yang lengkap untuk menopang awal kehidupan dan memastikan pertumbuhan anak yang sehat. Oleh sebab itu, edukasi mengenai pentingnya pemberian ASI tidak hanya menjadi kewajiban perempuan, tetapi juga menuntut kepedulian dari seluruh pihak, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Ketika dunia mengampanyekan pentingnya rantai dukungan menyusui, para ibu di Palestina justru menghadapi kenyataan yang memilukan. Mereka harus berjuang di tengah situasi yang merenggut hak dasar mereka untuk memberikan ASI bagi sang buah hati. Di Gaza, krisis kemanusiaan parah membuat para ibu menderita kekurangan gizi akut, menghadapi runtuhnya sistem layanan kesehatan, serta didera stres dan trauma berat yang menghambat produksi ASI.  Sementara itu, di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem), pos-pos pemeriksaan telah menghalangi para ibu untuk menjangkau fasilitas kesehatan, ditambah dengan penghancuran rumah yang merenggut rasa mereka dan keluarga.

Tahun ini, Pekan Menyusui Sedunia hadir sebagai peringatan akan kondisi perempuan Palestina yang sangat tidak kondusif untuk menyusui bayi-bayi mereka. Kondisi ini tidak bisa dipandang sebelah mata, sebab masalah dalam pemberian ASI tidak hanya memengaruhi pertumbuhan seorang anak, tetapi juga akan memengaruhi generasi-generasi setelahnya.

Baca Juga

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Di Tengah Krisis Kelaparan, Para Ibu di Gaza Tak Bisa Menyusui Bayi Mereka

Seorang ibu di Gaza membawa bayinya yang baru lahir ke tempat perlindungan yang telah hancur (Aljazeera)

“Kami merasa sesak. Dulu berat badan saya mencapai 70 kg, namun sekarang hanya 53 kg. Saya dan anak saya menderita malnutrisi. Kami lupa apa itu makanan bergizi, anak saya bahkan tidak pernah merasakannya. Anak perempuan saya berusia satu tahun, tapi dia tidak terlihat seperti anak seusianya! Dia belum bisa merangkak, berjalan, atau bahkan duduk tegak. Mengapa itu bisa terjadi? Karena malnutrisi!”

Radwa, seorang ibu dari lima anak dari Gaza, mengatakan kalimat tersebut saat sesi wawancara bersama tim Save the Children. Sama seperti banyak ibu lainnya di Gaza, Radwa kesulitan memberikan ASI bagi putrinya karena blokade telah menghalangi masuknya makanan ke Jalur Gaza. Akibatnya, nyaris seluruh penduduk Gaza menderita malnutrisi, terutama perempuan dan anak-anak.

Pada Juni 2024, PBB menemukan bahwa, “di antara rumah tangga dengan ibu menyusui, 55 persen melaporkan kondisi kesehatan yang menghambat kemampuan mereka untuk menyusui dan 99 persen melaporkan kesulitan menghasilkan ASI yang cukup.” Salah satu faktor yang menyebabkan sulitnya para ibu untuk memproduksi ASI adalah karena tidak adanya makanan bernutrisi akibat blokade ketat yang Israel berlakukan. 

Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) baru-baru ini memperingatkan bahwa sekitar 67 persen penduduk Gaza–diperkirakan 1,4 juta orang–menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang kritis atau lebih buruk hingga Desember 2026. IPC memperkirakan bahwa hampir 25.000 perempuan hamil dan menyusui akan membutuhkan dukungan nutrisi mendesak selama tahun-tahun mendatang. Dr. Adnan Radi, kepala komite penasihat kementerian dan konsultan senior di bidang obstetri dan ginekologi menyebutkan bahwa sekitar 70 persen perempuan hamil di Gaza menderita anemia berat, yang diperparah oleh kekurangan gizi yang meluas. 

Dengan tingkat pengangguran melebihi 80 persen dan kemiskinan mendekati 100 persen, menurut Bank Dunia, sebagian besar keluarga di Gaza hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan makanan, yang sebagian besar terdiri dari beras, kacang-kacangan, lentil, pasta, dan daging kalengan. Sayangnya, pasokan bantuan sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga utuh. Dampak terburuk dari krisis ini harus ditanggung oleh para bayi. Karena tubuh yang kekurangan gizi tidak mampu memproduksi ASI, para ibu di Gaza dihadapkan pada pilihan yang menyayat hati.

