Dokter Palestina di Israel (wilayah Palestina 1948) menghadapi tekanan dan serangan rasial yang semakin meningkat sejak agresi dimulai pada Oktober 2023.
Serangan terbaru muncul setelah kerabat seorang tentara Israel menuduh staf Arab di Rumah Sakit Rambam, Haifa, melakukan perlakuan tidak pantas. Namun, pihak rumah sakit membantah tuduhan tersebut.
Meski tuduhan tersebut tidak terbukti, perdebatan dengan cepat meluas hingga menyerang hak penggunaan bahasa Arab di lingkungan fasilitas medis Israel. Sejumlah politisi dan komentator sayap kanan bahkan secara terbuka menyerukan pembatasan hingga penyingkiran tenaga kesehatan Palestina dari sektor medis.
Mantan anggota Knesset Osnat Mark bahkan menyerukan “yahudisasi” profesi kedokteran. melalui penghapusan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan Palestina dari sistem kesehatan.
Seruan tersebut menyasar kelompok yang memiliki peran besar dalam layanan kesehatan Israel. Warga Palestina mencakup sekitar 25 persen dokter, 27 persen perawat dan dokter gigi, serta hampir setengah apoteker.
Meski demikian, semakin banyak dokter Palestina menghadapi kesulitan memperoleh pekerjaan. Hingga 5.000 dokter terlatih dilaporkan belum mendapatkan pekerjaan karena akses terhadap program magang semakin terbatas.
Kelompok Physicians for Human Rights-Israel (PHRI) juga mencatat tindakan disipliner terhadap dokter Palestina. Kasus tersebut terjadi di sedikitnya 15 rumah sakit dan seluruh empat organisasi pemeliharaan kesehatan Israel.
Dalam laporan April 2026, PHRI menyebut tenaga kesehatan Palestina menghadapi pemeriksaan disipliner, sanksi, hingga pemecatan. Tindakan tersebut berkaitan dengan pandangan yang mereka sampaikan atau aktivitas di media sosial.
Sejumlah dokter Palestina juga menceritakan pengalaman diskriminasi dari pasien. Salah satunya mengatakan pasien menolak perawatannya setelah mengetahui namanya berasal dari bahasa Arab.
Dokter lainnya mengatakan pasien sering mempertanyakan penggunaan bahasa Arab. Namun, ia menegaskan tetap akan menggunakan bahasa tersebut dalam menjalankan pekerjaannya.
Tekanan terhadap dokter Palestina menunjukkan meningkatnya tantangan bagi tenaga kesehatan Palestina di Israel. Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap diskriminasi dalam akses dan lingkungan kerja medis.
Sumber: MEE








