Rencana permukiman baru Israel di Gaza kembali memicu kekhawatiran di tengah upaya melanjutkan gencatan senjata. Rencana pemukiman baru Israel di Gaza muncul ketika serangan militer masih berlangsung dan proses perdamaian belum menunjukkan kepastian.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui pembangunan tiga permukiman baru di wilayah utara Gaza. Smotrich juga menyatakan Israel akan memperluas permukiman di Tepi Barat, termasuk membangun titik-titik baru di wilayah utara.
Pernyataan tersebut memicu perhatian karena Israel telah membongkar seluruh permukiman di Gaza pada 2005 melalui kebijakan penarikan sepihak. Kini, rencana permukiman baru Israel di Gaza membuka kembali agenda permukiman yang telah dihentikan lebih dari dua dekade lalu.
Di sisi lain, serangan militer masih terus terjadi. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya enam warga Palestina terbunuh dan 23 lainnya terluka dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, laporan media lokal menyebut jumlah korban terbunuh meningkat menjadi sedikitnya 11 orang, termasuk tiga anak.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 73.000 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 174.000 lainnya mengalami luka-luka. Bahkan, sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025, lebih dari 1.200 orang dilaporkan kembali menjadi korban serangan.
Sementara itu, Hamas menegaskan bahwa pembahasan pelucutan senjata hanya dapat berjalan apabila Amerika Serikat dan Israel terlebih dahulu memenuhi seluruh komitmen dalam perjanjian gencatan senjata. Pada saat yang sama, sejumlah pejabat Israel juga menyampaikan keraguan terhadap kesepakatan tersebut.
Sumber: MEE








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)