Anak Gaza terus menjadi korban utama sejak aawl agresi genosida pada 7 Oktober 2023. Hingga hari ke-1.000, anak-anak Gaza menghadapi kematian, luka berat, dan krisis layanan kesehatan. Selain itu, mereka juga kehilangan akses terhadap perawatan medis akibat pembatasan yang Israel berlakukan.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sedikitnya 21.500 anak terbunuh, termasuk 1.022 bayi. Sementara itu, lebih dari 44.500 anak mengalami luka-luka dan sekitar 9.500 warga Palestina masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan bangunan. Selain itu, lebih dari 90 persen bangunan di Gaza rusak atau hancur.
Baca juga: “21.000 Anak Terbunuh selama 1.000 Hari Agresi Israel di Gaza”
Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) juga melaporkan lebih dari 11.000 anak mengalami cedera permanen. Sekitar 4.000 di antaranya harus menjalani amputasi dalam kondisi medis yang sangat terbatas.
Di Tepi Barat, pembatasan akses medis kembali merenggut nyawa seorang bayi Palestina berusia empat bulan. Ahmad Maarouf Zaid meninggal setelah pasukan Israel menahan keluarganya lebih dari satu jam di pos pemeriksaan saat hendak menuju rumah sakit. Menurut otoritas Palestina, tentara Israel juga menembakkan gas air mata sehingga ambulans dan kendaraan warga tidak dapat melintas.
Pemerintah Palestina menilai insiden tersebut mencerminkan kebijakan yang menghambat pergerakan pasien dan ambulans. Hingga April 2026, PBB mencatat sedikitnya 925 hambatan pergerakan di Tepi Barat, termasuk pos pemeriksaan dan gerbang militer yang membatasi akses warga terhadap layanan kesehatan.








