Ratusan pemukim Israel memasuki kompleks yang terkenal sebagai Makam Yusuf di Nablus, Tepi Barat, pada Kamis, 1 Oktober 2026. Mereka melakukan ritual keagamaan dengan pengawalan ketat pasukan Israel.
Menurut sumber lokal yang dikutip WAFA dan PIC, kendaraan militer Israel memasuki wilayah timur Nablus sebelum kedatangan para pemukim. Sementara itu, sejumlah keluarga Palestina di sekitar lokasi Israel perintahkan meninggalkan rumah mereka.
Pasukan Israel menutup beberapa jalan di sekitar lokasi dan membatasi pergerakan warga. Beberapa bangunan Israel gunakan sebagai pos militer dan sejumlah rumah mereka gunakan sebagai pos penembak jitu Israel.
Bus yang membawa ratusan pemukim kemudian memasuki kawasan tersebut. Mereka melakukan doa dan ritual Talmudiah, serta membawa persembahan berupa tanaman ke dalam kompleks Makam Yusuf.
Baca juga: Krisis Tempat Tinggal Gaza Memburuk Jelang Musim Dingin: 162.000 Tenda Rusak, 1,5 Juta Warga Terancam
Direktorat Pendidikan Nablus terpaksa menghentikan kegiatan belajar di sekolah dan taman kanak-kanak pada Kamis (1/10). Keputusan tersebut mereka ambil karena operasi militer masih berlangsung serta menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan siswa dan guru.
Serbuan ke Makam Yusuf berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas pemukim di sejumlah situs keagamaan selama perayaan Sukkot, yang berlangsung sejak 26 September hingga 2 Oktober.
Kompleks Makam Yusuf berada di bagian timur Nablus, wilayah yang berada di bawah administrasi Palestina. Situs tersebut dianggap suci oleh sebagian umat Yahudi yang meyakini makam Nabi Yusuf berada di lokasi itu.
Namun, klaim tersebut sejumlah arkeolog perdebatkan. Mereka menyebut kompleks tersebut kemungkinan merupakan makam seorang tokoh muslim bernama Yusuf Dweikat dan berasal dari akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.
Serbuan ke Makam berlangsung hampir setiap bulan dengan pengawalan pasukan Israel. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Israel membatasi pergerakan warga Palestina, menutup kawasan tersebut, dan menjadikannya sebagai zona militer.







