Setiap kali bulan Safar tiba, masih ada sebagian masyarakat yang merasa ragu untuk memulai sesuatu. Ada yang menunda pernikahan, enggan bepergian, bahkan mengurungkan rencana penting karena khawatir bulan ini membawa kesialan. Keyakinan semacam ini telah hidup sejak masa jahiliah. Tanpa disadari, sebagian jejaknya masih bertahan hingga hari ini.
Namun, benarkah Safar adalah bulan yang membawa musibah? Ataukah anggapan itu hanyalah warisan kepercayaan lama yang telah diluruskan oleh Islam?
Rasulullah ﷺ justru mengajarkan umatnya untuk membangun hidup di atas fondasi tauhid dan tawakal, bukan pada rasa takut terhadap waktu, tempat, atau pertanda tertentu. Dalam sebuah hadis sahih beliau bersabda,
لا عَدوى ، ولا طيَرةَ ، ولا صفرَ ، ولا هامَّة فقالَ أعرابيٌّ : ما بالُ الإبلِ تَكونُ في الرَّملِ كأنَّها الظِّباءُ فيخالطُها البعيرُ الأجرَبُ فيجربُها ؟ قالَ : فَمن أعدى الأوَّلَ
“Tidak ada penularan (yang bekerja sendiri), tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada (kesialan pada) Safar, dan tidak ada (kesialan karena) hāmah (burung).”
Rasulullah ﷺ lalu melanjutkan,
فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمَا بَالُ الإِبِلِ تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ، فَيُخَالِطُهَا الْبَعِيرُ الأَجْرَبُ فَيُجْرِبُهَا؟
Lalu seorang Arab Badui bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan unta-unta yang sehat di padang pasir, lalu datang seekor unta yang terkena kudis kemudian semua unta itu ikut terkena kudis?” Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab,
فَقَالَ: «فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ؟»
“Kalau begitu, siapakah yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama?”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim; lafaz ini diriwayatkan pula dalam Sunan Abi Dawud)
Jawaban Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa beliau tidak menolak adanya sebab, tetapi meluruskan akidah umatnya agar tidak bergantung kepada sebab tersebut. Ketika seorang Arab Badui bertanya mengapa seekor unta yang berpenyakit dapat menularkan penyakit kepada unta-unta lain yang sehat, Rasulullah ﷺ menjawab, “Lalu, siapakah yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama?”
Pertanyaan ini mengajak kita berpikir lebih dalam; jika unta pertama jatuh sakit tanpa tertular dari unta lain, berarti penyakit itu terjadi karena ketetapan Allah. Demikian pula ketika penyakit menyebar kepada unta-unta berikutnya, penularan itu tetap berlangsung atas izin dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, penularan memang merupakan sebab yang Allah ciptakan, tetapi sebab itu tidak bekerja dengan sendirinya atau memiliki kekuatan yang berdiri sendiri.
Dari sinilah Islam mengajarkan keseimbangan yang indah. Seorang muslim diperintahkan untuk mengakui dan mengambil sebab-sebab yang benar, seperti menjaga kesehatan dan menghindari hal-hal yang membahayakan. Namun, pada saat yang sama, hatinya tidak boleh bergantung kepada sebab tersebut. Penyebab hanyalah sarana, sedangkan yang menentukan hasil akhirnya tetaplah Allah ﷻ. Inilah hakikat tawakal yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Sabda ini bukan sekadar meluruskan satu mitos, melainkan juga membangun cara pandang seorang mukmin bahwa segala sesuatu berada di bawah ketetapan Allah semata.
Mengapa Bulan Safar Dianggap Membawa Kesialan?
Anggapan bahwa bulan Safar membawa kesialan bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari kepercayaan masyarakat Arab Jahiliah yang berkembang jauh sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ. Mereka menghubungkan berbagai musibah yang sering terjadi pada bulan Safar dengan bulan itu sendiri, hingga akhirnya lahirlah keyakinan bahwa Safar adalah bulan yang harus dihindari.
Beberapa faktor yang melatarbelakangi keyakinan tersebut antara lain:
-
Safar identik dengan peperangan dan balas dendam
Setelah berakhirnya bulan-bulan haram, suku-suku Arab kembali mengangkat senjata. Perang, penyerangan, dan aksi balas dendam yang sebelumnya ditunda sering kali terjadi pada bulan Safar. Banyak korban jiwa dan kerugian yang muncul, sehingga masyarakat menganggap Safar sebagai bulan yang membawa malapetaka. Padahal, penyebab musibah itu adalah perbuatan manusia, bukan bulannya.
