Perempuan tawanan Palestina menghadapi kekerasan yang terus meningkat di penjara Israel, termasuk pengabaian medis, kelaparan, dan perlakuan tidak manusiawi. Kesaksian terbaru memperlihatkan kondisi mereka yang semakin memburuk akibat pelanggaran hak yang berulang.
Shahd Muhammad Adi, lulusan keperawatan berusia 23 tahun, menceritakan perlakuan yang ia alami sejak ditangkap pada Maret 2026. Petugas penjara memaksanya melepas jilbab saat cuaca sangat dingin. Selain itu, petugas menggerebek sel ketika para tawanan menjalankan salat malam. Mereka menutup mata para tawanan, memaksa mereka tiarap, lalu menyita mushaf Al-Qur’an.
Baca juga: “Hari Pengungsi Sedunia dan Penderitaan Pengungsi Palestina yang Tenggelam dalam Gejolak Timur Tengah”
Shahd menyebut penggerebekan pada 13 Mei sebagai aksi paling brutal. Petugas menggunakan granat kejut dan anjing pelacak. Mereka juga memukul tawanan, melontarkan hinaan, serta mengancam dengan senjata. Sementara itu, kualitas makanan terus menurun dan pakaian sangat terbatas. Akibatnya, banyak tawanan mengalami alergi dan penyakit kulit karena minimnya layanan kesehatan serta perlengkapan kebersihan.
Kantor Media Tawanan Palestina melaporkan terdapat 94 perempuan tawanan di Penjara Damon. Dua di antaranya sedang hamil dan menghadapi dugaan pengabaian medis. Selain itu, beberapa tawanan menderita kanker, hepatitis, serta penyakit kronis lainnya. Organisasi tersebut mendesak komunitas internasional segera bertindak untuk menghentikan pelanggaran terhadap perempuan tawanan dan menjamin hak mereka sesuai hukum humaniter internasional.
Sumber: Palinfo, Al-Mayadeen








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)