“Aku tumbuh dewasa sebelum waktunya, berubah dari seorang anak yang butuh perlindungan menjadi seseorang yang mencoba melindungi keluarganya,” tutur Adam Karam Mahmoud Nesir kepada tim lapangan Adara. Dia merupakan salah satu penerima manfaat program Dekap Yatim Palestina (DYP) hingga saat ini.
Seorang pemuda Gaza yang akrab disapa Adam merupakan satu dari sekian ratus anak yatim di Gaza yang terpaksa menanggalkan masa kecilnya demi menyambung nyawa keluarga. Di tengah reruntuhan Khan Younis, tangan kecilnya yang seharusnya memegang pena untuk belajar dan mendalami ilmu di bangku sekolah, kini justru akrab dengan kasarnya kayu bakar yang dia kumpulkan setiap hari untuk dijual. Kisah Adam adalah cerminan dari realita getir yang dihadapi oleh ratusan anak asuh DYP saat ini.
Ketidakpastian merupakan suatu hal yang pasti dihadapi oleh anak-anak yatim di Gaza saat ini. Bagi mereka, dapat terbangun dari tidur dan bertemu dengan hari esok adalah anugerah yang patut disyukuri. Allah masih memberikan mereka kesempatan untuk terus berjuang di tengah keterbatasan yang melumpuhkan. Terlebih sejak agresi yang melanda Gaza, kehidupan mereka terasa tidak terarah dan kehilangan pijakan. Mereka menghadapi kehilangan: orang tua, rumah, dan akses untuk hidup.
“Aku kehilangan ayahku dalam agresi pada Juli 2014. Ayahku gugur di dalam rumah kami ketika sebuah peluru tank menghantam rumah, meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun,” ungkap Adam.
Hingga awal April ini, saat penyaluran uang saku bulanan dari Sahabat Adara melalui program DYP didistribusikan, kondisi anak-anak yatim di Gaza masih sangat tidak stabil. Mereka hidup berpindah-pindah, berlindung di kamp-kamp pengungsian yang sesak atau bangunan rusak yang rawan runtuh. Aktivitas harian mereka tersita pada pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Mengantre air bersih, berlomba-lomba untuk memperoleh makanan, serta mencoba bertahan meski tenda tempat berteduh sudah mulai rapuh, merupakan bagian dari aktivitas harian mereka.
Hidup serba terbatas ini merupakan dampak jangka panjang dari agresi yang melanda mereka sejak tahun 2023. Krisis kemanusiaan ini memicu lonjakan harga kebutuhan pokok secara drastis, hingga ke tahap yang tidak masuk akal bagi keluarga pengungsi. Selama periode ini, harga bahan dasar harian melonjak hingga lebih dari 700 persen. Aljazeera menyebutkan bahwa harga protein dasar seperti daging ayam, meningkat sebesar 80 persen, menjadikannya barang mewah yang hampir mustahil dijangkau oleh anak-anak yatim.
Bukan hanya kebutuhan pokok, barang pelengkap seperti mainan yang seharusnya menjadi hiburan sederhana bagi anak-anak pun ikut mengalami kenaikan harga yang tak masuk akal. Harga sebuah boneka misalnya, yang semula hanya sekitar 15 shekel, kini melambung hingga 60 shekel— naik empat kali lipat dari harga normal. Di tengah agresi yang berkecamuk, sekadar alat penghibur lara pun sekarang menjadi barang langka yang sulit dijangkau. Realitas pahit ini memaksa anak-anak di Gaza untuk mengembangkan cara bermain di tengah kepungan rasa bosan dan tuntutan hidup yang menghimpit.
Lonjakan harga dari berbagai jenis barang ini berbanding terbalik dengan kemampuan ekonomi warga yang lumpuh total. Tanpa adanya sosok tulang punggung keluarga, anak-anak seperti Adam harus memutar otak agar ibu dan saudara perempuan mereka dapat tidur dalam tenang dan nyaman. Keadaan menuntut anak-anak untuk hadir penuh mengurus keluarga yang berdiri tanpa adanya sosok ayah.
Di tengah ketidakpastian ini, Alhamdulillah, bantuan dari Sahabat Adara dalam program Dekap Yatim Palestina (DYP) menjadi suatu hal yang menyambung nafas kehidupan mereka secara pasti. Meski berjuang keras menghalau berbagai rintangan, tim Adara di lapangan memastikan bahwa bantuan yang Sahabat Adara titipkan dapat tersampaikan pada ribuan anak asuh. Pada bulan April ini, bantuan yang diberikan mulai pada 8 April lalu telah tersampaikan kepada 1.574 anak yatim Gaza.