-
Rumah-rumah menjadi kosong
Sebagian ulama bahasa menjelaskan bahwa nama Ṣafar berkaitan dengan makna “kosong”. Pada bulan ini banyak orang meninggalkan rumah untuk berdagang, berperang, atau melakukan perjalanan, sehingga rumah-rumah menjadi sepi. Kondisi tersebut turut membentuk kesan bahwa Safar adalah bulan yang penuh ketidakpastian dan kecemasan.
-
Berkembangnya budaya takhayul
Masyarakat Jahiliah terbiasa mengaitkan nasib dengan berbagai pertanda, seperti arah terbang burung, suara burung hantu, angka, hari, maupun bulan tertentu. Dalam pola pikir seperti ini, Safar pun diposisikan sebagai bulan yang dianggap membawa kesialan, meskipun tidak ada bukti maupun wahyu yang mendukung keyakinan tersebut.
Islam kemudian datang meluruskan cara pandang itu. Rasulullah ﷺ tidak hanya menghapus keyakinan tentang kesialan bulan Safar, tetapi juga seluruh bentuk takhayul yang menggantungkan nasib kepada selain Allah atau anggapan keberuntungan ataupun kesialan. Hal ini sebab dalam Islam yang menentukan segala sesuatu hanyalah Allah ﷻ. Dengan demikian, Islam menggeser cara pandang manusia dari menyalahkan waktu menjadi optimisme; dari hidup dalam ketakutan terhadap mitos menuju hidup dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah.
Tidak Ada yang Menimpa Kita Selain yang Allah Tetapkan

Allah ﷻ berfirman:
(قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)
“Katakanlah, ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal.'” (QS. At-Taubah: 51)
Betapa indahnya firman Allah ini. Allah tidak mengatakan, “mā kataba ‘alainā” (apa yang Allah tetapkan atas kami), tetapi “mā kataba lanā” (apa yang Allah tetapkan untuk kami). Pilihan kata ini mengandung pesan yang sangat menenangkan. Apa pun yang Allah tetapkan bagi seorang mukmin pada hakikatnya mengandung maslahat dan kebaikan, baik yang dapat segera dipahami maupun yang baru akan tampak di kemudian hari. Seorang mukmin boleh jadi tidak memahami hikmah sebuah ujian saat itu juga, tetapi ia meyakini bahwa Allah tidak pernah menetapkan sesuatu dengan sia-sia, tidak menetapkan sesuatu untuk mencelakakan kita.
Keyakinan itu semakin kokoh dengan firman-Nya, ﴾هُوَ مَوْلَانَا﴿ (Dialah Pelindung kami). Allah adalah Penolong, Pelindung, dan Pengatur seluruh urusan hamba-Nya. Oleh karena itu, orang yang mengenal Allah sebagai Mawlā-nya tidak akan menggantungkan rasa aman kepada mitos atau merasa takut kepada bulan tertentu atau hal lainnya. Hatinya hanya bergantung kepada Allah, karena hanya Dia yang menguasai manfaat dan mudarat.
Itulah sebabnya ayat ini ditutup dengan perintah, ﴾وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴿ (Dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal).
Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi meyakini bahwa segala sebab yang kita lakukan hanya akan membuahkan hasil apabila Allah menghendakinya. Seorang mukmin tetap berusaha, namun ia tidak pernah membiarkan hatinya dikuasai oleh rasa takut terhadap waktu, tempat, atau pertanda apa pun. Ia percaya bahwa seluruh perjalanan hidupnya berada dalam penjagaan Allah Yang Maha Bijaksana.
Bulan Safar hanyalah salah satu dari dua belas bulan yang Allah ciptakan. Ia tidak membawa kesialan, sebagaimana ia juga tidak mampu mendatangkan keberuntungan dengan sendirinya. Yang menentukan setiap peristiwa dalam hidup kita hanyalah Allah ﷻ. Karena itu, marilah kita menyambut Safar bukan dengan rasa takut terhadap mitos, tetapi dengan iman yang semakin kokoh, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan tawakal yang sepenuhnya kepada Allah. Sebab, di tangan-Nyalah seluruh urusan kita berada.
Baca juga: “Keutamaan Dzuhijjah Sebagai Bulan Haram”
Isma Muhsonah, S. Ag., M. Pd
Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta
Khadimatul Qur`an Syifaur Rahman Islamic Club Bogor








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)