Krisis kesehatan di Jalur Gaza berada dalam tingkatan yang kian mengkhawatirkan sebagai akibat dari kehancuran fisik fasilitas medis serta penutupan berkepanjangan pintu perlintasan Rafah. Kombinasi faktor ini menyebabkan ribuan pasien Palestina kehilangan akses dasar untuk memperoleh diagnosis mendesak serta penanganan medis yang menyelamatkan jiwa.
Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) memperingatkan bahwa sekitar 60% peralatan pencitraan medis di Gaza tidak berfungsi. Krisis kesehatan ini menghambat dokter mendeteksi penyakit, memantau perkembangan kondisi pasien, dan mengevaluasi efektivitas pengobatan di Jalur Gaza.
Direktur Program Kesehatan PRCS, Bashar Murad, menyebut sekitar 21.000 pasien membutuhkan evakuasi medis untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza. Namun, jumlah pasien yang diizinkan keluar masih sangat terbatas.
Baca juga: Pemukim Israel Serang Pusat Anak Disabilitas di Ramallah, Uskup Lutheran Serukan Aksi Internasional
Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan bahwa penutupan perlintasan Rafah memasuki pekan kedua pada Kamis (15/10). Penutupan ini menghambat keberangkatan pasien dan meningkatkan penumpukan kasus kritis yang membutuhkan perawatan segera.
Menurut kementerian, lebih dari 1.344 pasien meninggal saat menunggu pengobatan sejak perjanjian gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025. Sementara itu, antara 2 Februari hingga 2 September 2026, hanya 2.480 pasien dan korban luka yang berhasil meninggalkan Gaza melalui Rafah.
Kerusakan infrastruktur kesehatan turut memperparah keadaan. Dari 38 rumah sakit di Gaza, 25 tidak beroperasi, sedangkan 13 lainnya hanya berfungsi sebagian. Sebanyak 103 dari 157 pusat layanan kesehatan primer juga hancur.
Keterbatasan peralatan medis, obat-obatan, dan layanan spesialis membuat pasien kanker serta penderita penyakit kronis semakin rentan mengalami keterlambatan pengobatan.
Kementerian Kesehatan Gaza mendesak pihak terkait menekan Israel agar segera membuka kembali perlintasan Rafah dan jalur perlintasan lainnya. PRCS juga menyerukan penyediaan peralatan medis, suku cadang, serta pasokan penting untuk memulihkan layanan diagnosis.
Tanpa akses pengobatan dan evakuasi medis yang memadai, ribuan pasien Gaza terus menghadapi risiko komplikasi serius dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah.








