Tim Pertahanan Sipil Gaza bersama Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mulai mengevakuasi 13 jenazah dari reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan Israel di kawasan Al Katiba, sebelah barat Kota Gaza, pada Selasa (11/8/2026). Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyampaikan bahwa serangan tersebut membunuh banyak warga, dengan korban yang terdiri dari perempuan, anak-anak, dan lansia.
Dalam proses evakuasi ini, tim di lapangan menghadapi kendala berat akibat keterbatasan alat berat, bahan bakar, perlengkapan, serta alat pelindung diri. Bahkan, petugas terkadang harus mengevakuasi jenazah dan puing-puing bangunan menggunakan tangan kosong.
Basal memperingatkan bahwa ribuan jenazah Palestina lainnya kemungkinan masih tertimbun di bawah bangunan yang hancur di Gaza. Menurutnya, tanpa tambahan sumber daya, proses evakuasi dapat berlangsung hingga bertahun-tahun.
Tahap kedua operasi ini telah mulai pada 19 Juli. Program tersebut menargetkan 147 rumah hancur di Kota Gaza, Gaza utara, dan Gaza tengah.
Menurut Basal, sekitar 1.072 jenazah Palestina masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang menjadi sasaran operasi tahap kedua. Pada tahap pertama, tim menemukan 333 jenazah dan sisa tubuh dari 54 bangunan.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sekitar 9.500 warga Palestina telah hilang sejak awal agresi genosida.
Angka tersebut mencakup mereka yang kemungkinan tertimbun reruntuhan maupun yang nasibnya masih belum diketahui.
Sumber: TRT World








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)