Ujian Tawjihi atau Ujian Nasional sekolah menengah di Gaza kembali berlangsung di tengah genosida, pengungsian, dan blokade yang masih berlanjut. Bagi ribuan siswa Palestina, ujian tahun ini bukan hanya menjadi penentu masa depan akademik, tetapi juga simbol keteguhan mempertahankan hak atas pendidikan.
Dima Abdel Rahman memulai ujian pada 20 Juni dari sebuah tenda pengungsian di Kota Gaza. Berbeda dengan kakaknya, Sumaya, yang sempat mengikuti Tawjihi sebelum perang, Dima harus belajar dalam kondisi kelaparan, tanpa meja belajar, kursi, atau ruang yang tenang.
“Saya belajar di atas pasir, dalam keadaan lapar, dan di tengah kebisingan adik-adik saya,” ujar Dima. Ia menghabiskan waktu belajar di atas kasur tipis yang sekaligus menjadi tempat tidurnya, hanya mengandalkan cahaya seadanya saat malam.
Baca juga: “Sidang DK PBB: Israel Catat Pelanggaran Anak Tertinggi di Dunia”
Sebelum perang, keluarga biasanya menciptakan suasana khusus bagi anak-anak mereka dengan menyediakan makanan bergizi, ruang belajar, dan dukungan penuh. Kini, sebagian besar keluarga hidup di tenda sehingga fasilitas tersebut tidak lagi tersedia.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sekitar 95 persen sekolah mengalami kerusakan akibat serangan Israel selama hampir tiga tahun terakhir. Sebanyak 668 sekolah dibombardir secara langsung dan lebih dari 90 persen membutuhkan rekonstruksi.
Meski demikian, sekitar 35.000 siswa tetap mengikuti ujian di Gaza melalui sistem daring menggunakan platform Wise School, sementara sekitar 2.000 siswa mengikuti ujian dari luar Gaza.
Terbatasnya kapasitas listrik dan internet menyebabkan banyak siswa harus mengerjakan ujian di kafe atau lokasi yang memiliki sumber listrik. Mereka juga harus membayar untuk mengisi daya ponsel atau mengakses internet, sementara sebagian lainnya bahkan tidak memiliki perangkat elektronik.
Direktur Pendidikan Khan Younis, Ibrahim Ramadan, menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian dari perjuangan rakyat Palestina. Menurutnya, Israel dapat menghancurkan sekolah dan universitas, tetapi tidak mampu mematahkan tekad generasi muda untuk belajar dan membangun masa depan.
Bagi para siswa di Gaza, ujian Tawjihi tahun ini menjadi bukti bahwa perang, pengungsian, dan kelaparan tidak mampu menghentikan harapan mereka untuk terus menempuh pendidikan.
Sumber: Mondoweiss








