Di sebuah kamp pengungsian di Gaza, seorang anak laki-laki mengumpulkan teman-teman kecilnya di sekitar tenda. Dia menciptakan permainan-permainan sederhana, menghadirkan tawa yang sejenak mengusir ketakutan yang menyelimuti mereka. Namanya Anas Shubair—dia merupakan salah satu yatim penerima manfaat program Dekap Yatim Palestina (DYP), dan tidak banyak yang menyangka bahwa Anas kini justru memikul kehilangan yang teramat berat. Di jalur Gaza, di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, ada anak-anak yatim yang memilih untuk tetap memberi.
Musim Panas yang Menguji
Sepanjang Juni hingga Juli 2026, keseharian anak-anak yatim Gaza ditandai oleh pengungsian yang berulang. Operasi militer yang kembali menguat, serangan udara yang berselang, dan perintah evakuasi yang datang mendadak memaksa banyak keluarga berpindah lagi dan lagi. Menurut catatan OCHA bulan Juli 2026, anak-anak di Gaza kini terbatas pada kurang dari separuh luas wilayah, dengan paparan serangan dan ancaman perpindahan yang terus membayangi.
Musim panas menambah beratnya beban. Suhu yang tinggi, kepadatan tempat tinggal, dan sanitasi yang buruk memicu berbagai penyakit ringan di kalangan anak; di sejumlah lokasi pengungsian bahkan dilaporkan munculnya serangga dan hama pengerat. Keterbatasan bahan bakar turut mengganggu layanan air dan sanitasi, meningkatkan risiko luapan limbah dan gangguan kesehatan (OCHA, Juli 2026). Bagi anak-anak yatim di Gaza, semua ini menjadi ujian yang berlapis pada hari-hari yang seharusnya menjadi masa bermain.
Di tengah keadaan inilah, amanah Sahabat Adara ditunaikan. Program Dekap Yatim Palestina (DYP) saat ini mendampingi 1.916 anak yatim Gaza yang tersebar di sepuluh wilayah, dengan konsentrasi terbesar di Khan Younis, Deir al-Balah, dan Nuseirat.
Berikut gambar ringkas sebaran anak asuh beserta kondisi yang mereka hadapi di masing-masing wilayah sepanjang bulan Juli 2026 ini.
| WIlayah | Jumlah Anak Asuh | Gambaran Umum Kondisi Anak Asuh |
| Khan Younis | 221 | Di wilayah ini, ratusan anak asuh Gaza bertahan di lokasi pengungsian yang padat, di tengah serangan udara dan operasi militer yang kembali menguat, dengan gangguan hama dan kerusakan infrastruktur. |
| Deir al-Balah | 414 | Anak asuh berada di salah satu titik pengungsian terpadat; layanan dasar yang mereka andalkan berada di bawah tekanan berat akibat lonjakan populasi. |
| Rafah | 210 | Sebagian besar anak asuh masih tinggal di lokasi pengungsian di wilayah lain, karena belum dapat kembali dengan aman ke Rafah. |
| Kota Gaza | 370 | Ratusan anak asuh bertahan di tengah kehancuran yang meluas; sebagian tinggal di rumah yang rusak meski berisiko. |
| Nuseirat | 144 | Di wilayah ini, isu utama yang paling disoroti yaitu sanitasi dan air bersih. Anak asuh menghadapi kepadatan serta kekurangan air, sanitasi, dan tempat berlindung di kamp yang penuh sesak. |
| Jabalia | 300 | Anak asuh kerap berpindah menyusul perintah evakuasi berulang; kondisi hidup mereka terganggu oleh kerusakan yang meluas. |
| Al-Maghazi | 152 | Anak asuh berada di kamp yang padat berbaur dengan masyarakat Gaza lainnya, menghadapi insiden keamanan berulang. Kebutuhan pangan dan dukungan psikososial mereka meningkat. |
| Gaza Utara | 48 | Anak asuh berada di salah satu wilayah paling parah; mereka nyaris hidup tanpa akses layanan dasar yang berfungsi. |
| Beit Hanoun | 36 | Anak asuh sulit dijangkau dan menghadapi kekurangan parah akan pangan, air, serta layanan kesehatan. |
| Beit Lahia | 21 | Jumlah anak asuh tidak banyak di wilayah ini. Mereka sulit dijangkau akibat kehancuran parah; layanan dasar bagi mereka sangat terganggu. |
Anas, Mimpi yang Tak Terkubur di Bawah Reruntuhan
Anas Shubair dahulu adalah anak Gaza seperti anak-anak lainnya—hari-harinya dipenuhi tawa, sekolah, permainan, dan kehangatan keluarga yang penuh kasih. Dalam sekejap, agresi merenggut orang-orang yang menjadi sumber cinta dan rasa amannya. Dalam semalam, masa kanak-kanaknya berganti dengan duka, pengungsian, dan kehidupan di dalam tenda—tempat setiap hari menjadi perjuangan demi keselamatan dan kestabilan.
