Blok geopolitik dan ekonomi negara-negara berkembang, BRICS, secara bulat mengeluarkan Deklarasi New Delhi dalam Konferensi Tingkat Tinggi di India. Mereka secara tegas menolak segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza.
Organisasi antarpemerintah yang kini beranggotakan 11 negara tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas masih berlangsungnya kekerasan di Gaza. Kekerasan tetap terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diteken. Mereka memperingatkan agar dunia tidak membiarkan kebijakan apa pun yang bertujuan mengabaikan hak-hak fundamental rakyat Palestina atau melegitimasi pendudukan berkepanjangan.
Baca juga: Israel Tangkap Lebih dari 100 Warga Palestina di Tepi Barat dalam Sepekan
Ujian Tawjihi Gaza 2026 Digelar Perdana Sejak Sistem Pendidikan Lumpuh Total
Menurut deklarasi, penyelesaian yang adil dan berkelanjutan membutuhkan pemenuhan hak rakyat Palestina. Hak tersebut mencakup penentuan nasib sendiri dan hak untuk kembali.
Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyerukan sikap yang lebih tegas dalam BRICS dan Palestina. Ia mengatakan BRICS harus menolak pendudukan, kolonialisme permukiman, dan terorisme pemukim.
Ia menyoroti bahwa agresi militer Israel di Timur Tengah telah menciptakan dampak destruktif yang meluas. Dampak tersebut melampaui batas-batas pihak yang terlibat langsung, sehingga menuntut kepatuhan global terhadap kedaulatan, perlindungan warga sipil, serta penjagaan stabilitas jalur ekonomi dunia dari ancaman peperangan.








