Abu Safiya, Direktur RS Kamal Adwan di Gaza utara, menghadapi kondisi kesehatan yang sangat kritis di tahanan Israel. Organisasi hak asasi manusia dan lembaga medis internasional mendesak Israel segera membebaskan Abu Safiya karena khawatir nyawanya terancam.
Pengacara Nasser Odeh mengunjungi Abu Safiya pada 2 Juli di fasilitas interogasi Rakefet, Penjara Nitzan. Setelah kunjungan itu, Odeh melaporkan kondisi Abu Safiya memburuk drastis. Ia menemukan luka di kepala, mata, telinga, dan leher. Selain itu, Abu Safiya mengalami kesulitan bernapas, sulit berbicara, serta tampak sangat lemah hingga beberapa kali hampir kehilangan kesadaran.
Baca juga: “650 Pasien Ginjal Gaza Terancam Mati, Stok Obat Dialisis Hampir Habis”
Israel menahan Abu Safiya sejak 27 Desember 2024 tanpa dakwaan maupun persidangan. Otoritas Israel memperpanjang penahanannya berdasarkan Undang-Undang Unlawful Combatants, meski tidak menunjukkan bukti yang mendukung tuduhan terhadapnya.
Sementara itu, organisasi Medical Aid for Palestinians (MAP) menilai Abu Safiya berada dalam bahaya yang mengancam jiwa. Direktur MAP, Steve Cutts, menyatakan Abu Safiya hanya menjalankan tugas sebagai dokter yang merawat pasien. Namun, ia justru mengalami pemukulan, penahanan berkepanjangan, serta dugaan penyiksaan.
MAP juga menegaskan bahwa kasus Abu Safiya mencerminkan pola perlakuan terhadap tawanan Palestina. Berbagai laporan menyebut tawanan menghadapi penyiksaan, pengabaian layanan kesehatan, dan penahanan tanpa proses hukum yang adil. Karena itu, organisasi hak asasi manusia kembali mendesak pembebasan Abu Safiya dan perlindungan bagi tenaga kesehatan Palestina yang masih ditahan Israel.
Sumber: MEMO