Situasi dan Kondisi Lokasi Anak Yatim
Adapun bantuan telah terdistribusi di berbagai wilayah Gaza menyesuaikan keberadaan anak-anak asuh yang masih berpindah-pindah tempat sebab mencari tempat yang aman. Berikut adalah rincian sebaran lokasi dan situasi darurat yang anak-anak hadapi.
| Lokasi | Jumlah Anak | Kondisi |
Deir Balah |
252 anak |
Di wilayah ini, anak-anak yatim terjebak dalam kepadatan penduduk dengan tidak adanya infrastruktur dasar. Mereka hidup berdesakan bersama jutaan jiwa lainnya di tengah ancaman penyakit kulit dan pernapasan yang meluas akibat sanitasi buruk serta cuaca ekstrem. Selain itu, mereka juga menghadapi kekurangan pangan yang berisiko malnutrisi. |
| Kota Gaza | 301 anak | Mayoritas sekolah di wilayah ini mengalami kehancuran parah, sehingga sekitar 60% anak kehilangan kesempatan belajar secara tatap muka. Selain itu, lebih dari satu juta anak kehilangan akses terhadap bantuan kemanusiaan esensial dalam jangka waktu yang lama, menjadikan anak-anak yatim sebagai salah satu kelompok yang paling rentan di antara semuanya. |
| Khan Younis | 333 anak | Khan Younis mengalami gelombang pengungsian berkali-kali dan operasi militer yang berulang. Di wilayah ini, sebagian besar anak tidak lagi mengenyam pendidikan formal secara rutin. Selain itu, secara jumlah, wilayah ini menderita kekurangan yang parah yang akan berkontribusi pada krisis yang lebih luas. |
Rafah |
120 anak |
Rafah merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi akibat pengungsian massal. Layanan kesehatan di wilayah ini berada di bawah tekanan, sehingga anak-anak yatim menghadapi hambatan besar untuk mengakses pengobatan. |
Gaza Utara |
170 anak |
Di wilayah Gaza Utara, situasinya merupakan yang paling memprihatinkan. Anak-anak yatim di sana hidup di tengah kehancuran infrastruktur yang hampir menyeluruh, dengan layanan dasar seperti air dan listrik telah lumpuh total. Tidak ada fasilitas medis yang berfungsi dan sekolah yang tersisa, mereka kini berada di garis depan krisis kelaparan ekstrem. |
Jabalia |
136 anak |
Kamp pengungsian Jabalia menjadi salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Kondisi kesehatan di wilayah ini sangat buruk, dengan penyebaran penyakit meluas akibat kepadatan ekstrem dan kurangnya air bersih. |
Beit Lahia |
55 anak |
Beit Lahia mengalami kehancuran yang luas dan kelangkaan layanan esensial yang parah. Anak-anak yatim kesulitan mendapatkan akses layanan kesehatan di tengah risiko keamanan yang terus mengintai. |
Nuseirat |
82 anak |
Di kamp pengungsian ini terdapat inisiatif pembelajaran sementara, tapi upaya tersebut tetap tidak memadai terutama adanya kerusakan sekolah yang meluas. |
Beit Hanoun |
65 anak |
Layanan kesehatan di wilayah ini sebagian besar tidak tersedia. Akses terhadap bantuan sangat terbatas. |
Al-Maghazy |
60 anak |
Di kamp pengungsian ini menghadapi kondisi kemanusiaan yang sulit akibat kepadatan penduduk dan kurangnya sumber daya. Kondisi kesehatan kian memburuk, dengan penyebaran penyakit yang berkaitan erat dengan buruknya layanan publik. |
Jumlah yang terlampir dalam tabel bukan hanya sebatas angka statistik. Angka tersebut melainkan sebagai bukti bahwa setiap rupiah yang Sahabat Adara berikan telah dikonversi menjadi nafas kehidupan, butiran gandum, tetesan air, dan secercah harapan. Angka ini juga menjadi bukti bahwa kebaikan yang Sahabat Adara lakukan telah tersebar luas dengan nyata di banyak wilayah Gaza. Hal tersebut telah menjadi penopang bagi ribuan anak yatim Adara di Gaza yang telah kehilangan tulang punggungnya.
Terima kasih untuk seluruh Sahabat Adara. Bantuan yang telah diberikan meringankan tangan-tangan kecil yatim yang sedang memikul beban hidup mereka di tanah kelahiran. Mereka terus merajut daya dan upaya dengan ketabahan yang melampaui usia mereka. Dukungan dari program Dekap Yatim Palestina (DYP) setiap bulan menjadi bahan bakar yang menjaga nyala api kehidupan itu tetap hidup.
“Meskipun semua ini terjadi, aku tetap percaya bahwa Allah Swt tidak akan meninggalkan kami, dan bahwa ada hati yang penuh kasih yang akan mendengar kisahku, mengulurkan tangannya untuk membantu, lalu tegak bersama kami,” tutup Adam.
Baca kabar anak asuh bulan Februari Menguatkan Mereka yang Bertahan: Laporan Dekap Yatim Palestina







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)