Di kamp-kamp pengungsian Lebanon dan Suriah, Juni adalah bulan ketika sekolah-sekolah menutup pintunya dan udara mulai memanas. Bagi anak-anak di banyak tempat lain di dunia, libur musim panas berarti perjalanan dan istirahat panjang. Bagi anak-anak Palestina di pengungsian, libur panjang sering kali berarti sesuatu yang lain: waktu kosong yang panjang di gang-gang sempit, di antara rumah-rumah yang berdesakan, di bawah bayang-bayang situasi keamanan yang belum juga reda.
Bulan ini, Sahabat Adara telah menjaga anak-anak asuh Program Hidupkan Ahlul Quran (HAQ) dari kekosongan itu. Sepanjang Juni, para siswa HAQ tidak duduk menunggu tahun ajaran baru. Mereka pindah dari bangku sekolah ke halakah musim panas yang diselenggarakan markaz-markaz Al-Quran tim lapangan Adara.
Dua Bulan yang Tidak Dibiarkan Kosong
Sejak awal Juni, para siswa kami dibagi ke dalam berbagai kegiatan musim panas yang dikelola markaz-markaz Al-Quran. Program ini dirancang untuk mengisi seluruh rentang libur— kurang lebih dua bulan— hingga tahun ajaran berikutnya dimulai.
Isinya bukan sekadar pengisi waktu. Di jantung kegiatan ada sesi hafalan Al-Quran dan musabaqah antarsiswa yang menjaga ritme setoran anak-anak tetap hidup meski sekolah formal libur. Di sekelilingnya, markaz menyusun program pendidikan tambahan: penanaman nilai akhlak melalui keteladanan, sirah, dan kisah-kisah para salaf. Di luar kelas, ada kegiatan olahraga dan permainan fisik yang membuat anak-anak kembali berlari, tertawa, dan bergerak bebas
Bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perang, pengeboman, dan ketegangan keamanan yang berkepanjangan, justru kegiatan dan rihlah inilah yang paling mereka nantikan. Para pengasuh di lapangan mencatat bahwa daya tarik terbesar program musim panas bukan pada materi pelajarannya semata, melainkan pada rasa aman dan kegembiraan yang selama ini jarang mereka miliki.
Inilah tujuan dari membiayai seorang pelajar Al-Quran: menghadirkan lingkungan pendidikan yang layak, tempat seorang anak dapat menghafal, memahami, dan merenungkan kitabullah dengan tenang—tanpa terlebih dahulu harus memenangkan pertarungan melawan keadaan di sekitarnya.
Lebanon: Belajar di Tenah Keadaan yang Belum Reda
Kegiatan musim panas ini berlangsung di atas latar yang tidak ringan. Sejak awal Maret 2026, Lebanon kembali memasuki fase darurat kemanusiaan. UNRWA mengaktifkan respons daruratnya pada 4 Maret dan membuka dua tempat penampungan bagi keluarga pengungsi, sementara Kementerian Sosial Lebanon mencatat lebih dari satu juta orang mengalami perpindahan paksa akibat eskalasi tersebut.
Tekanan itu terasa sampai ke dalam kamp. Kedua belas kamp pengungsi Palestina di Lebanon menghadapi lonjakan kebutuhan air dan sanitasi seiring masuknya keluarga-keluarga terlantar, dengan sistem sumur yang harus dipompa lebih lama dan bergantung pada generator ketika listrik tidak stabil. Kepadatan yang meningkat memperbesar risiko perlindungan bagi anak-anak, sementara banyak keluarga kehilangan mata pencaharian di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Skala kebutuhan psikososialnya pun besar. Dalam periode 17 Juni hingga 14 Juli, tim pekerja sosial UNRWA menangani 905 kasus pendampingan di seluruh Lebanon — mencakup anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia — dengan isu utama kesehatan mental, perlindungan anak, dan hilangnya pendapatan keluarga. Sejak awal keadaan darurat, lebih dari sembilan ribu orang telah menerima dukungan psikososial.
Di tengah angka-angka itulah anak-anak asuh kami berangkat ke markaz setiap pagi. Kelas menghafal Al-Quran, musabaqah, dan permainan sore hari bukan sekadar kegiatan pendidikan; ia berfungsi sebagai ruang aman — tempat seorang anak boleh menjadi anak-anak kembali.
Suriah: Dua Bulan Pertama, dan Perubahan yang Terlihat
Tim Adara di lapangan melaporkan antusiasme yang tinggi dan semangat baru di antara para siswa: kehadiran di kelas meningkat, dan komitmen mereka untuk menuntaskan pembiayaan kelas terjaga. Perubahan ini mungkin tampak sederhana di atas kertas. Namun bagi anak-anak yang keluarganya hidup di bawah tekanan ekonomi berat, keputusan untuk tetap datang ke halakah adalah keputusan yang mahal — dan itu menjadi ukuran paling jujur tentang keberhasilan sebuah program.
Sekitar 438.000 pengungsi Palestina masih bertahan di Suriah; hampir 60 persen di antaranya pernah mengalami pengungsian setidaknya satu kali, dan sekitar 40 persen diperkirakan masih dalam status terlantar hingga kini. Survei UNRWA mencatat bahwa 89 persen dari populasi ini hidup dengan 2,15 dolar AS atau kurang per hari. Di tengah keterbatasan sebesar itu, sebuah kursi di kelas Al-Qur’an bukan perkara kecil.
Layanan pendidikan pun masih dalam masa pemulihan panjang setelah lebih dari satu dasawarsa konflik. Program pendidikan dasar UNRWA di Suriah kini melayani sekitar 50.500 siswa di 104 sekolah, sementara upaya pemulihan akses pendidikan di kamp-kamp seperti Yarmouk baru berjalan bertahap. Di ruang yang tersisa itulah markaz-markaz Al-Qur’an mitra kami bekerja — melengkapi, bukan menggantikan, dan menjangkau anak-anak yang paling berisiko tertinggal.
Amanah yang Sampai
Seluruh dampak dan ikhtiar ini bermuara pada satu hal: pahala bagi setiap tangan yang terulur menopang anak-anak Palestina dalam program HAQ. Pada Juni ini, dana bulanan dari Sahabat Adara telah tersalurkan kepada 499 anak asuh yang tersebar di pengungsian Lebanon dan Suriah — memastikan setiap amanah sampai kepada mereka yang berhak. Sahabat Adara tidak sedang membiayai sebuah kelas. Sahabat Adara sedang menjaga agar hafalan seorang anak tidak terputus di musim panas, agar ia memiliki tempat yang aman untuk pulang setiap siang, dan agar hubungannya dengan Al-Qur’an tetap tersambung di tengah keadaan yang berkali-kali mencoba memutuskannya.
Menjelang tahun ajaran baru, kami memohon doa dan dukungan Sahabat Adara agar anak-anak ini kembali ke kelas dengan hafalan yang bertambah dan hati yang lebih tenang. Semoga Allah menerima amanah ini dari kita semua, dan menjadikannya jariyah yang tidak terputus.
Baca selengkapnya Menjaga Ayat di Atas Tanah yang Runtuh: Kabar dari 468 Anak Palestina yang Menolak Menyerah








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)