Sekitar 9.300 tawanan Palestina menghadapi penyiksaan, kelaparan, penelantaran medis, dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia di penjara Israel. Pusat Pembelaan Tawanan Palestina melaporkan bahwa kondisi tersebut memburuk sejak Israel memulai agresi genosida di Gaza pada Oktober 2023.
Dalam laporan yang rilis pada Selasa, 13 Oktober 2026, organisasi tersebut menyebut jumlah tawanan mencakup lebih dari 3.100 tahanan administratif, sekitar 1.400 orang yang Israel kategorikan sebagai “kombatan ilegal”, hampir 90 perempuan, dan lebih dari 350 anak. Angka itu belum mencakup seluruh tawanan Gaza yang Israel tahan di fasilitas militer.
Buruknya standar fasilitas penahanan terlihat nyata pada kesehatan para perempuan tawanan di Penjara Damon. Pada Rabu, Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina melaporkan bahwa Basmala Saad (20 tahun) dan Israa Houji (31 tahun) menderita penyakit kulit parah berupa kudis (scabies) akibat tingkat kelembapan sel yang tinggi serta minimnya pasokan perlengkapan kebersihan dasar.
Baca juga: Der Spiegel: Tentara Israel Ungkap Kejahatan Perang di Gaza
Saad mengalami lepuh dan pembengkakan pada kaki meski telah menerima pengobatan. Ia juga menjalani isolasi setelah mengalami kekerasan dalam penggerebekan sel pada 7 Oktober. Sementara itu, Houji mengalami gatal parah pada kaki yang memburuk pada malam hari hingga mengganggu tidurnya. Keduanya turut melaporkan penggunaan gas air mata dan granat kejut saat penggerebekan, serta kualitas makanan yang buruk dan tidak mencukupi.
Laporan Pusat Pembelaan Tawanan Palestina juga mencatat sekitar 1.500 tawanan mengalami penyakit atau gangguan kesehatan. Hal tersebut terjadi akibat minimnya obat, keterlambatan perawatan, malnutrisi, penyakit kulit, dan buruknya kebersihan. Sejumlah mantan tawanan juga memberikan kesaksian mengenai praktik penyiksaan fisik, pemborgolan dalam durasi berkepanjangan, kurang tidur secara paksa, ancaman psikologis, hingga kekerasan seksual.
Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 90 tawanan Palestina meninggal di penjara dan pusat penahanan Israel. Organisasi pembela tahanan menyatakan kekhawatiran bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya jauh lebih tinggi, mengingat ribuan tawanan asal Gaza disekap di kamp-kamp militer tertutup tanpa adanya pemantauan dari lembaga independen.
Organisasi-organisasi tersebut mendesak PBB, Komite Internasional Palang Merah, dan kelompok HAM internasional untuk membuka akses pemantauan ke fasilitas penahanan, menjamin bantuan hukum dan kunjungan keluarga, serta menyelidiki dugaan penyiksaan, kekerasan seksual, kematian, dan penelantaran medis.
Sumber: Palinfo








