Pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa situasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel masih berada di tingkatan yang sangat rapuh, setahun setelah gencatan senjata. Ia mendesak masyarakat internasional mengambil tindakan nyata untuk mencegah agresi kembali terjadi.
Dalam pengarahan kepada Dewan Keamanan PBB pada Kamis (15/10), Ramiz Alakbarov, Pelaksana Tugas Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, menyebut operasi militer Israel di Gaza masih berlangsung dan telah membunuh sekitar 1.500 orang, termasuk lebih dari 320 anak-anak.
Menurut Alakbarov, kondisi kemanusiaan di Gaza masih memprihatinkan. Banyak keluarga tinggal di tenda-tenda pengungsian yang usang, lokasi pengungsian yang padat, serta bangunan yang rusak parah. Sistem air bersih dan sanitasi juga mengalami kehancuran.
Baca juga: Serangan Terbaru Israel di Gaza Bunuh Empat Warga Palestina
Ia memperingatkan bahwa warga Gaza tidak boleh kembali menghadapi musim dingin tanpa tempat berlindung yang aman dan layanan dasar. Bantuan darurat, katanya, perlu berlangsung dengan pemulihan berkelanjutan dan kemajuan politik, terutama untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.
Situasi di Tepi Barat, termasuk Al-Quds bagian timur, juga terus memburuk. Alakbarov menyoroti operasi militer Israel, pembatasan pergerakan, pengungsian paksa, serta kekerasan terhadap warga Palestina. Ia menyatakan bahwa kekerasan dan serangan pemukim Israel masih terjadi setiap hari.
Alakbarov menilai meningkatnya keputusasaan warga Gaza tidak dapat mereka biarkan berlarut-larut. Ia memperingatkan bahwa risiko kembalinya agresi sangat tinggi dan harus dicegah dengan segala cara.
Menurutnya, situasi saat ini membutuhkan tindakan segera, bukan sekadar pernyataan. Tanpa kemajuan politik dan pemulihan kondisi kehidupan, Gaza dan Tepi Barat akan terus menghadapi ketidakpastian serta risiko eskalasi kekerasan.
Sumber: MEMO