Baca juga: Kisah Zaid Nofal, Bayi Gaza yang Terbunuh Setelah Tiga Kakaknya Gugur

Demi menyelamatkan bayi mereka dari ancaman kelaparan ekstrem, mereka terpaksa memberikan makanan yang tidak sesuai dengan usia bayi, seperti sup lentil atau nasi. Alih-alih mendapatkan nutrisi, keputusan darurat ini justru memicu gelombang masalah kesehatan baru bagi bayi, mulai dari sembelit parah, muntah, hingga berbagai infeksi pencernaan.

Dokter Adnan Radi juga memperingatkan bahaya penyakit menular, air yang tercemar, sanitasi yang buruk, dan paparan debu beracun yang dihasilkan oleh ribuan ton bahan peledak yang dijatuhkan oleh militer Israel. Ia menambahkan bahwa residu beracun dari pengeboman dapat memiliki efek jangka panjang pada generasi mendatang dengan mengubah lanskap genetik. 

Hal senada diungkapkan oleh Sandra Adler Killen, seorang perawat gawat darurat dan pediatrik serta konsultan laktasi bersertifikasi internasional. Menurutnya, status kesehatan para ibu terus menurun, sementara kesehatan bayi-bayi terus terdampak oleh kekurangan makanan, kekurangan air bersih, kondisi tidak aman di rumah mereka, dan ketidakmampuan untuk datang ke klinik dan rumah sakit demi mendapatkan perawatan tepat waktu.

Killen merupakan tenaga medis yang bekerja dengan organisasi solidaritas medis Glia dan berkolaborasi dengan Gaza Infant Nutrition Alliance, sebuah kelompok yang berbasis di Skotlandia yang fokus pada dukungan pemberian ASI. Salah satu kasus yang pernah ia tangani adalah seorang ibu yang selamat dari serangan udara di gedung tempat dia tinggal.

“Dia terluka akibat pecahan peluru di wajahnya, lengannya, dan di dadanya. Salah satu pecahan peluru tersebut memutus salah satu saluran susunya, dan dia mengalami kebocoran ASI,” kata Killen. “Jadi, ibu ini datang dengan luka yang terinfeksi. Kemudian saya membersihkan dan merawat lukanya. Dia sangat khawatir tentang penyerapan timbal dari senjata ke dalam ASI-nya, dan kebingungan apakah ASI-nya masih aman untuk dikonsumsi.” Killen menambahkan bahwa terdapat luka yang cukup besar di payudara kiri ibu tersebut. Menghadapi realitas kemanusiaan yang teramat kelam ini, Killen melontarkan sebuah pertanyaan reflektif, “Di tempat mana di dunia ini kita pernah melihat hal seperti itu terjadi?” 

Genosida telah menciptakan kondisi yang sangat berat bagi ibu menyusui di Gaza. Rangkaian serangan brutal, trauma psikologis yang mendalam, pengungsian berkepanjangan, serta bayang-bayang kelaparan akut telah melebur menjadi satu, menjadikan upaya sederhana seorang ibu untuk merawat dan menyusui bayinya dengan aman sebagai sebuah kemustahilan yang harus diperjuangkan dengan pertaruhan nyawa setiap harinya. 

Para Ibu di Tepi Barat Kehilangan Bayinya Sebelum Menyusui untuk Pertama Kali

Seorang ibu berduka di atas reruntuhan rumahnya yang Israel hancurkan di Tepi Barat (TRT World)

Di Tepi Barat, kondisi perempuan Palestina tidak lebih baik. Baru-baru ini, pada Juli 2026, seorang ibu Palestina bahkan telah kehilangan bayinya sebelum sempat memeluk dan menyusuinya untuk pertama kali. Ruqayya Rabai yang saat itu tengah menunggu momen kelahiran bayinya, harus kehilangan sang anak selamanya akibat serangan pemukim kolonial Israel.