Namun, Anas menolak membiarkan kesedihan menguasai dirinya. Alih-alih menarik diri dalam diam, dia justru memilih menjadi sumber penghiburan bagi anak-anak lain di kamp. Dia mengumpulkan mereka di sekitar tendanya, menciptakan permainan dan momen keceriaan yang membuat mereka, walau sejenak, dapat melupakan ketakutan di sekeliling. Di tempat yang dipenuhi kehancuran, senyumnya menjadi pengingat bahwa harapan masih bisa bertahan.
Anas percaya bahwa meski kedua orang tuanya tidak lagi di sisinya, keduanya terus mengawasinya–mendorongnya untuk tetap kuat, baik hati, dan gigih. Baginya, agresi boleh saja merenggut keluarganya, tetapi tidak akan pernah bisa merenggut masa depannya.
Joud, Nama yang Menjadi Doa
Ada pula Joud Younis. Sebelum agresi, dia tumbuh dikelilingi cinta dan kehangatan keluarganya. Ayahnya kerap tersenyum dan mengingatkan akan makna namanya.
“Namamu Joud, dan Joud berarti kedermawanan—memberi tanpa mengharap balasan,” ungka Joud mengenang ungkapan sang ayah.
Agresi telah merenggut sang ayah, dan kini Joud tinggal di kamp pengungsian bersama keluarganya, menjalani hari-hari yang penuh ketidakpastian. Namun, dia terus hidup dengan nilai yang ditanamkan ayahnya: berbagi sedikit yang dia miliki dengan anak-anak lain, dan menenangkan anak-anak yang lebih kecil ketika mereka ketakutan. Kebaikannya menjadi sumber harapan bagi orang-orang di sekitarnya—mencerminkan makna namanya bahkan dalam keadaan yang sulit.
Joud bermimpi melanjutkan pendidikannya dan membangun masa depan yang membanggakan sang ayah. Dia yakin bahwa kebaikan adalah sebuah kekuatan, dan bahwa sekecil apa pun tindakan kasih sayang dapat membuat perbedaan dalam hidup orang lain.
Belajar di Tengah Libur yang Tak Biasa
Juni dan Juli adalah masa libur sekolah musim panas, sehingga tidak banyak perubahan pada status pendidikan formal anak-anak. Namun, semangat belajar tidak padam. Di berbagai sekolah yang beralih fungsi menjadi tempat pengungsian dan di ruang-ruang belajar sementara, anak-anak tetap mengikuti kegiatan belajar musim panas; sebagian bahkan menempuh ujian akhir tahun ajaran melalui platfomr pembelajaran jarak jauh.
