“Rumah tak pernah sekadar tempat berteduh. Rumah adalah tempat di mana kehangatan dan suara menenangkan Ayah mampu meredakan ketakutan, setiap kali gemuruh ledakan mengguncang bumi di sekeliling kami,” ungkap Hala Matar (12), gadis cilik yang kini tumbuh remaja di tengah kekacauan yang melanda Gaza. Dia merupakan salah satu penerima manfaat program Dekap Yatim Palestina (DYP) hingga saat ini.
Hala Matar adalah satu dari ribuan anak Gaza yang harus menghadapi kenyataan hidup jauh lebih keras melebihi usianya. Hari-harinya diwarnai ketidakpastian dan tuntutan untuk terus bertahan. Hingga Juni 2026 ini, Hala dan anak-anak yatim di Gaza masih harus berpindah dari satu titik pengungsian ke titik lainnya—terjebak dalam pusaran pengungsian yang tak kunjung usai.
Kisah Hala bukanlah satu-satunya. Di seluruh penjuru Jalur Gaza, ribuan anak yatim menjalani takdir yang serupa. Rentan menjadi korban dalam setiap gelombang serangan, mereka terpaksa menyimpan trauma mendalam di balik binar mata yang masih kanak-kanak. Kehilangan sosok pelindung—ayah atau ibu—di tengah situasi yang serba terbatas membuat beban hidup terasa berkali-kali lipat lebih berat.
Hari-Hari yang Berlalu untuk Bertahan Hidup di Tengah Musim Panas
Musim panas yang semestinya diisi dengan keceriaan liburan kini berganti menjadi musim panas ketiga yang harus dilalui anak-anak yatim Gaza di tengah cengkeraman agresi. Alih-alih menikmati perkemahan musim panas, berwisata, atau bermain seperti sedia kala, hari-hari mereka diawali dengan perjuangan untuk bertahan hidup: mengantre air bersih di bawah terik matahari, mengantre makanan di dapur umum, hingga mencari kayu bakar. Tugas-tugas berat yang tak semestinya dipikul anak seusia mereka ini kini telah menjadi rutinitas harian.
Krisis yang berkepanjangan membuat ruang untuk berekspresi nyaris tak tersisa. Tidak ada mainan, buku tulis, krayon, ataupun selembar kertas dan pena. Di berbagai tempat pengungsian, menghafal beberapa bait ayat Al-Qur’an menjadi satu-satunya aktivitas terstruktur yang masih dapat diupayakan oleh para pengasuh—sekaligus menjadi penawar resah di tengah segala keterbatasan.
Padahal, bermain bukanlah sebuah kemewahan bagi anak-anak; bermain adalah sarana esensial untuk memulihkan jiwa mereka yang terkoyak oleh krisis. Penilaian UNICEF pada Mei 2026 turut menegaskan bahwa anak-anak di Gaza telah kehilangan lingkungan yang aman dan menstimulasi tumbuh kembang mereka, sementara anak-anak yang lebih besar terus menghadapi gangguan belajar yang berkepanjangan (UNICEF, Mei 2026; Al Jazeera, Juli 2026).
Hari-Hari yang Terombang-Ambing dalam Pengungsian yang Tak Kunjung Usai
Sejak Mei 2026, dunia anak-anak yatim di Gaza kembali diguncang oleh eskalasi agresi yang memicu gelombang pengungsian baru. Perintah evakuasi maupun instruksi untuk tetap berlindung di tempat (shelter-in-place) diterbitkan di berbagai wilayah, seperti Kota Gaza, Deir al-Balah, Al-Maghazi, Bureij, dan Nuseirat—kawasan yang selama ini menjadi benteng penampungan bagi ribuan keluarga pengungsi (UNRWA, Mei 2026). Selain itu, penguatan aktivitas militer di timur Khan Younis memaksa banyak anak berpindah berulang kali, merenggut sisa-sisa rasa aman yang mereka miliki.
Di tengah situasi yang serbakritis inilah, amanah dari Sahabat Adara terus ditunaikan. Melalui Program Dekap Yatim Palestina (DYP), sebanyak 1.898 anak yatim yang tersebar di Deir al-Balah, Kota Gaza, hingga Jabalia telah menerima bantuan bulanan dari para orang tua asuh di Indonesia. Di lokasi-lokasi tersebut, mereka bertahan hidup dalam tenda-tenda yang sesak, ruang kelas sekolah yang beralih fungsi menjadi pengungsian, atau bangunan semi-hancur—dengan akses air bersih dan sanitasi yang sangat memprihatinkan. Pengungsian yang berulang tak hanya memutus rutinitas, tetapi juga terus merusak proses pemulihan psikososial dan pendidikan mereka.
