Situasi keamanan di wilayah Tepi Barat yang diduduki semakin memburuk menyusul gelombang serangan brutal yang dilakukan oleh pasukan dan pemukim Israel, yang mengakibatkan sedikitnya 14 warga Palestina dan dua jurnalis asing mengalami luka-luka di berbagai wilayah.
Di Qusra, puluhan pemukim menyerang rumah warga Palestina menggunakan batu dan gas air mata. Sekitar tujuh orang terluka, sebagian besar akibat menghirup gas. Pengepungan terhadap tiga rumah di Qusra juga memasuki hari ke-21. Kondisi tersebut menyulitkan keluarga mendapatkan makanan, air, dan kebutuhan sehari-hari.
Di Jalud, pemukim menyerang sebuah keluarga Palestina dan dua jurnalis asing yang mendampingi mereka. Seorang pria dan istrinya mengalami memar, sementara kedua jurnalis mengalami luka setelah pemukim pukuli.
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Palestina merawat dua korban tembakan pasukan Israel di Kamp Al-Amari, Al-Bireh. Salah satunya merupakan anak berusia 15 tahun. Di Ramallah, tiga warga Palestina juga terluka dalam serangan pemukim. Seorang pria mengalami luka akibat pemukulan berat dan kehilangan kendaraannya. Selain itu, dua perempuan lanjut usia terluka saat memanen buah ara di tanah mereka.
Kementerian Luar Negeri Palestina memperingatkan bahwa eskalasi di Tepi Barat bertujuan mengisolasi wilayah dan mendorong penduduk untuk mengungsi. Pernyataan tersebut merujuk pada pengepungan di Al-Mughayyir yang berlangsung sekitar 20 hari.
Menurut kementerian, warga hanya mendapat waktu dua jam sehari untuk bergerak. Ambulans juga Israel larang memasuki wilayah tersebut. Komisi Perlawanan Permukiman dan Tembok mencatat 2.256 serangan terhadap warga, tanah, dan properti Palestina sepanjang Juli. Sebanyak 1.458 serangan oleh pasukan Israel dan 798 oleh pemukim.
Sejak agresi genosida Gaza dimulai pada Oktober 2023, serangan di Tepi Barat terus meningkat. Bersamaan dengan itu, pembangunan permukiman dan pembatasan pergerakan warga Palestina juga semakin meluas. Pemerintah Palestina menyerukan tindakan internasional yang lebih tegas untuk menghentikan kekerasan di Tepi Barat.
Sumber: MEMO








