Kenyataan hidup di kamp-kamp pengungsian Lebanon masih teramat mencekam. Meskipun gencatan senjata kerap diumumkan di atas kertas, manifestasi perang di lapangan nyaris tidak berubah. Desing peluru, ancaman pembunuhan, evakuasi wilayah secara mendadak, hingga migrasi paksa masih menjadi makanan sehari-hari yang harus dihadapi anak-anak ini.
Namun, asa terbukti lebih kuat dari rasa takut. Di balik pekatnya debu serangan yang menyelimuti bumi Syam, sebuah perjuangan sunyi namun bertenaga sedang berlangsung. Sebanyak 468 anak pengungsi Palestina yang tersebar di wilayah Lebanon dan Suriah menolak untuk menyerah pada keadaan. Melalui program Hidupkan Ahlul Quran (HAQ), anak-anak ini menjadikan ayat-ayat suci sebagai banteng pertahanan jiwa dan lentera mereka di tengah badai krisis yang terus mengikis masa depan mereka.
Bukan perkara mudah bertahan di tanah pengungsian yang kian sesak dan tak menentu. Data resmi UNRWA per Mei 2026 mencatat bahwa di Lebanon, serangan demi serangan terus terjadi. Lebih dari 1.200 orang dari ratusan keluarga masih berpindah dari satu titik penampungan darurat ke titik lainnya, sementara hanya 21 dari 26 fasilitas kesehatan UNRWA yang masih sanggup beroperasi. Sekolah-sekolah tutup, klinik kewalahan, dan beberapa markaz Al-Quran yang selama ini menjadi tumpuan spiritual pun terpaksa menutup pintunya demi keselamatan. Di Suriah, kondisi tak kalah menyesakkan: 92 persen dari 438.000 pengungsi Palestina yang tersisa menghadapi kerawanan pangan, dan 89 persen di antaranya hidup dengan kurang dari 2,15 dolar AS per hari—angka yang menegaskan betapa tipis jarak antara bertahan hidup dan menyerah pada keadaan.
Namun, di tengah semua itu, 468 anak ini memilih jalan yang berbeda.
Lebanon: Menghidupkan Kembali Markaz Quran di Sela Agresi
Memanfaatkan momentum tenang di penghujung bulan Dzulhijjah lalu, para pengajar dan santri di Markaz Quran Program HAQ bergerak cepat menghidupkan kembali pusat-pusat bimbingan (markaz) Al-Quran yang sempat sunyi akibat rentetan agresi. Jeda perang yang singkat itu langsung dipenuhi dengan riuh suara anak-anak yang menyetor hafalan, majelis zikir, doa bersama, hingga seminar pendidikan. Bagi mereka, halaqah Quran bukan sekadar ruang kelas, melainkan tempat bernaung yang aman sekaligus sumber kekuatan psikologis untuk bertahan di masa-masa sulit.
Perjuangan di bawah bayang-bayang bahaya itu akhirnya membuahkan hasil yang paling indah. Di tengah puing-puing pengungsian, dua siswa bimbingan Adara berhasil menuntaskan hafalan seluruh Al-Quran (30 juz). Mereka adalah Dalal Abu Naaj dan Nuh Ismail.
Keberhasilan Dalal dan Nuh menjadi bukti nyata bahwa waktu, tenaga, dan dukungan yang dikirimkan oleh Sahabat Adara dari jarak ribuan kilometer telah mewujud menjadi benteng pelestari Al-Quran. Di tengah kekacauan yang melanda Lebanon, tumbuh generasi tangguh yang siap menjaga panji Islam langsung di dalam dada mereka.
Suriah: Menyalakan Lentera Baru di Atas Puing Tragedi 13 Tahun
Bulan Mei 2026 menjadi penanda babak baru bagi program HAQ. Atas izin Allah, kisah keteguhan para penghafal Al-Quran kini meluas ke wilayah Suriah, sebuah negara yang menjadi saksi salah satu perang paling mengerikan di era modern. Ini menjadi sebuah langkah kecil yang menyimpan makna besar, sebuah pintu yang Allah buka di antara pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat oleh derita.
Suriah menyimpan luka yang sangat dalam. Tiga belas tahun perang melanda negara ini dan telah merenggut sekitar satu juta nyawa, mengusir jutaan orang dari rumah merea dan melumat seluruh kota menjadi puing. Pengungsi Palestina di Suriah menanggung beban berlapis: mengungsi dari Palestina, lalu mengungsi lagi di dalam Suriah, dari satu kamp ke kamp lain, dari satu kesengsaraan ke kesengsaraan berikutnya. Kamp Yarmouk yang pernah berdenyut sebagai pusat kehidupan terbesar pengungsi Palestina di Suriah kini sebagian besar masih berupa reruntuhan, begitu pula Ein el Tal dan Dera’a. UNRWA mencatat bahwa kehancuran kamp-kamp ini masih menjadi hambatan paling berat bagi para pengungsi untuk memulai kembali kehidupan yang layak.
Namun, titik balik mulai terlihat. Seiring pergerakan warga dan pengungsi yang mulai kembali ke wilayah mereka pasca-pembebasan Suriah, kebutuhan akan pemulihan mental dan pendidikan menjadi sangat mendesak. Al-Quran, sebagaimana yang pernah diwahyukan untuk menguatkan hati Baginda Nabi di masa-masa sulit, kini menjadi obat penawar trauma bagi anak-anak pengungsi di sana.
Melihat kebutuhan yang begitu besar, program HAQ resmi memperluas jangkauannya ke Suriah. Sebagai langkah awal, sebanyak 13 anak pengungsi Palestina di Suriah telah resmi menerima bantuan pendidikan. Dukungan ini menjadi bahan bakar baru bagi mereka untuk terus membersamai Al-Quran, mendalami maknanya, dan membangun kembali karakter muslim yang sejati di atas tanah yang runtuh.
Bersama Menjadi Bagian dari Keteguhan Mereka
Sahabat Adara, di balik angka 468 yang tersebut dalam laporan ini, ada kisah 468 kisah nyata tentang anak-anak yang setiap harinya harus memilih: menyerah pada rasa takut, atau terus melangkah bersama Al-Quran. Mereka memilih yang kedua, hari demi hari, di sudut-sudut sempit kamp yang tak pernah mereka bayangkan akan menjadi rumah mereka.
Setiap dukungan yang diberikan bukan hanya angka atau materi, melainkan sebongkah cinta yang menjelma menjadi keteguhan jiwa, memeluk mimpi-mimpi mereka yang sempat retak oleh desing peluru. Dukungan Sahabat Adara adalah alasan markaz-markaz kembali membuka pintunya. Dukungan Sahabat Adara adalah yang membuat Dalal dan Nuh— dua anak pengungsi di tanah Lebanon— hari ini bisa berdiri sebagai penghafal kalam ilahi yang telah menyempurnakan 30 juz Al-Quran di dalam dada mereka. Dari dukungan Sahabat Adara pula yang kini untuk pertama kalinya membawa program HAQ menapaki tanah Suriah, menjangkau 13 anak yang selama ini menanti uluran tangan.
“Yang terbaik di antara kalian adalah orang-orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” — HR. Bukhari
Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari golongan itu. Semoga setiap rupiah yang Sahabat titipkan menjadi cahaya yang menemani perjalanan mereka — dan perjalanan kita — hingga ke hadapan-Nya. Aamiin yaa Rabbal aalamin.
Baca selengkapnya kabar anak asuh bulan sebelumnya








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)