Gaza telah berubah menjadi “ghetto”, atau kawasan terisolasi terbesar dalam sejarah modern, menyusul penyusutan wilayah layak huni dan pembatasan ketat yang melumpuhkan kehidupan lebih dari dua juta warga Palestina. Penilaian tersebut disampaikan oleh lembaga hak asasi manusia Euro-Med Human Rights Monitor.
Dalam pernyataannya pada Senin (28/9), Euro-Med mengatakan sebagian besar kota dan permukiman Gaza telah mengalami kehancuran. Sementara itu, pembatasan terhadap kebutuhan dasar terus membatasi kehidupan warga.
Menurut Euro-Med, wilayah yang dapat diakses warga Palestina kini hanya sekitar 30 persen dari Gaza. Perluasan zona penyangga dan “zona kuning” membuat ratusan ribu warga terkonsentrasi di kamp pengungsian dengan kondisi hidup yang terbatas.
Baca juga: Israel Berlakukan Jam Malam bagi 2.500 Warga Al-Khalil
Euro-Med juga melaporkan pembatasan makanan, bahan bakar, dan air telah menyebabkan 460 orang meninggal, termasuk 164 anak-anak. Organisasi tersebut memperingatkan bahwa terdapat sekitar 20.000 warga yang menderita sakit parah dan luka-luka kini menghadapi risiko kematian yang tinggi akibat lumpuhnya fasilitas kesehatan serta penutupan perlintasan batas untuk evakuasi medis.
Krisis tersebut juga berdampak pada struktur keluarga. Euro-Med memperkirakan sekitar 60.000 anak kehilangan orang tua dan 26.370 perempuan menjadi janda. Banyak di antara mereka tidak memiliki dukungan finansial maupun perlindungan sosial.
Euro-Med mendesak masyarakat internasional mendorong pembukaan kembali perlintasan Gaza dan penghentian blokade. Organisasi tersebut juga menyerukan kelancaran bantuan kemanusiaan serta evakuasi medis bagi warga sakit dan terluka.
Selain itu, Euro-Med menyerukan embargo senjata terhadap Israel dan dukungan terhadap proses Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait dugaan kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional yang melibatkan pemimpin Israel.
Sumber: Palinfo







