Ramadan dan idulfitri merupakan momen yang paling istimewa bagi semua umat Islam di dunia, tak terkecuali Palestina. Namun demikian, perang yang dilancarkan Israel-AS ke Iran telah memberi dampak signifikan bagi wilayah tersebut, sehingga masih terus diliputi duka dan kesedihan. Warga muslim Palestina terutama di Al-Quds berduka karena untuk pertama kalinya sejak 1967 mereka tidak dapat melaksanakan shalat iedulfitri di Masjid Al-Aqsa. Adapun di Tepi Barat, isolasi ketat yang Israel terapkan dengan alasan keamanan nasional mengakibatkan kelumpuhan akses ekonomi dan mobilitas warga sipil.
Sementara di Gaza, situasi kemanusiaan semakin jauh dari batas-batas kemanusiaan. Di tengah blokade dan basa-basi gencatan senjata, jalur itu kini terperangkap dalam “titik buta” kemanusiaan. Akses bantuan internasional kian menyusut, mengancam ketersediaan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan yang selama ini sangat bergantung pada bantuan dari luar. Di sisi lain, pembatasan wilayah yang terus diperketat melalui perluasan zona militer dan infrastruktur permanen. Lebih dari separuh wilayah kini berada di bawah kendali militer, disertai penghancuran permukiman, penggusuran penduduk, dan pemasangan penghalang fisik. Akibatnya, sekitar 2,1 juta warga Palestina terdesak hidup di wilayah yang semakin sempit, yang membuat mereka harus bertahan di tenda pengungsian atau bangunan yang rusak.
Dalam situasi yang serba terbatas ini, anak-anak yatim menjadi kelompok yang paling rentan. Kehilangan orang tua, minimnya perlindungan, serta keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar membuat mereka menghadapi beban yang berlipat. Oleh karena itu, kehadiran program Dekap Yatim Palestina (DYP) tidak hanya menjadi bentuk dukungan materi, tetapi juga menghadirkan harapan dan kekuatan bagi anak-anak yatim untuk terus bertahan dan melanjutkan nafas kehidupan di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.
Alhamdulillah berkat rahmat Allah swt, di tengah sulitnya pergerakan akibat perluasan pengerahan militer Israel di gaza, tim penyaluran Adara di Gaza telah menunaikan pengiriman bantuan untuk anak-anak program DYP. Waktu pelaksanaan distribusi ini yaitu sejak Februari 2026 dan berlangsung hingga bulan Maret. Meskipun tidak mudah, namun tim lapangan telah menjangkau wilayah-wilayah terdampak berat seperti Khan Younis, Deir Balah, dan Nuseirat, sehingga akhirnya berhasil mencapai total penerima manfaat sebanyak 1.915 anak-anak yatim.
Ini tentunya tidak terlepas dari doa dan dukungan bantuan Bapak/Ibu Sahabat Adara, para orangtua asuh DYP yang masih terus membersamai Adara dan Palestina. Lebih dari sekadar bantuan, mendukung program ini adalah penguatan bagi anak-anak yatim Gaza, yang bertahan demi masa depan Palestina dan Masjid Al-Aqsa yang diberkahi.
Kondisi Umum Yatim di Gaza: Berjuang dengan Nafas Terakhir Meski Kehilangan Hampir Segalanya
Secara umum, anak-anak yatim di berbagai wilayah Gaza hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan akibat dampak perang, pengungsian massal, dan kehancuran infrastruktur. Mayoritas keluarga kehilangan rumah dan sumber penghidupan, sehingga hidup di tenda pengungsian, bangunan rusak, atau tempat penampungan yang padat dengan akses terbatas terhadap makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya kebutuhan menjelang Idulfitri dan Ramadan, karena banyak keluarga tidak mampu menyediakan makanan layak, pakaian, maupun kebutuhan dasar anak-anak.
Anak yatim di Gaza hidup dalam kondisi tidak stabil di kamp pengungsian atau tempat rusak. Aktivitas mereka fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan bantuan kemanusiaan. Mereka kadang mengikuti pendidikan darurat dan bermain secara terbatas di lingkungan yang tidak aman. Apalagi, badai beserta hujan lebat dan sistem cuaca bertekanan rendah yang kerap berlangsung di Gaza telah memaksa banyak dari mereka untuk kembali mengungsi atau mencoba memperkuat tempat mereka tinggal meski dengan bahan-bahan yang sangat terbatas.
Sementara itu, genosida yang harus mereka alami telah banyak membawa perubahan pada kondisi pendidikan, kesehatan, dan psikologis. Selama Ramadan, anak-anak mengalami penurunan kondisi kesehatan, psikologis, dan pendidikan akibat kehilangan pencari nafkah, pengungsian berulang, dan kekurangan sumber daya. Banyak juga yang mengalami malnutrisi, trauma, dan kecemasan.
