Organisasi Euro-Med Human Rights Monitor menyatakan bahwa Israel memanipulasi data malnutrisi Gaza. Organisasi tersebut menilai Israel menggunakan data UNICEF secara selektif guna menyangkal indikator krisis kelaparan parah yang sebelumnya telah kerangka Integrated Food Security Phase Classification (IPC) tetapkan pada tahun 2025.
Berdasarkan temuan Euro-Med, Israel kerap mempromosikan angka prevalensi malnutrisi sebesar 0,5% yang merujuk pada indikator berat badan menurut tinggi badan (weight-for-height). Padahal, jika menggunakan indikator lingkar lengan atas (Mid-Upper Arm Circumference /MUAC), angka prevalensi melonjak menjadi 1,3%—persentase yang sama juga terlihat ketika kedua indikator tersebut bergabung.
Artinya, sekitar satu dari 77 anak di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut selama periode penelitian. Euro-Med menegaskan bahwa data tersebut hanya mencakup periode terbatas. Artinya, data tersebut belum merefleksikan seluruh kasus yang terjadi di luar jendela waktu riset.
Baca juga: “PBB Peringatkan Gaza Terancam Kelaparan, 10 Persen Warga Hampir Memasuki Fase Kelaparan”
Selain perbedaan indikator, Euro-Med menyoroti angka stunting atau gangguan pertumbuhan kronis sebesar 12,2%, yang berarti satu dari delapan anak di Gaza mengalami hambatan pertumbuhan akibat kekurangan nutrisi berkepanjangan.
Organisasi HAM tersebut juga mengkritik narasi perbandingan kondisi Gaza dengan negara seperti Jerman dan Finlandia sebagai langkah yang tidak valid secara ilmiah. Sebab, mereka menggunakan indikator tunggal yang parsial serta merujuk pada rentang tahun yang berbeda.
Penelitian UNICEF hanya mencakup sekitar 83% populasi Gaza. Lebih dari 358.000 orang tidak tersentuh dalam pendataan akibat hambatan keamanan, sehingga tidak ada yang mengetahui kondisi gizi kelompok tersebut.
Penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa kelaparan di Gaza telah berakhir. Akan tetapi, itu hanya sekadar mengukur kondisi gizi selama periode tertentu pada Juni 2026.
Di sisi lain, laporan terbaru IPC pada Juli mengindikasikan bahwa perbaikan situasi di lapangan masih sangat terbatas. IPC memperkirakan sekitar 1,4 juta orang di Gaza akan terus menghadapi kerawanan pangan akut hingga penghujung tahun. Selain itu, lebih dari 74.000 anak diproyeksikan membutuhkan perawatan intensif untuk malnutrisi akut hingga April 2027.
Euro-Med menegaskan bahwa eskalasi krisis pangan di Gaza tidak bisa hanya diukur dari angka statistik malnutrisi semata. Taktik pembatasan kebutuhan dasar serta penghalangan distribusi bantuan kemanusiaan secara sistematis merupakan bentuk nyata kejahatan kelaparan yang terus mengancam jutaan warga sipil.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)