• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Minggu, Oktober 4, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

by Adara Relief International
Juli 28, 2026
in Artikel, Sorotan, Syariah
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Menepis Mitos Bulan Sial, Mengalahkan Rasa Takut dengan Tawakal

(Iqra Online)

66
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Setiap kali bulan Safar tiba, masih ada sebagian masyarakat yang merasa ragu untuk memulai sesuatu. Ada yang menunda pernikahan, enggan bepergian, bahkan mengurungkan rencana penting karena khawatir bulan ini membawa kesialan. Keyakinan semacam ini telah hidup sejak masa jahiliah. Tanpa disadari, sebagian jejaknya masih bertahan hingga hari ini.

Namun, benarkah Safar adalah bulan yang membawa musibah? Ataukah anggapan itu hanyalah warisan kepercayaan lama yang telah diluruskan oleh Islam?

Rasulullah ﷺ justru mengajarkan umatnya untuk membangun hidup di atas fondasi tauhid dan tawakal, bukan pada rasa takut terhadap waktu, tempat, atau pertanda tertentu. Dalam sebuah hadis sahih beliau bersabda,

لا عَدوى ، ولا طيَرةَ ، ولا صفرَ ، ولا هامَّة فقالَ أعرابيٌّ : ما بالُ الإبلِ تَكونُ في الرَّملِ كأنَّها الظِّباءُ فيخالطُها البعيرُ الأجرَبُ فيجربُها ؟ قالَ : فَمن أعدى الأوَّلَ

 “Tidak ada penularan (yang bekerja sendiri), tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada (kesialan pada) Safar, dan tidak ada (kesialan karena) hāmah (burung).” 

Rasulullah ﷺ lalu melanjutkan,

فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمَا بَالُ الإِبِلِ تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ، فَيُخَالِطُهَا الْبَعِيرُ الأَجْرَبُ فَيُجْرِبُهَا؟

Lalu seorang Arab Badui bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta-unta yang sehat di padang pasir, lalu datang seekor unta yang terkena kudis kemudian semua unta itu ikut terkena kudis?” Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab, 

فَقَالَ: «فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ؟»

“Kalau begitu, siapakah yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama?” 

(HR. Al-Bukhari dan Muslim; lafaz ini diriwayatkan pula dalam Sunan Abi Dawud)

Jawaban Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa beliau tidak menolak adanya sebab, tetapi meluruskan akidah umatnya agar tidak bergantung kepada sebab tersebut. Ketika seorang Arab Badui bertanya mengapa seekor unta yang berpenyakit dapat menularkan penyakit kepada unta-unta lain yang sehat, Rasulullah ﷺ menjawab, “Lalu, siapakah yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama?”

Pertanyaan ini mengajak kita berpikir lebih dalam; jika unta pertama jatuh sakit tanpa tertular dari unta lain, berarti penyakit itu terjadi karena ketetapan Allah. Demikian pula ketika penyakit menyebar kepada unta-unta berikutnya, penularan itu tetap berlangsung atas izin dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, penularan memang merupakan sebab yang Allah ciptakan, tetapi sebab itu tidak bekerja dengan sendirinya atau memiliki kekuatan yang berdiri sendiri.

Dari sinilah Islam mengajarkan keseimbangan yang indah. Seorang muslim diperintahkan untuk mengakui dan mengambil sebab-sebab yang benar, seperti menjaga kesehatan dan menghindari hal-hal yang membahayakan. Namun, pada saat yang sama, hatinya tidak boleh bergantung kepada sebab tersebut. Penyebab hanyalah sarana, sedangkan yang menentukan hasil akhirnya tetaplah Allah ﷻ. Inilah hakikat tawakal yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Sabda ini bukan sekadar meluruskan satu mitos, melainkan juga membangun cara pandang seorang mukmin bahwa segala sesuatu berada di bawah ketetapan Allah semata.

Baca Juga

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

Mengapa Bulan Safar Dianggap Membawa Kesialan?

Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari kepercayaan masyarakat Arab Jahiliah yang berkembang jauh sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ. Mereka menghubungkan berbagai musibah yang sering terjadi pada bulan Safar dengan bulan itu sendiri, hingga akhirnya lahirlah keyakinan bahwa Safar adalah bulan yang harus dihindari.

Beberapa faktor yang melatarbelakangi keyakinan tersebut antara lain:

  • Safar identik dengan peperangan dan balas dendam

Setelah berakhirnya bulan-bulan haram, suku-suku Arab kembali mengangkat senjata. Perang, penyerangan, dan aksi balas dendam yang sebelumnya ditunda sering kali terjadi pada bulan Safar. Banyak korban jiwa dan kerugian yang muncul, sehingga masyarakat menganggap Safar sebagai bulan yang membawa malapetaka. Padahal, penyebab musibah itu adalah perbuatan manusia, bukan bulannya.

  • Rumah-rumah menjadi kosong

Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa nama Ṣafar berkaitan dengan makna “kosong”. Pada bulan ini banyak orang meninggalkan rumah untuk berdagang, berperang, atau melakukan perjalanan, sehingga rumah-rumah menjadi sepi. Kondisi tersebut turut membentuk kesan bahwa Safar adalah bulan yang penuh ketidakpastian dan kecemasan.