Ruqayya kehilangan janinnya setelah para pemukim ilegal Israel melemparkan batu ke rumahnya di Desa Al-Tuwani di Tepi Barat bagian selatan sebelum membakarnya. Mereka juga membakar masjid desa dan beberapa rumah lainnya. Serangan tersebut mengakibatkan Ruqayya mengalami guncangan dan ketakutan yang hebat. Ruqayya segera dibawa ke rumah sakit, tetapi kondisinya memburuk. Setelah mendapatkan perawatan, nyawanya terselamatkan, namun dokter menyampaikan bahwa dia telah kehilangan bayinya yang belum lahir akibat syok dan ketakutan. 

Dalam kasus yang berbeda, seorang ibu juga kehilangan bayinya setelah pasukan Israel menunda evakuasinya ke rumah sakit melalui pos pemeriksaan Awarta, di selatan Nablus, Tepi Barat. Paramedis Bashar al-Qaryuti memaparkan bahwa perempuan yang tengah mengandung enam bulan tersebut mengalami pendarahan hebat dan membutuhkan pertolongan medis segera. Namun, aparat keamanan tetap memaksanya untuk menjalani pemeriksaan di pos militer, sementara ambulans yang membawa pasien dilarang melintas dan kru medisnya ditahan.

Situasi bertambah genting ketika para tentara memaksa pengemudi ambulans untuk mematikan mesin kendaraan, yang secara otomatis melumpuhkan fungsi seluruh peralatan medis penyelamat nyawa di dalamnya. Penahanan sewenang-wenang tersebut berlangsung hingga lebih dari setengah jam lamanya sebelum akhirnya izin melintas diberikan. Walaupun tim dokter di rumah sakit pada akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa sang ibu, janin yang dikandungnya tidak dapat diselamatkan akibat keterlambatan penanganan.

Sejak awal agresi Gaza pada 2023, Israel juga telah mengintensifkan serangan di Tepi Barat. Menurut Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman, pemukim ilegal Israel melakukan 3.488 serangan terhadap warga Palestina dan harta benda mereka selama paruh pertama tahun ini. Sementara itu, data resmi Palestina menunjukkan bahwa Israel telah merenggut nyawa sedikitnya 1.181 warga, melukai 13.000 orang lainnya, serta menangkap hampir 24.000 jiwa. 

Baca juga: Yahya Nasman, Pelajar Gaza yang Terbunuh Sepekan Sebelum Hasil Ujian Diumumkan

Dari puluhan ribu tawanan yang mendekam di balik jeruji besi, sebanyak 94 orang di antaranya adalah perempuan yang ditahan di Penjara Damon. Tragisnya, tiga orang di antara para tawanan perempuan tersebut ditangkap dan dipenjarakan dalam kondisi tengah mengandung, yaitu Amina al-Taweel, Dana Jouda, dan Manar Ibrahim. Hal ini memperlihatkan betapa rentannya keselamatan perempuan dan ibu di bawah cengkeraman pendudukan. 

Klub Tawanan menyatakan bahwa kondisi perempuan tawanan telah memburuk tajam akibat Layanan Penjara Israel (IPS) menerapkan tindakan yang semakin menghukum. “Beberapa tawanan yang sedang hamil telah menjadi sasaran interogasi yang kejam. Selain itu, sel yang ditempati tidak memiliki standar kebersihan,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan. 

Mereka juga menambahkan bahwa perempuan tawanan Palestina, termasuk mereka yang sedang hamil, menjadi sasaran pelecehan. Tubuh mereka ditelanjangi dan digeledah.

Manar Ibrahim baru saja mengetahui bahwa ia sedang hamil dua bulan, hanya satu hari sebelum penangkapannya. Pasukan Israel menangkapnya saat malam hari, ketika suami dan dua anaknya yang berusia 5 dan 4 tahun masih tertidur. Israel mengatakan mereka menangkap Manar karena dicurigai melakukan penghasutan berdasarkan unggahan di media sosial.

Pada saat mereka seharusnya bersukacita menebak-nebak jenis kelamin anak ketiga mereka, menyiapkan nama dan peralatan bayi, serta menyusun rencana kelahiran, Manar dan keluarganya justru harus menghadapi ketakutan dan kecemasan. Dalam pesan yang disampaikan melalui pengacaranya, Manar memberitahu keluarganya bahwa dia terpaksa tidur di lantai sejak penangkapannya karena kondisi Penjara Damon yang sangat padat. Akibatnya, ia  menderita sakit di sekujur tubuhnya. 

