Nasib Perlintasan Rafah di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan tajam setelah pemerintah Mesir mendesak Israel untuk segera membuka kembali jalur tersebut guna memperlancar arus distribusi bantuan kemanusiaan. Kendati demikian, operasional perlintasan vital ini masih menghadapi pembatasan ketat dari pihak otoritas Israel.
Berdasarkan laporan dari Otoritas Penyiaran Israel, Mesir terus melobi agar Perlintasan Rafah dapat terbuka penuh bagi masuknya berbagai barang dan bantuan ke Gaza. Sebaliknya, pemerintah Israel bersikukuh agar seluruh pengiriman logistik dialihkan dan dipusatkan melalui Perlintasan Karem Abu Salim yang berada di bawah kendali penuh militer mereka.
Sumber Israel menyebut pemerintah dan aparat keamanan telah menyampaikan sikap itu kepada Amerika Serikat dan perwakilan Dewan Perdamaian, Nikolay Mladenov. Karena itu, Perlintasan Rafah Gaza belum dapat berfungsi sebagai jalur utama pengiriman bantuan.
Sejak Februari 2026, Israel membuka kembali sisi Palestina di Perlintasan Rafah Gaza secara terbatas. Setelah penutupan sementara pada akhir Februari, perlintasan kembali beroperasi pada Maret dengan mekanisme lama. Meski demikian, jalur tersebut hanya melayani pejalan kaki dalam kondisi tertentu.
Saat ini, puluhan pasien, korban luka, dan kasus kemanusiaan masih keluar secara terbatas. Sementara itu, ribuan warga Palestina tetap menunggu izin bepergian untuk memperoleh perawatan medis.
Sebelum agresi di Gaza, Perlintasan Rafah Gaza menjadi jalur utama mobilitas warga dan distribusi barang antara Gaza dan Mesir tanpa campur tangan Israel. Kini, pembatasan yang terus berlangsung memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza dan menghambat masuknya bantuan bagi jutaan penduduk.







![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)