Kesehatan mental anak Gaza menghadapi dampak jangka panjang akibat agresi genosida, perpindahan paksa, kehilangan, dan kondisi kemanusiaan yang berat. Dokter Yasser Abu Jamei, Direktur Jenderal Gaza Community Mental Health Programme (GCMHP), memperingatkan bahwa dukungan psikologis kini menjadi kebutuhan mendesak.
Menurut Abu Jamei, anak-anak Gaza mengalami trauma berulang. Mereka menghadapi kehilangan anggota keluarga, luka, kehancuran rumah, pendidikan yang terputus, serta rasa takut dan ketidakamanan yang terus berlangsung.
Dampak tersebut tidak berhenti pada kondisi psikologis saat ini, tetapi dapat memengaruhi perkembangan sosial, kemampuan belajar, hubungan yang aman, dan kemampuan anak beradaptasi dengan lingkungan.
Karena itu, kesehatan mental anak membutuhkan penanganan jangka panjang. GCMHP menekankan pentingnya dukungan psikososial berbasis komunitas hingga layanan kesehatan mental khusus bagi anak dan keluarga.
Selain itu, sistem rujukan dan koordinasi layanan perlu diperkuat. Dukungan kesehatan mental juga perlu terhubung dengan layanan kesehatan, perlindungan anak, dan pendidikan.
Baca juga: Pelapor PBB Bandingkan Kematian Anak Gaza dengan Holocaust
Abu Jamei menyampaikan hal tersebut dalam sejumlah kegiatan akademik dan diskusi di Irlandia pada September 2026. Dalam salah satu kegiatan di Maynooth University, ia membahas dampak psikologis paparan trauma selama bertahun-tahun terhadap masyarakat Gaza, terutama anak-anak.
Kesehatan mental anak juga membutuhkan lingkungan yang lebih aman dan stabil. Pemulihan pendidikan, dukungan bagi keluarga dan pengasuh, serta layanan khusus menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Sebuah artikel ilmiah pada 2026 memperkirakan hampir seluruh 1,2 juta anak di Gaza membutuhkan dukungan kesehatan mental dan psikososial. Para ahli memperingatkan risiko gangguan psikologis, perkembangan, dan trauma antargenerasi jika kebutuhan tersebut tidak segera ditangani.
Abu Jamei menyerukan dukungan internasional berkelanjutan agar layanan kesehatan mental dapat menjangkau lebih banyak anak dan keluarga di Gaza.
Sumber: Palinfo







