Umat Kristen di Al-Quds (Yerusalem) dan wilayah pendudukan kembali menghadapi peningkatan kekerasan selama April hingga Juni 2026. Laporan terbaru mencatat umat Kristen menjadi sasaran pelecehan, penyerangan, dan intimidasi di berbagai lokasi. Selain itu, mereka juga mengalami pembatasan dalam menjalankan ibadah di tempat-tempat suci. Hingga kini, umat Kristen terus menghadapi ancaman terhadap kebebasan beragama.
Pusat Data Kebebasan Beragama Israel (RFDC) mendokumentasikan 83 serangan dalam 76 insiden. Sebanyak 68 insiden terjadi di Al-Quds (Yerusalem), termasuk 46 di Kota Tua. Bentuk pelecehan yang paling sering terjadi adalah aksi meludah, yang mencapai 47 kasus atau lebih dari separuh seluruh insiden.
Baca juga: “Genosida Gaza Tinggalkan Puluhan Ribu Anak Yatim dan Janda”
Laporan itu juga mencatat sejumlah pelaku melakukan tindakan tersebut secara terbuka di ruang publik. Bahkan, beberapa orang tua mengajak anak-anak mereka meludah dan menghina rohaniwan Kristen. Selain itu, seorang biarawati dilaporkan mengalami serangan fisik di Gunung Sion, sementara seorang biarawan menjadi korban pelecehan verbal.
Insiden meningkat tajam saat peringatan Hari Yerusalem dan pawai bendera Israel. Menurut RFDC, aksi berkelompok mendorong meningkatnya tindakan intimidasi terhadap warga dan pemuka agama Kristen.
Sebelumnya, polisi Israel juga membatasi perayaan Paskah di Gereja Makam Kudus dan menghalangi Patriark Latin Al-Quds memasuki kawasan gereja. Berbagai gereja di dunia kembali menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya serangan terhadap komunitas Kristen serta tempat-tempat suci di Al-Quds dan wilayah Palestina.
Sumber: AA. MEMO








