Seorang peneliti Gaza bernama Mahmoud Al-Najjar telah pasukan Israel tahan di penyeberangan Karem Abu Salem saat ia hendak berangkat dengan beasiswanya ke Italia. Peristiwa ini terjadi setelah ia diperiksa dan seluruh kontak dengan keluarganya diputus oleh Israel sehingga memicu kecemasan besar di tengah keluarganya.
Al-Najjar sebelumnya menerima kesempatan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Universitas Rome Tor Vergata setelah melalui proses panjang, termasuk wawancara dan persiapan administratif. Ia bahkan telah memperoleh izin perjalanan yang pihak Israel keluarkan sebelum keberangkatan.
Namun, saat perjalanan berlangsung, tentara Israel menahannya dan ia tidak lagi dapat dihubungi. Rekan-rekannya melanjutkan perjalanan tanpanya, sementara keluarganya baru mengetahui kabar penangkapan tersebut dari media sosial, bukan dari otoritas resmi.
Baca juga: “Warga Tepi Barat Protes Pos Ilegal Pemukim, Tentara Israel Tangkap 7 Demonstran”
Keluarganya menyatakan bahwa mereka mengalami kebingungan dan tekanan psikologis akibat minimnya informasi. Mereka kemudian mencoba melacak keberadaan Mahmoud melalui keluarga saksi dan organisasi hak asasi manusia, namun tidak mendapatkan kepastian yang jelas. Organisasi hak asasi manusia kemudian mengonfirmasi bahwa Mahmoud telah Israel tahan di penjara Asqalan (Ashkelon).
Kasus ini menambah kekhawatiran terkait perlakuan terhadap warga Gaza yang melakukan perjalanan melalui penyeberangan. Banyak laporan menyebutkan adanya interogasi penahanan, hingga perlakuan kasar terhadap orang-orang yang akan melintasi penyeberangan, termasuk terhadap mahasiswa dan pasien.
Keluarga Al-Najjar menilai penahanan ini sangat menyakitkan, terutama karena ia sebelumnya kehilangan banyak anggota keluarga dalam serangan di Jabalia pada 2024. Kondisi tersebut membuat beasiswa ini menjadi harapan baru yang akhirnya terhenti.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang Israel berikan terkait alasan dan status pasti penahanan Mahmoud Al-Najjar
Sumber: MEE








