Pasien ginjal di Gaza menghadapi ancaman kematian akibat krisis obat yang semakin parah. Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) memperingatkan sekitar 650 pasien ginjal terancam kehilangan akses pengobatan karena stok natrium bikarbonat hampir habis akibat blokade ketat. Selain itu, pasien ginjal kini menerima layanan dialisis yang semakin terbatas.
PCHR menyatakan rumah sakit terpaksa mengurangi durasi dan frekuensi cuci darah akibat kelangkaan natrium bikarbonat, bahan utama dalam cairan dialisis. Akibatnya, pasien berisiko mengalami komplikasi serius yang dapat berujung pada kematian.
Menurut PCHR, krisis tersebut bukan sekadar masalah kekurangan pasokan. Organisasi itu menilai kondisi ini merupakan bagian dari kebijakan yang melemahkan sistem layanan kesehatan melalui penghancuran fasilitas medis, pembunuhan tenaga kesehatan, serangan terhadap petugas medis, serta pembatasan masuknya obat-obatan.
Baca juga: “21.000 Anak Terbunuh selama 1.000 Hari Agresi Israel di Gaza”
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah melumpuhkan sebagian besar rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Gaza. Selain itu, blokade terhadap peralatan medis, suku cadang, dan bahan bakar semakin menghambat pelayanan kesehatan. PCHR mencatat lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan sebagian atau total.
PCHR mendesak masyarakat internasional untuk segera mengambil langkah nyata. Organisasi tersebut menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak hidup dan hak atas layanan kesehatan bagi warga Gaza merupakan kewajiban hukum dan kemanusiaan yang harus segera dipenuhi.
Sumber: Palinfo








