Blokade Israel di Nablus memaksa dua perempuan Palestina melahirkan di dalam mobil setelah pasukan Israel menutup pos pemeriksaan menuju rumah sakit. Akibat blokade tersebut keduanya tidak sempat memperoleh layanan medis sebelum proses persalinan dimulai.
Organisasi Physicians for Human Rights menyatakan pengetatan pembatasan pergerakan, penutupan jalan, dan pos pemeriksaan menghalangi akses menuju fasilitas kesehatan.
Baca juga: “Gegap Gempita Piala Dunia 2026 yang Menyilaukan Mata Dunia dari Kondisi Rakyat Palestina”
“Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah”
Selain itu, organisasi tersebut memperingatkan bahwa blokade di Nablus menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius. Pembatasan terhadap pasien dan ibu hamil mengancam hak dasar setiap orang untuk memperoleh kebebasan bergerak dan layanan kesehatan.
Mereka juga mendesak penghentian berbagai upaya yang menghalangi warga Palestina mencapai rumah sakit dan pusat kesehatan. Organisasi itu menegaskan otoritas Israel bertanggung jawab atas risiko yang warga sipil hadapi akibat blokade di Nablus dan pembatasan mobilitas yang terus berlangsung.
Sejak Ahad pagi, pasukan Israel juga terus memperketat pemeriksaan di pos-pos militer yang mengelilingi Kegubernuran Nablus. Akibatnya, ambulans sulit bergerak sehingga terlambat menjangkau pasien maupun korban luka.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)