Dana Joudah yang berasal dari Nablus juga ditangkap oleh Israel dalam kondisi hamil, saat itu usia kandungannya lima bulan. Ibunya mengatakan bahwa Joudah baru saja menjalani operasi bypass lambung beberapa bulan sebelum penangkapannya. Pada awal penahanannya, Dana dipindahkan ke pusat penahanan Hasharon yang terkenal kejam. Di sana, para perempuan tawanan dilecehkan dengan penggeledahan tubuh secara paksa dan ditolak aksesnya terhadap kebutuhan dasar. 

Selama penahanannya, Joudah mengalami pingsan dan dehidrasi, namun menurut keluarga, pihak berwenang penjara tidak memberikan perawatan medis yang layak meskipun ia sedang hamil dan baru saja menjalani operasi. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran keluarganya akan kondisi Joudah dan janin yang dikandungnya.

Sementara itu, Amina Al-Taweel baru saja dibebaskan pada pertengahan Juli lalu setelah empat bulan ditahan. Sebelumnya, Ibu empat anak berusia 37 tahun itu ditangkap ketika usia kandungannya empat bulan karena tuduhan penghasutan. Meskipun kini ia telah dibebaskan, namun dua tawanan lain yang sedang hamil masih diliputi kekhawatiran akan kelahiran bayi mereka dan bagaimana mereka bisa memberikan ASI di tengah kondisi yang buruk di penjara.

Abai terhadap Permasalahan ASI Berarti Mengamini Genosida Reproduksi

Seorang ibu di Gaza melahirkan di fasilitas kesehatan seadanya karena runtuhnya layanan kesehatan (Aljazeera)

Seorang ahli geografi Israel, Arnon Soffer, pernah mengatakan bahwa “ancaman paling serius yang dihadapi Israel adalah rahim perempuan Arab.” Ia berpendapat bahwa angka kelahiran warga Palestina membahayakan keamanan nasional Israel. Golda Meir, perdana menteri Israel (1969–1974), juga menyatakan bahwa mimpi buruknya berasal dari kesadaran bahwa “anak Palestina lainnya akan lahir”. 

Ketakutan Israel akan hadirnya generasi-generasi penerus Palestina telah mendorong mereka untuk melakukan “genosida reproduksi”. Melalui serangan terus-menerus, kelaparan yang disengaja, dan kontaminasi dari alat peledak dan persenjataan, Israel membuat Palestina menjadi tempat yang tidak aman bagi perempuan hamil dan menyusui. Akibatnya, angka keguguran melonjak, kelahiran prematur serta cacat lahir juga meningkat, dan tentunya jumlah ibu yang bisa memberikan ASI untuk bayi mereka semakin berkurang.

Kondisi yang menimpa perempuan hamil di Palestina menjadi tamparan bagi dunia, terlebih pada momen Pekan Menyusui Sedunia tahun ini. Perjalanan panjang menyusui yang seharusnya menjadi momen indah serta mempererat ikatan antara orang tua dan buah hati, di Palestina justru berubah menjadi teror berkepanjangan dan trauma mendalam bagi para ibu yang bahkan harus kehilangan bayinya sebelum sempat meneteskan air susu pertama 

Pada Pekan ASI Sedunia tahun ini, kita kembali diingatkan bahwa proses menyusui tidak dilalui oleh ibu saja. Proses tersebut sangat membutuhkan dukungan, mulai dari keterlibatan anggota keluarga, makanan yang bernutrisi, fasilitas kesehatan yang memadai, serta lingkungan yang aman dan suportif. Mewujudkan hal tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemegang kebijakan hingga warga sipil.

Selama hak-hak dasar dan keamanan tersebut belum bisa didapatkan oleh para perempuan di Palestina, kita selaku warga dunia yang peduli terhadap hak-hak perempuan turut bertanggung jawab atas permasalahan yang menimpa generasi Palestina di masa kini, maupun di masa mendatang.

