Seorang pejabat medis senior Palestina memperingatkan bahwa 3.958 kasus keguguran tercatat di Jalur Gaza selama paruh pertama tahun 2026. Ia juga menggambarkan angka tersebut sebagai peningkatan yang “belum pernah terjadi sebelumnya”. Sebab, genosida Israel terus menghancurkan layanan kesehatan ibu dan reproduksi.
Dr. Bassam Zaqout, Direktur Lembaga Bantuan Medis Palestina di Gaza, menghubungkan peningkatan tersebut dengan kondisi berat yang ibu hamil alami. Zaqout juga menyoroti ketiadaan air panas dan produk kebersihan, penyebaran penyakit di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak, dan kurangnya akses yang aman dan konsisten terhadap perawatan medis. Genosida telah menyebabkan kelangkaan obat-obatan, peralatan diagnostik, dan perlengkapan laboratorium yang parah. Kondisi ini telah menyebabkan fasilitas kesehatan yang tersisa di Gaza tidak mampu menyediakan banyak layanan penting.
Data terpisah dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa 921 kasus keguguran dan 2.004 kelahiran hidup tercatat hanya pada bulan April. Ini berarti sekitar 460 kasus keguguran untuk setiap 1.000 kelahiran hidup. Angka ini melonjak tiga kali lipat dari angka umumnya dalam kondisi normal.
Baca juga: Tragedi Masafer Yatta: Serangan Pemukim Israel Sebabkan Ibu Hamil Kehilangan Janin dan Gelombang Kekerasan Landa Tepi Barat
Jumlah kelahiran yang terdaftar juga menurun tajam. Petugas kesehatan mencatat 5.210 kelahiran hidup pada Januari, 3.433 pada Februari, 3.233 pada Maret, dan 2.004 pada April. Kementerian Dalam Negeri Gaza kemudian mencatat 1.701 kelahiran pada bulan Mei. Sebagai perbandingan, data bulan April 2026 merosot tajam hingga sekitar 67 persen jika dibandingkan dengan 6.076 kelahiran yang tercatat pada November 2025.
Para ahli memperingatkan bahwa angka-angka tersebut mungkin belum mencakup keseluruhan gambaran nyata di lapangan akibat runtuhnya sistem informasi kesehatan. Organisasi Physicians for Human Rights bersama Global Human Rights Clinic di Universitas Chicago sebelumnya telah mencatat bahwa keterbatasan pengumpulan data sistematis membuat laporan kesehatan reproduksi saat ini cenderung berada di bawah angka sebenarnya (underreported).
Dana Kependudukan PBB (UNFPA) turut memperingatkan bahwa krisis pangan ekstrem, trauma psikologis mendalam, dan kelumpuhan layanan medis memberikan dampak yang sangat mematikan bagi ibu hamil serta bayi baru lahir. Sebagai gambaran, paruh pertama tahun 2025 hanya mencatat sekitar 17.000 kelahiran, jauh merosot dibandingkan 29.000 kelahiran pada periode yang sama di tahun 2022. Tragisnya lagi, sepertiga dari bayi yang lahir sepanjang 2025 tercatat lahir prematur, mengalami berat badan lahir rendah, atau membutuhkan perawatan intensif neonatal (NICU).
Komisi Penyelidikan PBB menyimpulkan bahwa penghancuran sistematis sistem perawatan kesehatan Gaza oleh Israel dan serangannya terhadap klinik kesuburan Al-Basma merupakan kekerasan reproduksi. Komisi tersebut menemukan bahwa Israel melakukan penghancuran klinik, termasuk ribuan embrio yang tersimpan dan spesimen reproduksi lainnya. Tindakan ini merupakan rencana Israel untuk mencegah kelahiran warga Palestina dan merusak keberlangsungan kelompok tersebut di masa depan.
Sumber: MEMO








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)