Pasukan Israel menangkap lebih dari 100 warga Palestina di Tepi Barat dalam sepekan terakhir, menurut Palestinian Prisoner’s Society (PPS). Penangkapan tersebut mencakup anak-anak, jurnalis, dan mantan tawanan yang baru Israel bebaskan melalui kesepakatan pertukaran tawanan.
Berdasarkan catatan PPS, total warga Palestina yang telah Israel tangkap di Tepi Barat telah melampaui angka 25.000 orang. Angka tersebut terhitung sejak mulainya agresi dan genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023. Penangkapan tersebut juga berlangsung bersama interogasi lapangan, kekerasan fisik, dan ancaman terhadap keluarga tahanan.
PPS mengungkapkan bahwa penyerbuan rumah-rumah warga oleh tentara pendudukan kerap bersamaan dengan tindakan destruktif dan intimidatif: Pasukan Israel menggerebek rumah warga, merusak properti, dan menggunakan sejumlah rumah untuk kepentingan militer.
Dalam beberapa kasus, terdapat warga yang Israel tahan untuk memberikan tekanan terhadap anggota keluarganya. Di antara korban penangkapan terbaru terdapat Ahmad al-Sayfi, seorang mantan tawanan asal Birzeit yang baru Israel bebaskan, serta dua jurnalis terkemuka, Muath Amarneh dan Sabri Jibril.
Intensifikasi militer ini terlihat jelas di berbagai wilayah Palestina. Di Desa Burqa, pasukan pendudukan menangkap 15 warga Palestina. Israel menangkap mereka dalam penggerebekan brutal yang berlangsung selama enam jam penuh bersama dengan perusakan rumah. Operasi serupa turut Israel lancarkan di Beitunia dan berbagai titik lainnya. Penangkapan yang berjalan bersamaan dengan perusakan properti ini memperlihatkan tekanan sistemik yang kian mencekik kehidupan di Tepi Barat.
Sumber: Al Jazeera







