Musim panas belum juga usai di kamp-kamp pengungsian Lebanon dan Suriah. Sekolah-sekolah masih menutup pintunya, udara masih panas, dan bagi banyak anak, hari-hari libur yang panjang mudah berlalu begitu saja—larut di gang-gang sempit di antara rumah-rumah yang berdesakan. Namun, di berbagai markaz Al-Qur’an, ada satu hal yang tidak ikut libur: langkah para penghafal Palestina menuju halaqah mereka, hari demi hari, sepanjang Juli ini.
Daurah-daurah musim panas terus berjalan tanpa jeda. Di ruang-ruang sederhana itu, anak-anak asuh Sahabat Adara mengisi waktu mereka dengan menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu-ilmu keislaman, ditemani aktivitas pendidikan dan rekreasi yang telah disusun dengan matang. Dan seperti pada bulan-bulan sebelumnya, kabar yang sampai dari lapangan adalah kabar yang membesarkan hati.
Belajar dari Mereka yang Telah Sampai

Di markaz, hari-hari anak-anak dirancang dengan sengaja. Ada sesi menghafal, ada pelajaran keislaman, ada pula ruang untuk bergerak dan beristirahat—semuanya diarahkan untuk menumbuhkan, bukan sekadar menyibukkan. Bagi seorang anak yang besar di tengah keterbatasan pengungsian, ruang seperti ini menjadi tempat dia perlahan menemukan arah dan bentuk dirinya.
Di antara seluruh kegiatan, ada yang paling dinanti para murid: kunjungan ke markaz-markaz Al-Qur’an dan sharing session bersama para penghafal Al-Qur’an. Di sanalah para penghafal Palestina yang lebih muda bertemu langsung dengan mereka yang telah lebih dahulu menuntaskan hafalan — melihat dengan mata kepala sendiri bahwa jalan yang sedang mereka tempuh benar-benar bisa dituntaskan. Motivasi yang lahir dari pertemuan semacam ini kerap lebih dalam berbekasnya daripada nasihat mana pun. Anak-anak pulang bukan hanya dengan hafalan baru, tetapi dengan keyakinan baru tentang siapa mereka kelak.
Cinta yang Diucapkan dari Kejauhan

Bulan ini menyimpan satu babak yang tak biasa. Berpegang pada sabda Nabi ﷺ bahwa siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti ia tidak bersyukur kepada Allah, anak-anak di markaz menggelar kegiatan khusus untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Di sudut dunia yang jauh dari Nusantara, di tengah keterbatasan pengungsian, anak-anak Palestina itu menyempatkan diri mengenang sebuah bangsa yang selama ini membersamai perjuangan mereka. Mereka menyampaikan cinta dan penghargaan kepada Indonesia dan rakyatnya — yang telah dan terus berdiri di sisi Palestina di berbagai medan.
Di penghujung kegiatan, para penghafal Palestina di Lebanon menitipkan doa dan ucapan yang menempuh jarak ribuan kilometer hingga ke Nusantara:
“Semoga Allah mengekalkan rasa aman dan kedaulatan bagi bangsa Indonesia.”
“Dari penghafal Al-Qur’an Palestina di Lebanon untuk masyarakat Indonesia, selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!”
Bagi mereka, perayaan sederhana itu terasa sebagai hal terkecil yang bisa dilakukan untuk membalas kebaikan yang selama ini mereka terima. Dan mungkin justru di situlah letak keharuannya: sebuah ucapan terima kasih yang datang dari mereka yang sendirinya sedang sangat membutuhkan.
Suriah: Tanda-Tanda Awal Keberhasilan
Dari Suriah, kabarnya semakin menggembirakan. Setelah jumlah siswa meningkat pesat pada bulan-bulan awal program, dampak nyata Hidupkan Ahlul Qur’an kini mulai terlihat. Antusiasme para penghafal Palestina untuk hadir di halaqah begitu menonjol, begitu pula komitmen mereka menjaga hafalan Al-Qur’an. Bagi tim lapangan, ini adalah tanda awal keberhasilan sebuah program yang tumbuh perlahan dari ketekunan anak-anak.
Perubahan itu tampak sederhana di atas kertas. Namun ia menjadi luar biasa ketika kita mengingat di atas latar apa ia terjadi. Sekitar 438.000 pengungsi Palestina masih bertahan di Suriah, dan survei UNRWA mencatat bahwa 89 persen dari mereka hidup dengan 2,15 dolar AS atau kurang per hari (UNRWA). Di tengah keterbatasan sebesar itu, keputusan sebuah keluarga untuk tetap mengantar anaknya ke markaz — dan keteguhan sang anak untuk terus menghafal — bukanlah perkara kecil. Itulah ukuran paling jujur bahwa sebuah program benar-benar bekerja.
Keadaan di Lebanon pun tak jauh berbeda beratnya. Sekitar 180.000 pengungsi Palestina di sana hidup dalam kemiskinan yang dalam (UNICEF), menjadikan setiap kursi yang terisi di kelas Al-Qur’an sebagai kemenangan kecil yang layak disyukuri.
Amanah yang Sampai ke Tangan Penduduk Bumi Syams
Di sinilah peran Sahabat Adara menjadi nyata. Setiap bantuan yang mengalir untuk para penghafal Palestina bukan sekadar untuk membiayai sebuah kelas. Dia menjaga agar hubungan seorang anak dengan Al-Qur’an tetap tersambung di tengah keadaan yang berkali-kali mencoba memutuskannya — agar hafalannya tidak terhenti di tengah jalan, dan agar ia memiliki tempat yang aman untuk pulang setiap harinya.
Menjelang tahun ajaran baru yang tak lagi jauh, anak-anak ini bersiap kembali ke kelas dengan hafalan yang bertambah dan hati yang lebih teguh. Setiap ayat yang tersimpan di dada mereka adalah sedekah jariyah yang mengalir bagi setiap tangan yang menopangnya — sebuah amanah yang, insya Allah, tidak akan terputus.
Baca selengkapnya kabar peserta program HAQ bulan Juli Menjaga Ayat di Atas Tanah yang Runtuh: Kabar dari 468 Anak Palestina yang Menolak Menyerah








