Aktivitas harian warga Palestina di Al-Quds (Yerusalem) bagian timur terganggu dan berada di bawah tekanan berat menyusul serangkaian pembatasan ketat serta lonjakan serangan pemukim selama perayaan hari raya Sukkot. Gubernur Al-Quds mengeluarkan peringatan resmi pada Selasa, 29 September 2026. Ia menyoroti peningkatan kekerasan dan intimidasi yang menyasar warga sipil di kawasan Kota Tua.
Serangan menyasar warga lanjut usia, perempuan, pemilik toko, serta jurnalis dan fotografer. Pembatasan juga memengaruhi mobilitas warga di sekitar Kota Tua dan Masjid Al-Aqsa.
Dampak perayaan Sukkot terasa langsung pada mobilitas warga sipil. Otoritas Israel menutup berbagai ruas jalan utama di sekitar Kota Tua untuk mengamankan pergerakan pemukim, sehingga menyebabkan kemacetan dan menghambat perjalanan warga, termasuk saat siswa menuju sekolah.
Baca juga: Lebih 1.200 Pemukim Masuki Masjid Al-Aqsa Saat Sukkot
Di Masjid Al-Aqsa, pembatasan terhadap umat Islam berlangsung bersamaan dengan masuknya ratusan pemukim Israel. Kanal berita WAFA melaporkan 966 pemukim memasuki kompleks tersebut pada Selasa melalui Gerbang Mughrabi dengan pengawalan polisi Israel.
Sementara itu pada Senin, 28 September, jumlah pemukim yang memasuki kompleks Al-Aqsa mencapai 1.731 orang. Gubernur Al-Quds juga menyebut sekitar 800 perintah larangan masuk ke Al-Aqsa telah diterbitkan bagi warga Al-Quds sejak awal 2026 hingga awal September.
Gubernur Al-Quds juga menegaskan bahwa rangkaian serangan dan pembatasan tersebut bukan lagi insiden terpisah, melainkan pola berulang selama hari raya Yahudi untuk semakin membatasi ruang warga Palestina untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sumber: Palinfo







