Palestina kembali menjadi sorotan setelah penyelidikan mengungkap perubahan label di Museum Inggris (British Museum). Perubahan itu terjadi dengan menghapus atau mengganti sejumlah penyebutan Palestina pada koleksi sejarah kuno. Selain itu, dokumen internal menunjukkan keputusan tersebut muncul setelah mendapat tekanan dari kelompok pro-Israel pada 2024. Akibatnya, penyebutan Palestina berkurang di berbagai galeri. Padahal, penggunaan istilah Palestina dalam konteks sejarah sudah berlaku cukup lama. Banyak pihak menilai penghapusan Palestina merupakan bentuk pengaburan sejarah.
Dokumen yang diperoleh melalui permintaan informasi publik membantah klaim museum mengenai “uji audiens”. Pihak museum sebelumnya menyatakan pengunjung tidak lagi memahami istilah Palestina. Namun, penyelidikan menemukan tidak ada riset atau pengujian yang mendukung alasan tersebut.
Surel internal juga menunjukkan museum segera menindaklanjuti keluhan sejumlah tokoh dan organisasi pro-Israel. Bahkan, beberapa perubahan mendapat persetujuan hanya dalam hitungan jam. Setelah itu, label seperti “keturunan Palestina” berubah menjadi “keturunan Kanaan”. Selain itu, frasa “pendudukan Israel” juga dihapus dari panel pameran.
Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, mengecam langkah tersebut. Menurutnya, penghapusan sejarah Palestina berarti menghapus identitas dan masa depan rakyat Palestina. Sementara itu, aktivis solidaritas Palestina menilai museum telah tunduk pada tekanan politik.
Penyelidikan juga menyoroti perbedaan antara pernyataan publik dan komunikasi internal museum. Banyak sejarawan mempertanyakan independensi Museum Inggris (British Museum) serta mendesak pihak museum untuk memulihkan seluruh penyebutan Palestina dan menjaga integritas sejarah tanpa campur tangan politik.
Sumber: MEE