Berikut gambaran ringkas sebaran anak asuh beserta situasi di masing-masing wilayah sepanjang bulan Juni 2026:
| Wilayah | Anak Asuh | Situasi & Kondisi (Ringkas) |
| Deir al-Balah | 405 | Salah satu tujuan utama pengungsian; tekanan berat pada tempat penampungan dan layanan publik. Banyak anak tinggal di tenda sesak dengan air bersih dan sanitasi terbatas. |
| Kota Gaza | 372 | Kehancuran meluas memaksa anak bertahan di bangunan rusak dan sekolah yang penuh sesak. Layanan air, sanitasi, dan kesehatan terus memburuk. |
| Jabalia | 288 | Kehancuran luas dan lokasi pengungsian padat; sanitasi buruk serta air bersih terbatas meningkatkan risiko kesehatan anak. |
| Rafah | 220 | Kondisi kemanusiaan sangat rapuh; akses bantuan terbatas dan pasokan pokok langka, dengan kekhawatiran perlindungan anak yang meningkat. |
| Al-Maghazi | 151 | Tekanan kemanusiaan tinggi akibat kepadatan, tempat penampungan yang memburuk, dan kekurangan sumber daya pokok. |
| Khan Younis | 150 | Pengungsian berlanjut menyusul aktivitas militer dan perintah evakuasi baru di wilayah timur; banyak anak berpindah berulang kali. |
| Nuseirat | 138 | Tekanan kemanusiaan tinggi; kepadatan dan kekurangan air bersih memengaruhi kondisi hidup anak, sementara kebutuhan melampaui bantuan yang tersedia. |
| Gaza Utara | 130 | Salah satu wilayah paling hancur; kerusakan infrastruktur parah menghalangi kepulangan yang aman dan membatasi akses layanan dasar. |
| Beit Hanoun | 30 | Sebagian besar hancur; perpindahan berulang dan infrastruktur nyaris lumpuh membatasi akses kesehatan, pendidikan, dan perlindungan. |
| Beit Lahia | 14 | Kehancuran meluas dan akses kemanusiaan terbatas; layanan dasar sangat terganggu, termasuk kesehatan, air bersih, dan sanitasi. |
Total 1.898 anak asuh di sepuluh wilayah dampingan.
Di balik angka-angka itu ada wajah-wajah nyata. Sham Hamdan (10), salah satu anak yatim Gaza yang juga penerima manfaat dalam program DYP, kehilangan ayahnya justru di tengah pengungsian—ia gugur ketika sedang mencari tempat yang lebih aman bagi keluarganya. Bahkan sebelum kehilangan itu, Sham dan keluarganya telah berulang kali berpindah menghindari serangan. Kini, di usia yang masih sangat belia, ia menanggung dua beban sekaligus: pahitnya pengungsian dan kehilangan sosok pelindung utamanya.
Secercah Harapan di Ruang Belajar Darurat
Di tengah keterbatasan yang berlapis, semangat anak-anak yatim di Gaza untuk belajar tidak padam. Sepanjang bulan Mei hingga Juni 2026, banyak di antara yatim tetap mengikuti ujian akhir semester melalui pusat-pusat belajar sementara dan program pendidikan darurat yang tersedia. Di selatan Khan Younis, sebuah ruang belajar darurat (Temporary Learning Space) yang berdiri sejak 20 Mei berhasil menampung sekitar 1.600 anak hanya dalam waktu sepekan—sebuah ikhtiar untuk menjangkau anak-anak di titik yang paling membutuhkan (UNRWA, Mei 2026).
Harapan itu berlanjut menjelang tahun ajaran baru 2026-2027, ketika anak-anak kelas satu mulai didaftarkan bersekolah meski di tengah pengungsian dan gangguan yang belum usai. Bagi anak-anak yatim, ruang-ruang belajar sederhana ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan secercah keteraturan dan rasa aman yang selama ini terenggut–tempat mereka bisa sejenak kembali menjadi anak-anak.
Ketika Tubuh dan Jiwa Sama-Sama Diuji
Selain derita pengungsian, kondisi fisik anak-anak yatim di Gaza tetap sangat rentan. Terbatasnya layanan medis, kelangkaan obat-obatan, buruknya sanitasi, serta krisis gizi buruk mengintai kesehatan mereka setiap saat. Kepadatan di lokasi penampungan memicu lonjakan penyakit kulit; kasus infeksi seperti kudis (scabies) melesat tajam dari 27.000 kasus pada Maret menjadi lebih dari 36.000 kasus pada Mei (UNRWA, Mei 2026). Walau pasokan obat-obatan esensial sempat membaik, krisis bahan bakar menyebabkan pasokan listrik di shelter sekolah hanya menyala 2 hingga 3 jam sehari, yang berdampak langsung pada terhambatnya distribusi air bersih.
