Al-Aqsa kembali menghadapi peningkatan pelanggaran sepanjang Juni 2026. Kementerian Wakaf Palestina mencatat Al-Aqsa menjadi sasaran puluhan penyerbuan oleh pemukim Israel yang dikawal polisi. Selain itu, Al-Aqsa juga menghadapi upaya perubahan status quo melalui perluasan waktu kunjungan pemukim. Karena itu, Al-Aqsa semakin terancam oleh kebijakan yang bertujuan mengubah kondisi di lapangan. Hingga kini, Al-Aqsa tetap menjadi pusat ketegangan di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur)
Kementerian mencatat pasukan Israel menyerbu kompleks Al-Aqsa sebanyak 26 kali selama Juni. Sebanyak 4.212 pemukim memasuki kawasan tersebut melalui Gerbang Al-Magharibah dengan pengawalan polisi. Mereka juga melakukan ritual Talmud, sujud berjemaah, serta berdoa di depan Kubah Shakhrah.
Baca juga: “Pendidikan Gaza Alami Educide”
Dalam sepekan terakhir, lebih dari 1.400 pemukim kembali memasuki kompleks Al-Aqsa. Polisi Israel memperpanjang jam kunjungan pada pagi dan sore hari sehingga para pemukim dapat berada lebih lama di dalam kawasan masjid.
Di lain pihak, pasukan Israel memperketat pembatasan terhadap umat Islam, terutama setiap Jumat. Aparat memasuki area sekitar Masjid Qibli dan Kubah Shakhrah saat khutbah berlangsung serta memperketat pemeriksaan di pintu-pintu masuk.
Pengamat menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menerapkan pembagian waktu dan ruang di Al-Aqsa bagi non-Muslim. Langkah itu dinilai bertentangan dengan status historis dan hukum Masjid Al-Aqsa. Karena itu, berbagai seruan terus mengajak warga Palestina memperkuat kehadiran di Al-Aqsa untuk menjaga identitas serta mencegah perubahan status quo di kawasan suci tersebut.








