JAKARTA – Adara Relief International menggelar Saladin Leadership Circle #1 sebagai kelas perdana dalam rangkaian Saladin Mission Leadership Program pada Ahad (26/7). Bertempat di WAMY Jagakarsa, sebanyak 94 peserta mengikuti kelas ini dengan penuh antusias.
Saladin Mission merupakan program pengembangan kepemimpinan bagi pemuda yang akan berlangsung selama satu tahun. Rangkaiannya meliputi kelas inkubasi, sesi mentoring, hingga presentasi akhir sebagai bentuk implementasi pembelajaran.

“Kita mengambil visi Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai inspirasi. Pembebasan Baitul Maqdis tidak mungkin dilakukan oleh satu atau dua orang, tetapi membutuhkan generasi yang memiliki visi perjuangan yang sama,” ujar Fathimah, Project Leader Saladin Mission.
Melalui program ini, peserta tidak hanya diajak menumbuhkan kepedulian terhadap Palestina, tetapi juga memahami strategi pembebasan Baitul Maqdis melalui pembelajaran sejarah, kepemimpinan, dan peradaban Islam. Harapannya, setiap peserta mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk berkontribusi dalam perjuangan membela Palestina.
Menilik Ulang Sejarah untuk Meluruskan Arah Perjuangan Palestina

Pada sesi pertama, Edgar Hamas mengajak peserta mempelajari sejarah para pembebas Masjid Al-Aqsa.
“Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi sama-sama membangun tiga fondasi sebelum pembebasan Al-Aqsa. Yaitu, kemurnian akidah, persatuan umat, dan generasi yang terdidik,” ujar Edgar.

Sesi berikutnya, Dr. Akmal Sjafril membahas berbagai distorsi ideologi dalam perjuangan Baitul Maqdis.
“Kita harus memiliki winning mentality dan growth mindset dalam perjuangan membebaskan Baitul Maqdis. Apa yang kita perjuangkan hari ini belum tentu kita saksikan hasilnya pada masa kita. Namun, setiap generasi tetap memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan kemenangan itu,” jelasnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kelas perdana Saladin Leadership Circle ini berlangsung. Salma, salah satu peserta, mengaku kelas ini membantunya memahami akar perjuangan Palestina dari perspektif sejarah dan akidah.
“Kelas ini meluruskan gimana akar basis dari pergerakan kita terhadap Palestina. Kalau fondasinya salah, takutnya perjuangan kita juga akan melenceng,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Shely. Menurutnya, kelas ini mengubah cara pandangnya terhadap perjuangan Palestina.
“Kita tidak boleh hanya berhenti pada rasa sedih atau marah. Emosi harus menjadi bahan bakar untuk menambah ilmu. Dengan ilmu, semangat perjuangan kita tidak akan bergantung pada algoritma,” katanya.
Melalui Saladin Mission, Adara berharap semakin banyak pemuda muslim yang membangun misi pembebasan Palestina di atas fondasi ilmu, kepemimpinan, dan pemahaman yang utuh.