Di Mana Mereka Bertahan? Potret Sebaran Lokasi Anak Yatim dan Kondisi Terkini di Penjuru Gaza
Pada Februari 2026, sebanyak 1.915 anak yatim di bawah naungan Program Dekap Yatim Palestina Adara tersebar di berbagai titik pengungsian yang sangat rentan. Berikut adalah rincian sebaran lokasi dan situasi darurat yang mereka hadapi:
| Lokasi | Jumlah Anak | Kondisi |
| Deir Balah | 310 anak | Deir al-Balah menerima banyak keluarga pengungsi yang kehilangan rumah dan sumber penghidupan akibat perang, sehingga menimbulkan tekanan kemanusiaan yang besar melebihi kapasitas kota yang terbatas. Keluarga mengalami kekurangan makanan, air, dan kebutuhan dasar, sementara anak-anak dan yatim hidup dalam kecemasan dan ketidakstabilan. Kebutuhan paket makanan, dan pakaian anak meningkat, serta dibutuhkan inisiatif kemanusiaan untuk mengembalikan kebahagiaan anak-anak. |
| Kota Gaza | 382 anak | Kota Gaza mengalami situasi kemanusiaan yang kompleks akibat kehancuran luas yang melanda berbagai wilayah. Keluarga kekurangan layanan penting seperti air dan kesehatan. Anak-anak hidup dalam lingkungan tidak stabil yang menghambat perkembangan mereka. Anak yatim menjadi kelompok paling terdampak dengan tantangan psikologis dan sosial akibat kehilangan orang tua. |
| Khan Younis | 355 anak | Khan Younis mengalami kehancuran besar dan pengungsian massal yang memperburuk kondisi kemanusiaan. Banyak anak tinggal di tempat penampungan atau rumah rusak tanpa lingkungan aman. Anak yatim mengalami trauma kehilangan dan membutuhkan dukungan pendidikan serta sosial. |
| Rafah | 220 anak | Rafah mengalami kepadatan penduduk akibat gelombang pengungsian. Banyak keluarga tinggal di tenda atau tempat penampungan padat tanpa layanan dasar. Anak-anak kehilangan lingkungan aman, dan anak yatim menghadapi tantangan psikologis yang lebih berat. |
| Gaza Utara | 182 anak | Wilayah Gaza Utara menjadi pusat penampungan ribuan pengungsi, menyebabkan kepadatan parah. Keluarga hidup dalam kondisi sulit dengan akses terbatas terhadap layanan dasar. Mereka membutuhkan bantuan makanan, pakaian, serta kegiatan rekreasi untuk anak-anak. |
| Jabalia | 164 anak | Kamp pengungsi Jabalia mengalami kehancuran luas, membuat ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan penghasilan. Banyak keluarga tidak mampu menyediakan kebutuhan dasar lebaran bagi anak-anak. Dibutuhkan bantuan makanan, pakaian, dan dukungan psikososial. |
| Beit Lahia | 67 anak | Beit Lahia terdampak berat akibat kerusakan rumah dan lahan pertanian. Hal ini meningkatkan kemiskinan dan berdampak langsung pada anak-anak, termasuk malnutrisi dan kurangnya lingkungan belajar yang stabil. |
| Nuseirat | 89 anak | Di kamp pengungsi Nuseirat, banyak anak yatim tinggal di tenda atau reruntuhan rumah. Penderitaan meningkat saat Ramadan, dengan banyak anak kehilangan pencari nafkah dan kekurangan makanan serta dukungan psikologis. |
| Beit Hanoun | 81 anak | Beit Hanoun mengalami kehancuran besar pada rumah dan infrastruktur. Keluarga hidup dalam kondisi sulit dengan akses terbatas terhadap layanan dasar. |
| Al-Maghazy | 65 anak | Penduduk kamp pengungsi Al-Maghazy menghadapi kondisi hidup yang keras akibat kerusakan rumah dan infrastruktur. Banyak keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar anak-anak, sehingga diperlukan bantuan kemanusiaan segera. |
Menguatkan Mereka, Mengalirkan Kebaikan Tanpa Henti
Beratnya situasi kemanusiaan yang dihadapi anak-anak yatim di Gaza menegaskan bahwa dukungan berkelanjutan masih sangat dibutuhkan agar mereka tetap memiliki nafas kehidupan. Anak-anak Palestina adalah anak-anak yang paling tangguh di dunia, yang tak pernah ingin pergi dari tanah air tempat mereka dilahirkan meski penjajah terus menggempur. Karena itu, menguatkan mereka berarti menguatkan nafas panjang perjuangan Palestina.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian dan komitmen yang telah Bapak/Ibu berikan. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan menghadirkan keberkahan, baik bagi para orang tua asuh maupun bagi masa depan anak-anak yatim yang kita dampingi bersama. Mari terus melangkah bersama, menjaga harapan mereka tetap hidup sehingga mereka dapat terus tumbuh menjadi generasi pejuang yang penuh dengan harapan, sebagaimana penuturan anak Gaza berikut ini.
“Assalamu’alaikum wr.wb.
Nama saya Henda Saber Abu Jaziya, usia 11 tahun. Orang bilang saya masih anak-anak, tapi kadang saya merasa lebih dewasa. Saya suka menggambar dunia yang indah—rumah utuh, langit biru, dan wajah yang tersenyum tanpa rasa takut.
Saya juga suka membuat gelang dan kalung dari manik-manik. Kami harus berpindah lima kali karena pengungsian. Saya punya dua adik, Mohammed (5 tahun) dan Ahmad (9 tahun), dan saya berusaha menenangkan mereka saat takut.
Kami akhirnya kembali ke rumah, tapi sudah rusak. Saya membuat sudut kecil untuk menggambar dan bermimpi. Saya bersyukur sehat, tapi masih khawatir harus pergi lagi.
Terima kasih atas dukungan Anda. Saya berharap suatu hari menjadi pelukis dan memberi harapan melalui karya saya.”
—Henda Saber Abu Jaziya (11 thn), Gaza.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)