Baca juga: Adara Ajak Masyarakat Berkarya untuk Al-Aqsa dan Palestina melalui Art & Craft for Palestine

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

 

Sumber:

Serhatlioğlu, S., Abdullatif, S.S.J., Apak, H. et al. Breastfeeding in the shadow of war: a qualitative study on the experiences of Palestinian women. Int Breastfeed J 21, 71 (2026). https://doi.org/10.1186/s13006-026-00845-6 

Elsous, A., alhawajri, eman, askari, ezat, abu shawish, seham, samour, raghad ., & hooso, hadeel. (2026). BREASTFEEDING AND WEANING UNDER WAR AND SIEGE: MOTHERS’ KNOWLEDGE, PRACTICES AND BARRIERS IN GAZA STRIP. Indonesian Journal of Community Health Nursing, 11(2), 133–139. https://doi.org/10.20473/ijchn.v11i2.80414 

https://www.middleeasteye.net/news/pregnant-and-imprisoned-palestinian-women-face-harsh-conditions-israeli-jails

https://www.middleeasteye.net/news/war-caused-miscarriages-soar-gaza-amid-israeli-bombing-and-siege

https://www.middleeasteye.net/news/israel-carrying-out-reproductive-genocide-against-palestinians

https://www.aljazeera.com/features/2026/4/30/rise-in-caesarean-section-births-in-gaza-brings-danger-and-infection-risks

https://www.aljazeera.com/features/2026/4/22/gazas-unseen-casualties-a-surge-in-stillbirths-and-birth-defects

SavetheChildrenInternational/videos/radwa-a-mother-from-gaza-struggled-to-breastfeed-naturally-after-surgerysave-the/1392384346321826/ 

https://www.savethechildren.net/news/world-breastfeeding-week-hunger-and-hardship-undermine-breastfeeding-gaza

https://www.who.int/campaigns/world-breastfeeding-week/2026#:~:text=The%202026%20theme%20for%20the,approaches%20that%20improve%20breastfeeding%20outcomes.

https://english.palinfo.com/news/2026/07/27/367365/

https://www.trtworld.com/article/decd33a41fce

https://english.almayadeen.net/news/politics/94-palestinian-women-face-harsh-conditions-in-israeli-damon

https://www.middleeastmonitor.com/20260622-palestinian-rights-group-calls-for-release-of-3-pregnant-women-held-by-israel/

https://www.newarab.com/news/pregnant-palestinian-women-struggle-survive-israeli-jail

https://electronicintifada.net/blogs/nora-barrows-friedman/breastfeeding-under-israeli-bombs

ShareTweetSendShare
Previous Post

PBB: Lebih dari 1.400 Insiden Kekerasan Pemukim, Tepi Barat di Ambang Krisis

Adara Relief International

Related Posts

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina
Artikel

Yahudisasi Situs Bersejarah: Cara Israel Menghapus Jejak Eksistensi Palestina

by Adara Relief International
Juli 30, 2026
0
49

Sebuah reruntuhan batu tua di Tepi Barat bukan sekadar tumpukan bebatuan — ia adalah bukti hidup bahwa Palestina ada, jauh...

Read moreDetails
Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

Juli 28, 2026
58
Karakter Para Pejuang Hijrah

Karakter Para Pejuang Hijrah

Juli 15, 2026
584
Gegap Gempita Piala Dunia 2026 yang Menyilaukan Mata Dunia dari Kondisi Rakyat Palestina

Gegap Gempita Piala Dunia 2026 yang Menyilaukan Mata Dunia dari Kondisi Rakyat Palestina

Juni 29, 2026
84
Tenda-tenda pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon (Arab News)

Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah

Juni 19, 2026
71
Keutamaan Dzuhijjah Sebagai Bulan Haram

Keutamaan Dzuhijjah Sebagai Bulan Haram

Mei 21, 2026
51

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]

    Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karakter Para Pejuang Hijrah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konvoi Truk Air Bersih Sahabat Adara Memasuki Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Syekh Sabri: Israel Rencanakan Sabuk Permukiman Kepung Al-Aqsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Ajak Masyarakat Berkarya untuk Al-Aqsa dan Palestina melalui Art & Craft for Palestine

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630