Genosida reproduktif terhadap rakyat Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun, menurut laporan terbaru Palestinian Feminist Collective. Laporan itu menyebut genosida reproduktif meningkat tajam sejak agresi Gaza pada Oktober 2023. Selain itu, serangan Israel menghancurkan layanan kesehatan, membunuh ibu dan anak, serta merusak lingkungan hingga mengancam kesuburan.
Kondisi ini menunjukkan genosida reproduktif tidak hanya menargetkan manusia, tetapi juga keberlangsungan generasi Palestina. Oleh karena itu, para peneliti menyebut genosida reproduktif sebagai bagian dari strategi sistematis yang menjadi ancaman jangka panjang bagi masa depan Palestina.
Laporan setebal 188 halaman itu menggabungkan kesaksian penyintas, arsip Israel, penelitian akademik, dokumentasi hak asasi manusia, serta laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Temuannya menyebut Israel menghancurkan ruang bersalin, klinik fertilitas, dan unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir di Gaza.
Sejak Oktober 2023, PBB mencatat lebih dari 21.000 anak Palestina terbunuh. Selain itu, sekitar 5.160 anak diperkirakan masih tertimbun reruntuhan. Hingga Oktober 2024, sedikitnya 15.000 anak kehilangan ibu mereka.
Pada awal agresi, terdapat sekitar 50.000 perempuan hamil di Gaza. Namun, serangan terus-menerus membuat layanan persalinan darurat hampir mustahil tersedia. Akibatnya, keguguran meningkat lebih dari 300 persen. Malnutrisi, anemia, dan kekurangan suplemen kehamilan memperburuk risiko kelahiran prematur serta pendarahan.
Laporan itu juga menyoroti kisah Rania Abu Anza salah satu warga Gaza. Setelah menjalani program bayi tabung selama sepuluh tahun, ia akhirnya melahirkan anak kembar. Namun, serangan udara Israel membunuh kedua bayinya bersama sang ayah pada Maret 2024. Menurut laporan tersebut, kisah itu hanya sebagian kecil dari penderitaan yang dialami keluarga Palestina.
Sumber: MEE








