Otoritas pendidikan Palestina kembali menggelar ujian Tawjihi di Gaza setelah sekitar dua tahun terhenti akibat agresi dan kerusakan infrastruktur pendidikan.
Direktur Jenderal Ujian Kementerian Pendidikan Palestina, Jamal Youssef, mengatakan puluhan ribu siswa terdampak gangguan tersebut. Menurutnya, kerusakan fasilitas pendidikan di Gaza telah berlangsung secara luas dan hampir menyeluruh.
Kementerian Pendidikan kemudian menerapkan sejumlah langkah khusus agar siswa tetap dapat melanjutkan pendidikan dan mengikuti ujian Tawjihi Gaza. Salah satunya adalah penerapan kurikulum padat untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran akibat agresi berkepanjangan.
Otoritas pendidikan juga memanfaatkan sistem ujian berbasis elektronik bagi para siswa angkatan 2024 dan 2025, yang juga diintegrasikan pada sesi pertama ujian tahun 2026 ini. Pelaksanaan sesi pertama 2026 ini menandai momen penting karena untuk pertama kalinya ujian berlangsung secara serentak bersama wilayah Palestina lainnya sejak sistem pendidikan di wilayah kantong tersebut lumpuh total.
Kendati ujian nasional kembali berlangsung, pelaksanaannya berjalan di tengah kondisi lapangan yang sangat memprihatinkan. Para siswa dan guru masih harus berjuang di tengah keterbatasan sumber daya yang parah serta bayang-bayang pengungsian.
Pejabat Palestina melaporkan sekitar 90 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran. Kondisi tersebut membuat pemulihan pendidikan membutuhkan pembangunan kembali fasilitas serta dukungan sumber daya dalam skala besar.
Di tengah puing-puing kehancuran tersebut, kembalinya ujian Tawjihi menjadi simbol ketahanan dan tekad kuat warga Palestina untuk mempertahankan keberlangsungan hak atas pendidikan bagi generasi muda mereka.
Sumber: Memo








