Kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat dinilai semakin sulit dikendalikan dan memicu kekhawatiran baru. Kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat bahkan disebut telah melemahkan penegakan hukum, sementara militer Israel lebih sering melindungi aktivitas kekerasan para pemukim daripada menghentikannya.
Analis militer senior Israel, Ron Ben-Yishai, menyatakan bahwa militer, kepolisian, dan badan keamanan dalam negeri Israel tidak lagi mampu menindak kelompok pemukim ekstrem. Menurutnya, kelompok tersebut kini bertindak seolah menjadi pihak yang menentukan situasi di wilayah pendudukan. Ia juga menilai militer Israel justru berperan melindungi tindakan para pemukim bersenjata.
Penilaian itu mengemuka pasca-insiden di Desa Tell, dekat Nablus, pada Juli 2026. Laporan awal menyebut peristiwa tersebut sebagai serangan Palestina. Namun, hasil investigasi menunjukkan bentrokan bermula ketika puluhan pemukim Israel menyerbu desa tersebut. Warga Palestina kemudian berusaha mengusir mereka hingga terjadi baku tembak yang membunuh dua warga Israel dan empat warga Palestina.
Baca juga: “Parit Buaya di Penjara Israel Tuai Kecaman, Ben-Gvir Menolak Mundur”
Selain itu, Ben-Yishai menegaskan tidak ada bukti bahwa warga Palestina merencanakan serangan sebelumnya. Menurutnya, kekerasan baru meningkat setelah kelompok pemukim memasuki desa tanpa persetujuan militer. Laporan media Israel juga menyebut pemicu bentrokan berasal dari aksi masuknya para pemukim ke wilayah itu.
Lonjakan kekerasan ini tidak terlepas dari masifnya pendirian pos-pos terdepan dan permukiman ilegal baru. Seorang pejabat militer Israel mengakui bahwa lebih dari 80 pos luar ilegal kini telah menjadi tantangan keamanan yang besar, dengan tambahan sekitar 126 kawasan pertanian permukiman yang berdiri dengan dukungan langsung pemerintah.
Para pengamat menilai bahwa fenomena ini bukan lagi sekadar rangkaian insiden kriminal terpisah, melainkan cerminan dari menguatnya pengaruh politik kelompok pemukim ekstrem yang secara sistematis memperbesar eskalasi ketegangan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat.
Sumber: MEMO, Yehdioth Ahronoth