Dukungan psikososial pun terus diupayakan. Menurut catatan UNRWA, hingga akhir Juli 2026, tim kerja sosial mereka telah menjangkau lebih dari 280.000 pengungsi, termasuk lebih dari 7.400 anak dan di antaranya lebih dari 3.400 anak tanpa pendamping. Kegiatan-kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi anak untuk memperoleh kelegaan emosional dan kembali berinteraksi dengan teman sebaya—meski kebutuhan yang ada masih jauh melampaui layanan yang tersedia.
Mengantarkan Amanah ke Tangan yang Menanti
Di balik setiap laporan yang Sahabat Adara terima, ada perjuangan nyata dari tim di lapangan. Sepanjang periode bulan Juli ini, bantuan bulanan dari para orang tua di Indonesia telah berhasil disampaikan kepada 1.916 anak asuh Dekap Yatim Palestina (DYP) tersebar di sepuluh wilayah Jalur Gaza. Di tengah keadaan yang serba tidak menentu, memastikan setiap amanah sampai ke tangan yang berhak bukanlah perkara sederhana.
Tim lapangan harus menembus berbagai hambatan. Paparan agresi dan pengeboman terus mengintai, pergerakan dibatasi, dan infrastruktur yang rusak menyulitkan akses menuju komunitas terdampak sekaligus pendampingan yang berkelanjutan. Keterbatasan sumber daya dan pasokan kerap menambah beratnya tugas, sementara kebutuhan psikososial anak-anak yang terus meningkat menuntut pendekatan yang lentur dan penuh kehati-hatian. Tidak jarang, penyaluran harus menunggu hingga situasi dinilai cukup aman untuk dilakukan.
Mengantarkan santunan kepada setiap anak di tengah pengeboman, pembatasan pergerakan, dan infrastruktur yang hancur bukanlah hal yang mudah. Tidak jarang tim harus menunggu berhari-hari hingga jalur dinilai cukup aman untuk dilalui. Namun, betapa pun beratnya keadaan, memastikan amanah para orang tua asuh sampai ke tangan anak-anak yatim ini tetap menjadi tanggung jawab yang tidak pernah ditinggalkan.
Perjuangan itu berbuah manis ketika santunan akhirnya sampai. Bagi anak-anak yatim Gaza, dukungan yang tiba bukan sekadar bantuan materi, melainkan bukti nyata bahwa di belahan dunia lain ada orang-orang yang mengingat, mendoakan, dan peduli kepada mereka.
Amanah yang Terus Mengalir
Anas dan Joud hanya dua dari seribu anak asuh Dekap Yatim Palestina (DYP) yang kini didampingi di Jalur Gaza—dan sekaligus cerminan dari ribuan anak yatim Gaza lainnya yang menanggung nasib serupa. Di balik setiap nama, tersimpan kisah kehilangan yang tak jauh berbeda, namun juga ketangguhan dan harapan yang sama besarnya. Apa yang tampak pada keduanya sesungguhnya hidup pula dalam diri ratusan anak asuh lain yang setiap hari berjuang untuk tetap bertumbuh di tengah keterbatasan.
Kisah Anas dan Joud mengingatkan kita bahwa di balik setiap anak yatim Gaza, ada jiwa yang masih menyimpan kebaikan, harapan, dan mimpi. Yang mereka butuhkan bukan sekadar bantuan, melainkan seseorang yang percaya kepada mereka.
Di tengah situasi keamanan yang kerap menyulitkan tim lapangan untuk memperbarui kabar setiap anak secara personal, satu hal yang tetap dipastikan: penyaluran amanah Sahabat Adara terus berjalan melalui mitra lokal terpercaya. Setiap dukungan yang dititipkan turut menjaga agar anak-anak seperti Anas dan Joud dapat terus bertumbuh, belajar, dan mengubah kehilangan menjadi ketangguhan. Merawat mereka berarti merawat harapan yang menolak padam—sebuah kepercayaan yang layak kita jaga bersama.
Baca kabar anak asuh bulan sebelumnya Di Balik Mata yang Memikul Trauma Mendalam — Laporan Program DYP Juni 2026








