Gaza masih menghadapi kekerasan dan krisis layanan kesehatan hampir setahun setelah pengumuman gencatan senjata pada 10 Oktober 2025. Medical Aid for Palestinians (MAP) menyebut lebih dari 1.400 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 5.000 terluka sejak kesepakatan tersebut.
MAP mengatakan rumah sakit Gaza masih kekurangan obat, bahan bakar, dan kebutuhan medis. Kondisi ini membuat sistem kesehatan kesulitan memulihkan layanan.
Direktur MAP di Gaza, Fikr Shalltoot, mengatakan warga Palestina masih menghadapi kematian, pengungsian, dan kehancuran. Ia menyerukan agar kondisi tersebut segera diakhiri.
Menurut MAP, pasukan Israel kini menguasai sekitar 70 persen wilayah Gaza setelah bergerak melewati garis kuning yang Israel tetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata. Lebih dari dua juta warga Palestina terkonsentrasi di wilayah yang tersisa.
Baca juga: Krisis Tempat Tinggal Gaza Memburuk Jelang Musim Dingin: 162.000 Tenda Rusak, 1,5 Juta Warga Terancam
MAP mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat 56 serangan terhadap layanan kesehatan antara Januari dan Agustus 2026. Serangan tersebut membunuh 10 orang dan melukai 49 lainnya.
Dari 57 rumah sakit dan rumah sakit lapangan di Gaza, hanya 35 yang masih berfungsi sebagian. Tidak ada fasilitas yang beroperasi sepenuhnya.
Pada 15 September, seorang pasien berusia 65 tahun terbunuh ketika sebuah drone militer Israel menembak fasilitas medis yang MAP dukung di Jabalia. Sepekan kemudian, titik medis lain di Gaza bagian tengah terpaksa dievakuasi setelah tembakan melukai seorang perempuan dan anak.
Pergerakan pasukan Israel juga menghentikan sementara proyek perawatan neonatal MAP di Rumah Sakit Kamal Adwan. Proyek rehabilitasi di Rumah Sakit Eropa Gaza turut berpindah ke Rumah Sakit Nasser karena fasilitas tersebut tidak lagi dapat masyarakat akses.
MAP menyerukan gencatan senjata permanen, akses bantuan tanpa hambatan, serta penyelidikan internasional terhadap serangan terhadap layanan kesehatan.
Sumber: MEMO







