Pasien diabetes di Jalur Gaza kini menghadapi ancaman serius akibat kelangkaan insulin. Krisis diabetes tidak lagi sebatas penyakit kronis, tetapi berubah menjadi perjuangan harian untuk bertahan hidup di tengah perang, blokade, dan runtuhnya layanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan 70.000–80.000 pasien diabetes menghadapi risiko komplikasi akibat minimnya insulin, alat ukur gula darah, strip tes, serta memburuknya gizi. Selain itu, sekitar 11.000 pasien bergantung pada suntikan insulin secara rutin untuk bertahan hidup.
Abu Hadi, ayah seorang anak berusia 12 tahun dengan diabetes tipe 1, mengaku terus diliputi kecemasan. Ia kerap mengurangi dosis insulin putranya karena khawatir persediaan habis. Menurutnya, kondisi pengungsian juga membuat insulin sulit disimpan pada suhu yang aman sehingga efektivitasnya menurun.
Sementara itu, Um Ahmad, 48 tahun, mengaku harus mencari insulin selama berhari-hari. Bahkan, ia terkadang tidak dapat memeriksa kadar gula darah selama sebulan. Selain obat, ia juga kesulitan memperoleh makanan yang sesuai bagi penderita diabetes.
UNRWA turut memperingatkan bahwa pasokan obat-obatan penyelamat jiwa, terutama insulin, terus menurun akibat blokade dan terbatasnya bantuan medis. Di sisi lain, sekitar 2.500 anak di Gaza hidup dengan diabetes tipe 1 dan membutuhkan insulin setiap hari.
Kondisi semakin memburuk karena alat pemeriksaan gula darah dan strip tes sangat langka serta mahal. Pemadaman listrik dan krisis bahan bakar juga menghambat penyimpanan insulin dan layanan laboratorium.
Organisasi kesehatan internasional mendesak percepatan masuknya insulin, alat pemeriksaan, dan perlengkapan medis ke Gaza. Mereka memperingatkan, tanpa pasokan yang memadai, jumlah komplikasi hingga kematian, terutama pada anak-anak dan lansia, akan terus meningkat.
Sumber: Palinfo