  • Berkembangnya budaya takhayul

Masyarakat Jahiliah terbiasa mengaitkan nasib dengan berbagai pertanda, seperti arah terbang burung, suara burung hantu, angka, hari, maupun bulan tertentu. Dalam pola pikir seperti ini, Safar pun diposisikan sebagai bulan yang dianggap membawa kesialan, meskipun tidak ada bukti maupun wahyu yang mendukung keyakinan tersebut.

Islam kemudian datang meluruskan cara pandang itu. Rasulullah ﷺ tidak hanya menghapus keyakinan tentang kesialan bulan Safar, tetapi juga seluruh bentuk takhayul yang menggantungkan nasib kepada selain Allah atau anggapan keberuntungan ataupun kesialan. Hal ini sebab dalam Islam yang menentukan segala sesuatu hanyalah Allah ﷻ. Dengan demikian, Islam menggeser cara pandang manusia dari menyalahkan waktu menjadi optimisme; dari hidup dalam ketakutan terhadap mitos menuju hidup dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah.

Tidak Ada yang Menimpa Kita Selain yang Allah Tetapkan

(Yaqeen Institute)

Allah ﷻ berfirman:

(قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)

“Katakanlah, ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal.'” (QS. At-Taubah: 51)

Betapa indahnya firman Allah ini.  Allah tidak mengatakan, “mā kataba ‘alainā” (apa yang Allah tetapkan atas kami), tetapi “mā kataba lanā” (apa yang Allah tetapkan untuk kami). Pilihan kata ini mengandung pesan yang sangat menenangkan. Apa pun yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin pada hakikatnya mengandung maslahat dan kebaikan, baik yang dapat segera dipahami maupun yang baru akan tampak di kemudian hari. Seorang mukmin boleh jadi tidak memahami hikmah sebuah ujian saat itu juga, tetapi ia meyakini bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu dengan sia-sia, tidak menetapkan sesuatu untuk mencelakakan kita.

Keyakinan itu semakin kokoh dengan firman-Nya, ﴾هُوَ مَوْلَانَا﴿ (Dialah Pelindung kami). Allah adalah Penolong, Pelindung, dan Pengatur seluruh urusan hamba-Nya. Oleh karena itu, orang yang mengenal Allah sebagai Mawlā-nya tidak akan menggantungkan rasa aman kepada mitos atau merasa takut kepada bulan tertentu atau hal lainnya. Hatinya hanya bergantung kepada Allah, karena hanya Dia yang menguasai manfaat dan mudarat.

Itulah sebabnya ayat ini ditutup dengan perintah, ﴾وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴿ (Dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal). 

Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi meyakini bahwa segala sebab yang kita lakukan hanya akan membuahkan hasil apabila Allah menghendakinya. Seorang mukmin tetap berusaha, namun ia tidak pernah membiarkan hatinya dikuasai oleh rasa takut terhadap waktu, tempat, atau pertanda apa pun. Ia percaya bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam penjagaan Allah Yang Maha Bijaksana.

Bulan Safar hanyalah salah satu dari dua belas bulan yang Allah ciptakan. Ia tidak membawa kesialan, sebagaimana ia juga tidak mampu mendatangkan keberuntungan dengan sendirinya. Yang menentukan setiap peristiwa dalam hidup kita hanyalah Allah ﷻ. Karena itu, marilah kita menyambut Safar bukan dengan rasa takut terhadap mitos, tetapi dengan iman yang semakin kokoh, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan tawakal yang sepenuhnya kepada Allah. Sebab, di tangan-Nyalah seluruh urusan kita berada.

Baca juga: “Keutamaan Dzuhijjah Sebagai Bulan Haram”

 

Isma Muhsonah, S. Ag., M. Pd

Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta

Khadimatul Qur`an Syifaur Rahman Islamic Club Bogor

ShareTweetSendShare
Previous Post

Ribuan Pemukim Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Next Post

Serangan Pemukim Israel di Tepi Barat Meningkat, Dua Masjid Dibakar

Adara Relief International

Related Posts

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?
Artikel

Ke Mana Jiwa yang Sedih Harus Kembali?

by Adara Relief International
September 29, 2026
0
27

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kata healing kerap menjadi tempat perlindungan bagi siapa saja yang sedang merasa bosan, lelah, terluka,...

Read moreDetails
Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

Kekerasan Pemukim di Tepi Barat, Pelanggaran HAM yang Dilindungi Sistem Kejahatan Israel

September 4, 2026
45
Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

September 2, 2026
492
Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

September 9, 2026
1.6k
Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Luka yang Tak Terobati: Tentang Ribuan Jenazah yang Hilang dan Penantian Panjang Akan Kepastian

Agustus 21, 2026
43
Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Darah, Air Mata, dan Residu Senjata: ‘Makanan’ Pertama yang Dirasakan Bayi-Bayi Palestina

Agustus 12, 2026
44
Next Post
Serangan Pemukim Israel di Tepi Barat Meningkat, Dua Masjid Dibakar

Serangan Pemukim Israel di Tepi Barat Meningkat, Dua Masjid Dibakar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Kemanusiaan Batch Dua Sahabat Adara Tiba di Nusa Tenggara Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630