Buku baru berjudul Survivors from the Darkness baru saja diterbitkan oleh penulis dan analis politik Palestina, Wesam Afifa. Buku yang penerbit India LeftWord Books terbitkan ini mengangkat pengalaman seorang jurnalis Palestina yang Israel tahan di penjara selama agresi di Gaza.
Masuk dalam kategori sastra kesaksian dan penjara (prison literature), Survivors from the Darkness mendokumentasikan secara rinci masa penahanan 20 bulan Osama–jurnalis yang Israel tangkap sejak Maret 2024 hingga Israel bebaskan pada Oktober 2025.
Selama periode tersebut, Osama berpindah-pindah ke berbagai pusat penahanan dan penjara Israel. Salah satu yang paling menjadi sorotan dalam buku ini adalah Kamp Tahanan “Sde Teiman”, yang ia gambarkan sebagai salah satu lokasi penahanan paling brutal dan tidak manusiawi sepanjang sejarah agresi Gaza.
Baca juga: “Seruan ke WHO: Selamatkan Tawanan Palestina dari Wabah Kudis”
Berdasarkan kesaksian langsung sang jurnalis, buku ini menyajikan kronologi mendalam mengenai kondisi mengerikan yang para tawanan Palestina hadapi. Mulai dari proses interogasi yang kejam, isolasi total, penghinaan verbal, hingga kekerasan fisik dan psikologis yang sistematis.
Sejarawan dan pemikir internasional terkemuka, Vijay Prashad, memberikan catatan penting dalam kata pengantar buku ini. Menurutnya, buku ini lahir bukan karena ambisi komersial, melainkan sebuah kewajiban sejarah.
“Ini adalah buku yang seharusnya tidak perlu ada sama sekali. Namun, buku ini akhirnya ditulis karena apa yang terjadi di sana benar-benar harus didokumentasikan,” tulis Vijay Prashad.
Vijay menegaskan bahwa karya ini tidak bertujuan sebagai sarana hiburan melainkan untuk merekam jejak pengalaman kemanusiaan yang nyata di tengah agresi yang terjadi di Gaza
Sementara itu, sang penulis, Wesam Afifa, menjelaskan bahwa buku ini tidak sekadar membahas penjara sebagai tempat fisik pembatasan ruang gerak. Lebih dari itu, penjara ia lihat sebagai ruang ujian bagi batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Lewat testimoni pribadi Osama, ia mengajak pembaca membuka jendela untuk memahami arti ruang martabat, harapan, dan cara bertahan hidup di bawah penindasan.
Karya ini menjadi buku baru pertama Afifa yang terbut dalam bahasa Inggris oleh penerbit internasional. Penerjemahan dilakukan oleh penyair dan penerjemah Palestina, Hosam al-Madhoun. Buku ini hadir sebagai upaya untuk melawan lupa, menjaga memori kolektif, dan mendokumentasikan kekejaman yang terjadi demi generasi masa mendatang.
Sumber: Palinfo








