JAKARTA – Direktur Utama Adara Relief International, Maryam Rachmayani, menghadiri Simposium Masjidil Aqsa dan Palestina (SIMATINA) 2026. Bertepatan dengan peringatan 57 tahun tragedi pembakaran mimbar Masjid Al-Aqsa,
SIMATINA 2026 menjadi momentum untuk menguatkan kembali komitmen Asia Pasifik untuk Al-Quds. Peresmian Headquarters APCQP turut menjadi bagian dari kegiatan ini. Agenda ini berada di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara DPR RI pada Senin (31/8).
Mengangkat tema “Melawan Penistaan Masjidil Aqsa dan Penjajahan Palestina”, forum ini mempertemukan ulama, tokoh, aktivis, parlemen, dan berbagai elemen masyarakat. Forum ini membahas berbagai langkah untuk menjaga Al-Quds dan memperkuat dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
Memperkuat Perjuangan untuk Masjidil Aqsa

Dalam sambutannya, Wakil Ketua BKSAP DPR RI Dr. Syahrul Aidi Maazat menegaskan bahwa perlindungan Masjidil Aqsa bukan hanya tanggung jawab rakyat Palestina. Dunia Islam dan masyarakat internasional juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.
“Kita harus melawan adalah pendudukan dan penjajahan. Perlindungan terhadap sipil dan hukum internasional harus menjadi fokus utama,” ujarnya.
“Setiap hari pembakaran masih menyala. Cukuplah penderitaan ini hingga kita padamkan api yang membakar Palestina. Semoga rakyat Palestina dapat hidup dengan aman dan tenteram seperti masyarakat di belahan dunia lainnya,” tutur Dr. Muhammad Al-Hajj dari Umana Al-Aqsa.
Atas nama bangsa Palestina, beliau mengucapkan bela sungkawa atas bencana alam yang menimpa Indonesia.
Selanjutnya, berlangsung peresmian Headquarters APCQP oleh Prof. Sudarnoto Abdul Hakim sebagai Direktur Eksekutif. Beliau menyebutkan bahwa Headquarters ini akan menjadi simpul koordinasi lintas sektor di Asia Pasifik untuk kemerdekaan Palestina dan Al-Quds.
Kegiatan ini menjadi lanjutan dari Peresmian Headquarters di MUI di Wisma Khadimul Ummah, Kantor MUI Pusat pada 21 Agustus lalu. MUI juga siap mendukung penuh setiap operasional APCQP.
Nantinya, Headquarters APCQP ini akan menjalankan enam bidang strategis, meliputi diplomasi, program dan keanggotaan, akademisi, penelitian, media, serta operasional.
Enam bidang strategis ini akan dijalankan dengan kolaborasi berbagai elemen, seperti sipil, lembaga, serta parlemen untuk memperkuat perjuangan Asia Pasifik untuk Palestina.
“Perjuangan ini tidak boleh berhenti. Selama Palestina masih menghadapi penjajahan maka isu Palestina harus terus disuarakan,” imbuh Syahrul.
Langkah Nyata Indonesia untuk Palestina
Sesi siang berlanjut dengan pembahasan tentang langkah nyata yang dapat dilakukan untuk Palestina.

Dr. Hidayat Nur Wahid menuturkan bahwa perjuangan pembebasan Masjidil Aqsa berawal dari perjuangan memperbaiki peradaban.
“UNESCO sudah meresmikan Masjid Al-Aqsa sebagai warisan peradaban Islam. Ketika Israel menyerang Al-Aqsa, maka mereka turut merusak tatanan global.”
Sementara itu, Dr. Mardani Ali Sera mendorong publik untuk terus menyuarakan Palestina. “Jika sentiman publik meningkat, maka pemerintah tak bisa mengelak, seperti pada Global Sumud Flotilla,” ungkapnya. Beliau juga menuturkan bahwa parlemen terus melakukan serangkaian upaya untuk mendesak kemerdekaan Palestina.
Selanjutnya, Dr. Moraweh Nassar menilik kembali sejarah Masjid Al-Aqsa dan jejak para nabi di dalamnya. Namun, sejak Naksah 1969 Al-Aqsa terus dinodai Zionis Israel. “Dua miliar Muslim berhadapan dengan lima juta Yahudi. Ini adalah aib yang sangat nyata,” tegasnya. Maka, ia menekankan bahwa kecintaan terhadap Masjid Al-Aqsa harus mendorong aksi nyata dengan segala kontribusi yang bisa kita lakukan untuk mendukung Palestina.
Kemudian, Prof. Sudarnoto menyoroti program pengembangan diri dari Israel yang menyasar masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Program ini menjadi bagian dari kampanye anti-semit dengan menargetkan negara muslim sebagai sasaran utama. Jika anti-semit berlaku, maka lembaga Islam bisa dicap sebagai teroris.
Pada sesi tanggapan, Chiki Fawzi menilai Indonesia perlu memperkuat sikapnya terhadap Zionisme. “Indonesia tidak cukup menjadi negara pro-Palestina, Indonesia perlu menjadi anti-Zionis,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Mardani menyoroti pola multi-identity yang memungkinkan warga Israel masuk ke berbagai negara. Ia mendorong pembangunan satgas antara sipil bersama imigrasi.
Di sisi lain, Husein Gaza menegaskan dukungan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Ia menyebut sekitar 200 juta umat Muslim Indonesia siap mendorong pengesahan RUU Boikot.

Kehadiran Adara dalam SIMATINA 2026 menjadi bagian dari komitmen lembaga untuk terus memperkuat jejaring dan kolaborasi bagi Palestina. Melalui sinergi lintas sektor, Adara berharap dukungan untuk Palestina terus tumbuh menjadi gerakan yang lebih kuat, terarah, dan berkelanjutan.