Di sisi lain, luka psikologis anak-anak ini kian menganga. Mereka terus bergulat dengan ketakutan, kecemasan, dan trauma mendalam akibat pengungsian berkepanjangan, kehilangan orang tua, serta ancaman yang tak kunjung mereda. Dalam ketidakpastian ini, pendampingan dari Program DYP menjadi penopang krusial—tidak hanya untuk menyalurkan kebutuhan fisik dasar, tetapi juga untuk merawat jiwa yang terluka dan menjaga nyala mimpi pendidikan mereka.
Kisah Hala Matar (12) menjadi representasi nyata dari derita ini. Sejak sang ayah gugur tertimbun reruntuhan rumah mereka, Hala memikul beban trauma yang sulit dilukiskan kata-kata. Ia berjuang untuk tegar dan membantu keluarganya—sebagaimana teladan sang ayah—namun di balik ketegaran itu, ia tetaplah seorang anak yang merindukan rasa aman. Dukungan berkelanjutan dari para donatur adalah jembatan bagi Hala dan ribuan anak asuh lainnya untuk perlahan bangkit memulihkan diri.
Di Balik Keterbatasan Kabar dari Lapangan
Kondisi dinamis di Gaza kerap menyajikan tantangan berat bagi tim Adara di lapangan. Perubahan cepat dalam situasi keamanan, perintah evakuasi mendadak, kerusakan infrastruktur komunikasi, serta tingginya mobilitas pengungsian keluarga anak asuh sering kali membuat komunikasi terputus sementara waktu. Menjangkau setiap anak, memverifikasi keadaan mereka, hingga menyusun dokumentasi secara aman membutuhkan waktu, kehati-hatian, dan proses yang panjang demi keselamatan bersama.
“Paparan serangan yang terus-menerus, terbatasnya pergerakan, dan kerusakan infrastruktur membuat kami sulit menjangkau setiap anak serta memberikan pemantauan yang berkelanjutan. Namun, keterbatasan ini tidak pernah menyurutkan komitmen kami: memelihara anak-anak yatim serta menyampaikan amanah dari para orang tua asuh agar mereka dapat bertahan hidup. Ini adalah amanah sekaligus tantangan bagi kami. Untuk merampungkan seluruh proses pendataan dan penjangkauan ini, kami memohon kesabaran karena waktu singkat tidaklah cukup untuk mengabarkan keadaan mereka satu per satu,” ungkap Baseel, salah satu anggota tim lapangan Adara di Gaza.
Amanah yang Terus Mengalir
Kebutuhan di lapangan memang masih jauh melampaui layanan yang tersedia. Namun, setiap uluran tangan Sahabat Adara turut meringankan beban anak-anak seperti Hala, Sham, dan ribuan anak yatim lainnya, sekaligus menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian menghadapi hari-hari yang berat ini. Di balik mata yang memikul trauma mendalam itu, masih ada harapan yang dijaga agar tetap menyala—dan harapan itu, hari ini, sebagian dititipkan pada kita.
Justru di sinilah dukungan Sahabat Adara paling dinantikan. Musim panas ini akan berujung pada tahun ajaran baru 2026-2027, ketika anak-anak asuh dari program Dekap Yatim Palestina mencoba kembali bersekolah di tengah pengungsian—sebagian bahkan baru pertama kali menginjak bangku kelas satu. Namun, mereka menghadapinya nyaris tanpa apa pun; tanpa buku tulis, tanpa pena, tanpa tas, dan tanpa ruang kelas yang utuh. Sementara 90 persen sekolah di Gaza telah hancur, ruang-ruang belajar darurat kini menadi satu-satunya pintu yang tersisa bagi mereka untuk belajar. Setiap dukungan yang Sahabat Adara titipkan—untuk perlengkapan belajar, pendampingan guru, maupun ruang belajar dan pemulihan jiwa—berarti satu anak yatim yang tidak kehilangan masa depannya. Mari terus menemani mereka agar di balik mata yang memikul trauma itu tetap tumbuh cita-cita yang layak diperjuangkan.
Baca selengkapnya Ketika Dunia Terus Berubah, Anak-Anak Gaza Tetap Berjuang – Laporan Perkembangan DYP April dan Mei 2026







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)