Ratusan pemukim Israel yang dikawal oleh polisi kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) bagian timur pada Rabu, 30 September 2026. Aksi tersebut berlangsung saat perayaan Sukkot.
Menurut pejabat Wakaf Islam Al-Quds, para pemukim melakukan ritual Talmud, berdoa, bernyanyi, dan menari di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Pejabat tersebut menegaskan bahwa aktivitas itu melanggar status quo yang berlaku di situs suci umat Islam tersebut.
Berdasarkan aturan status quo historis sebelum pendudukan Al-Quds bagian timur pada tahun 1967, pengelolaan administratif kompleks seluas 14,4 hektar tersebut sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab Wakaf Islam Al-Quds sebagai tempat ibadah eksklusif umat Islam.
Baca juga: Sukkot di Al-Quds: Warga Palestina Terganggu, 1.731 Pemukim Masuki Al-Aqsa
43 Jenazah Warga Palestina Ditemukan di Reruntuhan Nuseirat Setelah Hampir 3 Tahun
Sebelumnya, kelompok sayap kanan Israel menyerukan serbuan besar ke Masjid Al-Aqsa selama Sukkot. Menurut Wakaf Islam Al-Quds, lebih dari 1.500 pemukim memasuki kompleks pada Minggu. Jumlahnya mencapai lebih dari 1.700 pada Senin dan 1.400 pada Selasa.
Kekerasan yang melibatkan para pemukim juga meluas ke wilayah Tepi Barat. Organisasi Al-Baidar melaporkan insiden penyerangan di Desa Deir Sudan, sebelah utara Ramallah. Pemukim membakar sebuah kendaraan dan mencoret-coret dinding rumah warga Palestina dengan tulisan bernada rasis, menyebabkan kerusakan material yang signifikan.
Menurut sumber Palestina, Masjid Al-Aqsa terus menjadi sasaran pembatasan dan serbuan selama musim hari raya Yahudi. Sementara itu, PBB secara terpisah memperingatkan bahwa tingkat kekerasan dan aksi terstruktur oleh para pemukim di Tepi Barat sepanjang tahun 2026 ini telah mencapai level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sumber: MEMO






